ROB

ROB

Minggu, 12 June 2016 10:18   1

DALAM minggu ini, di banyak media muncul berita tentang ‘rob’ yang melanda Jakarta. Dikabarkan, sejumlah wilayah Jakarta Utara tergenang air laut yang disebabkan oleh ‘rob’. 

Kata ‘rob’ tidak ditemukan di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. 

Penggunaan kata ‘rob’ yang dalam bahasa Indonesia dewasa ini dimaknai sebagai ‘banjir yang disebabkan oleh air laut yang meluap ke daratan’ berasal dari bahasa Jawa. 

Mereka yang tinggal di pesisir utara Jawa Tengah menggunakan kata ‘rob’ untuk mewakili genangan air yang datang dari laut. Bagi mereka yang tinggal di pedalaman Jawa Tengah kata ‘rob’ digunakan sebagai padanan kata ‘banjir’ dalam bahasa tutur ‘krama’.

Dalam Kamus (Bausastra) bahasa Jawa (Poerdarminta, 1939) kata ‘rob’ (dari kata ‘êrob’, bahasa Jawa Kuna) berarti ‘agung’ (air yang menggenang); ‘banjir’; atau ‘lubèr’ (meluap). 

Rachmadin Ismail  dari detik.News (Selasa, 07 Jun 2016) menurunkan analisis BMKG tentang penyebab banjir rob di Jakarta Utara yang bersumber pada penjelasan Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S. Swarinoto.

Kejadian  rob minggu ini merupakan siklus rutin bulanan yang bersamaan dengan peristiwa anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia sebesar 15 – 20 cm. Akibatnya, di beberapa wilayah seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, dan Semarang dilanda rob-kenaikan permukaan air laut.

Mariah Measey, 2010, (Global Majority E-Journal, 1(1):31-45) meriviu emisi gas rumahkaca di Indonesia beserta dampaknya. Disebutkan bahwa emisi gas rumahkaca di Indonesia terbesar ketiga di dunia. Penyebab yang utama adalah deforesisasi, kebakaran hutan, dan degradasi lahan gambut.  

Dampak emisi rumahkaca ini adalah perubahan iklim di seluruh dunia. Akibat perubahan iklim dunia bagi Indonesia adalah kenaikan temperatur, curah hujan yang tinggi, kenaikan permukaan air laut, dan juga penurunan ketahanan pangan. Dengan perkataan lain, kenaikan permukaan air laut di Indonesia sekarang sebenrnya sudah diramalkan lima tahun yang lalu.  

Berdasarkan  berbagai sumber BBC, 25 Februari 2014, memperkirakan bahwa pada tahun 2050 ada sekitar 1500 pulau di Indonesia akan tenggelam karena kenaikan permukaan air laut. Penduduk yang bertempat tinggal sejauh 3 km dari garis pantai akan mengalami rob. Sebanyak 24 pulau yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Papua dan Riau telah ‘hilang’ tenggelam. 

‘Netherlands Commission for Environmental Assesment, Dutch Sustainability Unit’, 9 juli 2015, membuat profil perubahan iklim di Indonesia. Disebutkan ‘University of Notre Dame Global Adaptation Index (ND-GAIN)’ menempatkan Indonesia berada pada urutan ke-99 dari 178 negara (2013). Posisi itu menyatakan bahwa ancaman perubahan iklim dunia bagi Indonesia termasuk sedang. Tetapi, belum siap menghadapi dampak perubahan iklim dunia itu. Pernyataan ini, kiranya dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa rob dapat terjadi di pantai Jakarta minggu ini.

Universitas Hawaii di Manoa, 25 September 2015, memprediksi fenomena permukaan air laut di samudera Pasifik akan meningkat dua kali di masa mendatang. Disebutkan bahwa dampak fenomena El Nino di belahan selatan samudera Pasifik mengakibatkan pernurunan permukaan air laut sekitar 30-40 cm. Karena air mengalir ke arah barat laut maka permukaan air laut di wilayah Asia Tenggara naik. Fenomena ini juga dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena rob di Indonesia.

H. Sterling Burnett, dari ‘Climate Change Dispatch’, 28 Maret 2016, menyatakan bahwa perubahan iklim dunia tidak membuat baik permukaan air laut naik  maupun iklim menjadi tidak teratur. Pernyataan ini didasarkan pada laporan ‘The Permanent Service for Mean Sea Level (PSMSL)’, sebuah lembaga yang menyediakan informasi dan data jangka panjang tentang perubahan permukaan air laut seluruh dunia kecuali pantai Afrika dan pantai Amerika Latin. 

Albert Parker membandingkan data perubahan permukaan air laut antara periode 1900-1075 dan periode 1975-2016 di Eropa, Eurasia, Amerika Utara, serta kepulauan Pasifik dari PSMSL. Ditemukan bahwa perubahan permukaan air laut dalam kedua periode itu tidak berbeda secara signifikan. Ini, sebuah kabar baik, tentunya.

Namun demikian, jangan terlena dengan dengan temuan ini. Sebaiknya, tetap bersiap diri menyongsong dampak perubahan iklim itu, terutama mewasdai perubahan permukaan air laut di era pembangunan poros maritim a la Presiden Joko Widodo. Semoga!

Leo Sutrisno