Resah Biaya Tambahan

Resah Biaya Tambahan

  Jumat, 30 September 2016 09:59
PULANG: Seorang jemaah haji digendong dari kursi roda saat tiba di Asrama Haji Pontianak kemarin. Jemaah haji asal Kota Singkawang tiba lebih dulu dan langsung berangkat ke Singkawang. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK — Jemaah haji asal Kota Pontianak terkena biaya tambahan sepulang menunaikan ibadah haji. Pungutan ini terjadi di Asrama Haji Batam. 

“Biaya yang diminta Rp50 ribu. Bukan soal jumlahnya, kami bingung, mengapa masih ada pungutan di Asrama Haji Batam. Padahal sebelum berangkat kami sudah membayar biaya lokal dan lainnya,” ujar Edi, jemaah haji Kota Pontianak langsung dari Mekah kepada Pontianak Post via seluler, Kamis (29/9). 

Edi menjelaskan informasi diterima rombongannya langsung dari panitia haji yang berada di Batam. Mereka pun berusaha mencari peruntukan pungutan tersebut kepada pimpinan kloter. Tetapi pimpinan meminta mereka mendengar penjelasan langsung dari panitia saat tiba di Batam. 

“Apakah hanya jemaah dari Kota Pontianak yang dipungut atau seluruh jemaah?” tanya Edi.

Jika dilihat secara perorang, uang sebesar Rp50 ribu relatif tak besar. Tetapi, kata Edi, jika dihitung jumlah dari keseluruhan jemaah dari Kota Pontianak, jumlahnya relatif besar. “Kalau dari semua jemaah, totalnya bisa Rp22 juta,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, Kasi Penyelenggara Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak, Ernan membenarkan adanya biaya tambahan sebesar Rp50 ribu bagi jemaah haji Kota Pontianak saat di Asrama Haji Batam. Kendati demikian, ia menegaskan pungutan itu bukan dari Kementerian Agama Provinsi Kalbar maupun Kota Pontianak. 

“Bukan Kanwil Agama Kalbar ataupun Kemenag Kota Pontianak yang meminta, melainkan diminta oleh pengelola asrama haji embarkasi Batam,” jelas Ernan, kemarin. 

Ernan menyatakan Kementerian Agama Kota Pontianak tak akan berani memungut biaya apapun tanpa ada surat resmi ataupun edaran dari Kanwil Kementerian Agama maupun Pemprov Kalbar. 

“Jangankan Rp50 ribu, Rp1 pun saya tak berani mengambil dari jemaah haji, jika tak ada landasannya,” tegasnya.

Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Mahmudah menyatakan jika tambahan biaya Rp50 ribu yang dibebankan ke jemaah asal Pontianak itu di luar kewenangan pemerintah provinsi. 

Menurutnya, para jemaah tidak dikenakan biaya tambahan lagi setelah biaya lokal yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Kalimantan Barat. 

“Tambahan itu dari embarkasi Batam bukan dari kami,” jelas Mahmudah saat dikonfirmasi wartawan koran ini sore kemarin. 

Dia menyebutkan jika penambahan biaya itu bukan kali ini saja. Penambahan ini sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir. 

“Tahun lalu juga ada penambahan,” kata dia.

Penambahan itu, jelas dia, tertuang dalam surat dari Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam. Surat bernomor B/203/A4/I/2016 perihal akomodasi haji fase pemulangan.

Di dalam surat itu dijelaskan jika operasional untuk asrama haji dilakukan secara mandiri dan diperlukan biaya yang sangat besar. Kemudian fase pemulangan jemaah haji embarkasi batam yang menginap sejak tahun 2001 hingga sekarang tidak dibebankan biaya. 

Atas pertimbangan itulah untuk menutupi biaya operasional dan meningkatkan pelayanan gedung asrama haji, maka jemaah haji embarkasi Batam dikenakan tambahan biaya sebesar Rp50 ribu. Hal itu dimasukkan dalam surat perjanjian kerja sama pekerjaan jasa akomodasi jemaah haji setiap tahun anggaran.

“Jadi bukan Panitia penyelenggara haji daerah Kalbar yang menentukan. Tetapi dari pihak otorita batam yang sekarang namanya Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Dan Kawasan Pelabuhan Bebas Batam,” jelas Mahmudah. 

Mahmudah menjelaskan jika tambahan biaya itu sudah disampaikan oleh panitia penyelenggara ibadah haji embarkasi batam saat rakor evaluasi haji Februari 2016 lalu 

“Pemerintah kabupaten/kota dan kantor kementerian agama kabupaten/ kota se Kalbar hadir. Sudah minta agar menyampaikan ke jemaah calon haji masing-masing. Mungkin ada yang lupa menyampaikan sehingga jemaah haji ada yang tidak tahu dan bertanya-tanya,” jelasnya. 

Sementara itu jemaah asal Pontianak mempertanyakan adanya biaya tambahan sepulang menunaikan ibadah haji. Pungutan sebesar Rp50 ribu itu dibebankan setelah jemaah tiba di Asrama Haji Batam. 

Hal itupun dipertanyakan lantaran jemaah merasa sudah melunaskan biaya lokal yang diperuntukkan pelaksanaan haji tahun ini. 

Sementara itu, enghindari overload, Petugas Persiapan Pemulangan Barang Jemaah Haji dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah (PPID) Kalbar, jauh hari sudah menyiapkan air zam-zam. 

Rabu sore, sebanyak 444 paket air zam-zam sudah tersusun rapi sesuai asal kabupaten/kota di aula Asrama Haji Kalbar, Pontianak. Sebanyak 444 paket yang siap dibagikan kepada jemaah haji kolter 11 yang dijadwalkan tiba hari ini.

Petugas (PPIHD) Kalbar Rusli mengatakan, masing-masing jemaah akan mendapatkan satu paket air zam-zam masing-masing lima liter. Sebanyak 444 paket air zam-zam ini, untuk Kloter 11 akan dibagikan kepada jemaah haji sebanyak 438 jemaah, 1 TPHD dan lima petugas pendamping. 

Rusli mengungkapkan, air zam-zam sengaja didatangkan lebih awal dari kepulangan jemaah haji, untuk menghindari overload barang bawaan saat pulang ke tanah air. 

“Ini sudah berjalan dua tahun terakhir. Ini dilakukan supaya jemaah lebih ringan. Biasanya jemaah kerap membawa air zam-zam sendiri. Alhamdulilah sekarang, air zam-zam bisa didatangkan lebih awal, dan beban jemaah sedikit ringan,” sebut Rusli. (uni/mse/gus)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait