Robohnya Perpustakaan Kami

Robohnya Perpustakaan Kami

Senin, 29 January 2018 09:01   296

PERADABAN manusia berubah dan tumbuh sebagai dampak dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi akibat dari kemampuan belajar yang antara lain diperoleh melalui membaca. Ketika Nabi Muhammad SAW memohon kepada TuhanNya di Qua Hira’ Mekah agar masyarakat Arab pada saat ini menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat, Allah SWT justru memerintahkan kepadanya agar menjalankan misi keumatan yakni membangun kesadaran kolektif atau literasi membaca umat manusia; “Iqra’ ya Muhammad”. Membaca juga berdampak bagi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. 

Quraish Shihab mengutip hasil penelitian profesornya di Al-Azhar University tentang pengaruh buku yang dibaca menyimpulkan bahwa kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa dapat ditelusuri ke belakang, yakni 20 tahun sebelumnya mengenai buku yang dibaca masyarakatnya. Penelitian terbaru tentang pengaruh buku yang dibaca terhadap perubahan perilaku pembacanya jauh lebih cepat lagi, yakni cukup 5 tahun. 

Malcolm Gladwell (2013) dalam bukunya “The Tripping Point” menyampaikan hasil riset yang menyimpulkan bahwa “Di era Information Technology (IT), membaca melalui buku tetap lebih efektif dibanding membaca melalui IT”.

Fakta lain, sebanyak 60% dari penghuni penjara adalah orang yang hanya sedikit membaca, dan siswa gagal di sekolah karena tidak bisa membaca.

Membangun budaya gemar membaca dilakukan melalui penyediaan buku atau karya tulis dan perpustakaan, taman bacaan atau rumah baca. 

Robert B. Downs (2001) dalam bukunya”Books That Change The World” dan Andrew Taylor (2008) dalam bukunya “Buku-Buku yang Mengubah Dunia” mengatakan bahwa sepanjang sejarah, dapat kita temui bukti bertumpuk-tumpuk menunjukkan bahwa buku bukanlah benda yang remeh, jinak dan tidak berdaya, melainkan sebaliknya, buku seringkali adalah biang yang bersemangat dan hidup, berkuasa mengubah arah perkembangan peristiwa, kadang-kadang demi kebaikan dan kadang-kadang demi keburukan. 

Pada zaman apapun dan dimanapun, jika adi kuasa atau suatu pemerintah otoriter bermaksud untuk menindas golongan oposisi, mereka lakukan dengan cara menghancurkan pikiran yang tertulis pada buku. karya pikiran atau karya tulis, membakar perpustakaan, bahkan membunuh pengarangnya, mereka lakukan tanpa merasa berdosa atau bersalah. Bentuk penjajahan baru (neocolonialisme) dilakukan melalui buku dan bahan bacaan lainnya, baik yang tertulis di media cetak maupun media elektronik.

Greg Mortenson menulis dua buah buku, berjudul “Three Cups of Tea”, dan “Stones into Schools” yang isinya memberi informasi mengenai keberhasilan merubah perilaku masyarakat di pedalaman Afganistan dan Pakistan melalui buku, bukan senjata. Karena bernas (berkualitas) nya dua buku tersebut mengenai penaklukan bangsa melalui buku, maka semua tentara Amerika Serikat diwajibkan untuk membaca dua buku tersebut sebelum mereka dilepas ke medan perang.

Fernando Bacz (2013) dalam bukunya “Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa” menegaskan bahwa penghancuran sebuah peradaban atau bangsa dapat dilakukan melalui “Penghancuran Buku”. Oleh karena itu, buku dan karya tulis lainnya harus disimpan dan terjaga dengan baik di tempatnya, seperti penulis lihat sendiri di banyak perpustakaan di Cina dan Erofah.

Torsten Husen (1986) dalam bukunya “Masyarakat Belajar” mengatakan bahwa muara dari semua usaha pemberdayaan masyarakat apapun bentuk dan jenisnya adalah belajar dan literasi membaca. 

Jim Trelease (2008) dalam bukunya “Read-A Out Hanbook” menyatakan literasi membaca dilakukan menghadirkan melalui perpustakaan di banyak tempat sebagaimana dilakukan John Wood (2009) penulis buku “Room to Read”, ia menceritakan pengalamannya meninggalkan karier di Microsof demi membangun 7.000 perpustakaan desa di pelosok dunia, dan sukses membangun budaya gemar membaca masyarakat. 

