Rindu Pulang, Wajah Anak Terus Membayang

Rindu Pulang, Wajah Anak Terus Membayang

  Sabtu, 21 April 2018 07:53
Foto Ilustrasi; jawapos.com

Berita Terkait

Apa yang terjadi jika seseorang masuk penjara? Ruang gerak menjadi terbatas, apalagi harus terkurung bertahun-tahun lamanya. Menyesal atas kesalahan, tak bisa menghapus masa tahanan. Sesekali tangis terurai, mengingat keluarga yang dirindukan. Bagaimana kisahnya?

MARSITA RIANDINI, Pontianak

-----------------------

SIANG itu, D sedang bermain bersama anak semata wayangnya. Bayi laki-laki berusia enam bulan itu menjadi kekuatan bagi D setelah berpisah dengan suaminya. Keceriaan itu terusik, saat seorang teman lama D datang mengambil pesanan barang. Lima belas menit kemudian D terkejut, sejumlah pria berbadan tegap datang untuk menangkapnya. Bayi mungil itu menjadi saksi penangkapan ibunya yang terjaring kasus narkotika.

“Saya ditangkap usai teman saya mengambil pesanan narkotika kepada saya,” kenang D menyesal. 

Sesekali D terdiam sejenak, menahan air mata yang hampir jatuh saat bercerita proses awal dari pemakai hingga terjerumus sebagai pengedar. Bercerai dari suaminya, D memilih bekerja di dunia malam sebagai pendamping tamu di sebuah tempat karaoke. Bekerja dari jam tujuh malam hingga jam lima subuh,membuat badan D sering lelah. D butuh doping untuk menjaga staminanya tetap prima. D pun memilih mengonsumsi sabu. Dari hanya sekali sehari, hingga menjadi ketagihan.

”Saya kan bekerja di luar jam normal. Dari malam sampai pagi. Paginya sempat bekerja selingan. Awalnya doping stamina saja,” ucapnya yang divonis lima tahun satu bulan.

Tapi D tak menyangka, sabu yang diharapkan bisa menjaga stamina hanya mampu bertahan beberapa jam saja. Tubuhnya kembali lemah dan meminta sabu agar kembali berdaya. Uang terus mengalir untuk membeli sabu dan ineks dengan harga yang tidak murah.

D memilih menjadi pengedar. Tak sulit baginya mencari pelanggan. Teman-teman di sekelilingnya banyak yang menjadi pemakai. “Keuntungannya bisa saya gunakan untuk beli narkoba, dan modalnya saya putarkan lagi,” kata dia yang mengaku mengedar dalam skala kecil saja.

Keuntungan yang menggiurkan menjadi alasan D mengedarkan narkoba. Dari satu gram sabu dengan harga saat itu sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per gram, ia bisa memperoleh keuntungan dua kali lipat bahkan lebih. “Saya jualnya skala kecil. Tidak per gram, melainkan per titik (paket kecil),” katanya.

Satu gram bisa dibuat jadi sembilan sampai 10 titik tergantung penjual. Satu titik dijual dari harga Rp110 hingga Rp120 ribu. D pernah menjual lima gram sabu tidak sampai satu minggu habis. “Paling kecil keuntungannya itu satu jutaan untuk satu gram,” katanya.

D bercerita sempat berhenti beberapa bulan menjadi pengedar. Niatnya membantu teman, berujung pada jeruji besi. “Sebenarnya saya sudah lama tidak menjual. Saat itu saya bantu teman. Saya menolak. Tapi dia butuh benar. Setelah saya ambil, besoknya teman saya datang mengambil. 15 menit dia datang, dan ambil pesanan, polisi pun datang menangkap saya,” ungkapnya.

Sejak di tahan di lapas, orang tua maupun adik dan anak D tidak pernah menjenguk. Sengaja ia lakukan, agar tidak membebani orang tua yang kini merawat buat hatinya. Ia juga tak ingin anaknya menjenguk. “Orang tua saya syok. Mereka baru tahu saya ditangkap satu bulan setelah saya ditahan di Poltabes. Anak saya saat itu dititipkan dengan sahabat saya,” jelasnya.

D mengaku menyesal. Setiap hari ia terus bermunajat pada Tuhan, meminta diampunkan dosanya. Kelak, ia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Ceritanya sempat tersendat, ketika mengenang anaknya yang kini berusia dua tahun lebih. “Saya hanya bisa  mengenang hari ulang tahun anak saya, orang tua dan adik saya,” jelasnya.

Satu pembelajaran berharga yang didapat D. Sejak di tahan, tidak ada satu pun temannya datang menjenguk. Padahal sebelumnya, ia memiliki banyak teman dalam suka. Hanya keluarga inti yang tahu ia dipenjara. Sementara keluarga besarnya yang lain mengetahui kalau D bekerja di Malaysia.

Berbeda kasus dengan D, K divonis delapan tahun penjara karena kasus korupsi. Selama dipenjara, ia tidak pernah bertemu keluarga, termasuk kelima anaknya. K hanya bisa menyaksikan hilir mudik keluarga yang mengunjungi narapidana lain. “Tidak ada, saya hanya berkomunikasi dengan kuasa hukum saya,” ujar wanita yang sempat ingin mencalonkan diri menjadi wali kota ini.

Wanita asal Sulawesi Selatan itu mengaku tidak begitu sulit menyesuaikan diri di lingkungan Lapas. Namun, paling berat kata dia ketika mengingat momen bersama keluarga. “Kalau natal itu ingat keluarga. Itu saja. Tapi jalani saja, sedih pasti ada,” ungkapnya.

Di penjara, K menghabiskan waktu bercengkrama dengan penghuni lapas lainnya. Dia bersyukur, meski bukan warga Kalbar, perlakuan sesama narapidana tidak saling membedakan. “Bersyukur, mereka tidak membedakan saya ini orang luar,” katanya.

Mulanya K di vonis lima tahun penjara, saat proses banding dan kasasi, hukumannya menjadi bertambah. “Saya  banyak mengambil pembelajaran dari kejadian ini,” pungkasnya. (*)

 

Berita Terkait