Rhadika, Jalani Operasi Pembuatan Lubang Pencernaan Sejak Lahir Buang Air Besar Lewat Perut

Rhadika, Jalani Operasi Pembuatan Lubang Pencernaan Sejak Lahir Buang Air Besar Lewat Perut

  Kamis, 21 March 2019 09:57
KOLOSTOMI: Sejak usia tiga bulan, Rhadika menjalani operasi kolostomi, yakni pembuatan lubang buatan untuk saluran pencernaan. ISTIMEWA

Berita Terkait

Hampir empat tahun, Rhadika Dimas Anggara buang air besar tidak melalui anus melainkan lewat lubang buatan di sekitar perut. Kondisi ini menyulitkan baginya. Hari-hari bertemankan kantong plastik yang menempel sebagai tempat menampung kotoran.

MARSITA RIANDINI, Pontianak 

TAHUN ini, usia Rhadika akan menginjak empat tahun. Tak seperti kebanyakan anak seusianya, Rhadika harus buang air besar (BAB) atau feses melalui lubang buatan. Rhadika harus menjalani tindakan medis lanjutan untuk menutup lubang buatan tersebut, dan mengembalikan fungsi organ pencernaannya. Namun, keluarganya terkendala biaya dan membutuhkan bantuan donatur. 

Sejak lahir, anak kedua dari dua bersaudara ini kesulitan BAB. Orang tuanya pun gundah. Rhadika tidak bisa BAB berhari-hari. Dari hasil pemeriksaan dokter, warga Dusun Sebuduh Luar, Kembayan Kabupaten Sanggau ini harus menjalani operasi kolostomi. Yakni, pembuatan lubang buatan pada saluran pencernaan untuk membuang kotoran. 

Tak ada pilihan. Orang tuanya menyanggupi. Usia tiga bulan, Rhadika menjalani operasi kolostomi di Rumah Sakit St. Antonius. “Sejak itu dia sudah bisa buang air besar. Tetapi dari lubang buatan yang di perut,” kata Astin, Ibu Radika. 

Tak ada keluhan berarti yang dialami Rhadika. Jika sudah kenyang, kotoran akan keluar sendiri melalui lubang buatan itu. Astin harus telaten mengurusi anaknya. Setiap harinya, Astin rutin mengganti kantong plastik yang direkatkan di lubang buatan bagian perut Rhadika. Perekatnya menggunakan double tape. Ini dilakukan agar kotoran yang keluar langsung tertampung di kantong plastik yang biasa digunakan untuk es batu itu. Setiap harinya, Astin mengganti plastik empat hingga lima kali dan rajin membersihkannya. 

“Harus diganti terus kan kalau sudah BAB. Malam juga gitu,” kata wanita 36 tahun ini. 

Usia Rhadika semakin bertambah. Geraknya pun semakin aktif. Sudah waktunya Rhadika menjalani tindakan medis untuk mengembalikan fungsi pencernaan dan anusnya. Menutup kembali lubang buatan tersebut, dan Rhadika bisa buang air besar di tempat yang seharusnya. 

Beberapa waktu lalu, Astin harus menerima ujian berat dalam hidupnya. Sang suami mengalami musibah dan meninggal dunia. Tinggallah Astin seorang diri. Membanting tulang memenuhi kebutuhan dua orang anak dan ibunya.

Tidak mudah bagi wanita yang bekerja menoreh  ini. Tidak hanya harus mencari uang untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga biaya pengobatan sang buah hati. “Iya, waktu sejak tahu alami masalah di ususnya, kata dokter belum bisa dilakukan operasi agar bisa BAB. Hanya dilakukan kolostomi. Sebenarnya usia dua tahun sudah bisa dilakukan tindakan operasi lanjutan. Tetapi saya takut, dan menunggu usia anak saya hampir empat tahun,” katanya. 

Radika membutuhkan uluran tangan para donatur untuk mengembalikan fungsi organ pencernaannya. “Tentunya saya berharap ada bantuan agar anak saya bisa BAB secara normal,” ujar Astin penuh harap. (*) 

Berita Terkait