Seorang wartawan, kolega penulis diundang mengunjungi perpustakaan di negara Amerika Serikat dan Eropa. Ia mengunjungi beberapa perpustakaan besar milik pribadi mantan kepala negara, seperti perpustakaan Jimmy Carter, Reagan, dan Bill Clinton. Pemimpin besar negara maju, setelah tidak menjadi presiden lagi (mantan presiden) aktivitasnya antara lain mendirikan perpustakaan dan sibuk membaca di perpustakaan miliknya. Seloroh teman, Sangat berbeda dengan mantan pemimpin di negeri ini, setelah tidak menjadi pemimpin, mereka membangun ruang karoke, lebih parah lagi menutup perpustakaan yang sangat diperlukan masyarakatnya. Penyakit apa ini?.

Kolega penulis melanjutkan perjalanannya ke Belanda. Di negeri Kincir Angin tersebut ia bersama banyak wisatawan mengunjungi sebuah perpustakaan ternama. Betapa kagum bercampur bangga setelah ia melihat sebuah buku yang tersimpan di sebuah lemari antik di pintu masuk gedung perpustakaan, menginformasikan tentang flora dan fauna di Kalimantan. Ternyata, sebuah buku memiliki nilai ekonomi atau gaya tarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu negeri. 

UU RI No.43/2007 tentang “Perpustakaan” telah mengatur pembudayaan gemar membaca melalui pengembangan dan pembangunan perpustakaan sebagai sumber belajar masyarakat berdasarkan asas; pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran,  dan kemitraan. Masyarakat berperan serta dalam pembentukan atau pendirian, penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan dan pengawasan perpustakaan, taman bacaan dan rumah baca. 

UU RI No. 23/Tahun 2014 tentang “Pemerintah Daerah”, implementasi dari UU RI tersebut ditetapkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 18/tahun 2016 tentang “Perangkat Daerah” dimana pada pasal 15 (4.q) ditegaskan bahwa perpustakaan merupakan urusan pemerintah wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.

Jauh sebelumnya, Gubernur Kalimantan Barat menetapkan sebuah Peraturan Gubernur No. 56/2009 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat. Anehnya Keputusan Mendagri dan diikuti oleh keputusan Gubernur Kalmantan Barat menutup perpustakaan daerah. 

Di era membangun dimana kedasaran kolektif literasi membaca ini sangat diperlukan, sistem kelembagaan dan manajemen perpustakaan semestinya diperkuat, bukan sebaliknya justru diperlemah, yakni melaksanakan kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang perpustakaan lainnya dirasakan cukup dikelola atau diurus setingkat UPT dinas daerah provinsi.

Memahami pentingnya perpustakaan dan sudah adanya payung hukum yang mengatur tentang perpustakaan daerah ini, maka akal sehat penulis tidak dapat memahami ditutupnya perpustakaan daerah oleh pemeritah. Masyarakat bertanya, kenapa perpustakaan yang sangat kami perlukan ini, ditutup atau sengaja dirobohkan?. Apakah karena dipandang tidak memenuhi persyaratan untuk dibentuk sebagai dinas provinsi sendiri sehingga dilakukan penggabungan urusan pemerintah provinsi yang memiliki kedekatan karakteristik urusan pemerintahan dan/atau keterkaitan antar penyelenggraan urusan pemerintahan atau tidak cukup anggaran untuk urusan perpustakaan?.  

Bapak Sutarmidji Wali Kota Pontianak dan selaku Ketua Alumni Untan, dalam sambutannya saat Wisuda Untan 25 Januari 2018 lalu mengatakan sekaligus memberi petunjuk bahwa kurang anggaran selalu dijadikan alasan untuk tidak melakukan kegiatan pembangunan, padahal tidak sesederhana itu, beliau menegaskan, jika pemerintah berkomitmen memajukan daerah ini keterbatasan anggaran dapat diatasi, yang penting pemerintah inovatif dan kreatif. Selama ini, banyak kesempatan terbuang begitu saja, akibat pemerintah yang kurang inovatif dan kreatif ini. masyarakat Kalimantan Barat berharap dimasa yang akan datang permasalahan yang ada di daerah ini segera dapat diselesaikan. (Penulis: Dosen FKIP UNTAN)

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019