Rita Irawati Priatna: Enterpreneur yang Sadar Perlunya Kemandirian Perfilman Indonesia

Rita Irawati Priatna: Enterpreneur yang Sadar Perlunya Kemandirian Perfilman Indonesia

  Selasa, 26 March 2019 17:20

Berita Terkait

Tak sedikit dari kalangan artis Tanah Air bakal maju memperebutkan kursi parlemen di Pemilu 2019. Sebut saja penyanyi sekaligus pemain sinetron Rere Regina, penyanyi Agustina H atau Tina Toon, serta artis Angel Karamoy.

Dari Sukabumi, seorang entrepreneur wanita bernama Rita Irawati Priatna juga maju ke gelanggang politik. Bersama sekian kandidat lain dari berbagai partai politik, Rita yang diusung dan mengusung Partai Berkarya datang untuk memperebutkan enam kursi DPR RI di daerah pemilihannya, Jabar 4. Dapil itu meliputi Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi.

Meski tergolong muda dalam usia, Rita yang berasal dari Kota Tasikmalaya itu bukan pemain baru di dunia hiburan. Usaha production house-nya pernah menggandeng Raffi Ahmad di Barometer Lite. Bersama Raffi pula Rita sempat membuat beberapa produksi, antara lain film televisi (FTV) ‘Mengejar Cinta Olga’, ‘Idolaku Gonzales’, serta FTV Komeng dan Putra Petir.

Tak ingin menjadi seorang medioker alias orang kepalang tanggung, Rita mencoba memasuki dunia film layar lebar. Ia termasuk senang menonton bioskop, dan senang pula melihat orang-orang sekeluarga melepas penat dan berhibur di bioskop. “Selalu ada kehangatan menyaksikan keluarga-keluarga berkumpul dan menonton bersama di bioskop,” kata Rita. Karenanya, manakala tahu di daerah pemilihannya--Kota dan Kabupaten Sukabumi, tak ada satu pun gedung bioskop, Rita tergerak untuk membangunnya di sana.

“Masak orang Sukabumi kalau ingin menonton film layar lebar harus jauh-jauh pergi ke Bogor?” kata dia, retoris.    

Di dunia layar lebar itulah Rita melalui rumah produksinya 181 Pictures memproduseri film ‘Move On’, yang tayang cukup lama di jaringan bioskop XXI. Tak hanya terjun ke dunia film layar lebar, Rita juga menggelar konser ‘Mahakarya 3 Composer’, yang melibatkan penyanyi papan atas nasional, yakni Afgan, Sammy Simorangkir dan Marcel.

Yang menarik, Rita melihat dunia show-biz tak hanya sebagai bisnis. “Ini ladang tempat saya memberikan pengabdian kepada masyarakat sekaligus menggemburkan batin saya untuk berbagi,” kata dia.  Jadi, baginya dunia hiburan adalah juga arena untuk berjuang.

Jalur politik kini menjadi medan perjuangan lain buat Rita. Lewat Partai Berkarya yang menaruhnya di nomor urut 1 daerah pemilihan Jawa Barat 4, Rita siap berkompetisi sehat menuju Senayan. Inilah mimpi lain yang lama bergolak di benaknya, mengabdi Indonesia melalui perjuangan politik.

Mungkin saja dunia politik merupakan rimba baru bagi Rita. Namun ia punya modal kuat: pantang menyerah.  ”Saya hadir untuk membangun Sukabumi, mewakafkan segala kemampuan yang saya miliki untuk berjuang bersama-sama masyarakat,”ujar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Berkarya itu.

Sebagaimana partainya yang fokus mengedepankan kemandirian sebagai tujuan utama perjuangan, Rita pun demikian. Rita yang memiliki basis keyakinan untuk memberantas ketidakadilan  dan korupsi itu yakin bisa memperjuangkan kemandirian perfilman nasional.

Ia melihat begitu banyak budaya bangsa tersia-sia karena insan film nasional sendiri memilih mengedepankan budaya konsumtif yang tidak khas Indonesia sebagai pilihan tema. Rita melihat tak banyak kearifan local mengemuka dalam cerita-cerita film kita.

Semua itu menjadikan film nasional pun ikut terasa sebagai karya elit yang tidak merakyat. “Jarang sekali film layar lebar yang dibuat berdasarkan apa yang hidup di masyarakat,” kata dia. “Saya ingin membuat film yang prosesnya menggerakkan dan melibatkan banyak masyarakat, yang nantinya juga bisa dinikmati oleh masyarakat.”

Film-film yang dibuat dengan komitmen seperti itu, kata Rita, pasti akan mengambil dan mengeksplorasi sebanyak mungkin kearifan lokal dan budaya masyarakat. “Bila film-film Hollywood bahkan mulai melirik kearifan lokal berbagai masyarakat tradisional dunia, mengapa kita yang punya banyak kearifan lokal dan budaya justru tak memanfaatkan momentum dilirik kembalinya budaya lokal ini?”

Rita jelas tak sekadar bertanya. Ia sudah punya tekad dan bukti memperjuangkannya.**

Berita Terkait