Rela Tak Mudik, Siaga 24 Jam Demi Layanan Maksimal

Rela Tak Mudik, Siaga 24 Jam Demi Layanan Maksimal

  Jumat, 7 June 2019 09:51

Berita Terkait

Tidak semua orang bisa merayakan Lebaran dengan berkumpul bersama keluarga tercinta. Tanggung jawab pada tugas menjadi alasannya. Menahan rasa rindu demi kelancaran arus mudik.

===========

TAHUN ini menjadi tahun ketiga bagi Nila Novita Sari harus menahan rindu bertemu keluarga saat Lebaran. Dia tidak bisa pulang kampung. Tanggung jawab pekerjaan sebagai personel air traffic control (ATC) di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta membuatnya harus stand by.

Sebelum ditempatkan di ATC Soekarno-Hatta sejak Februari 2018, Nila bertugas di Tanjung Pandan, Bangka Belitung. Saat mulai bekerja di Bangka Belitung, perempuan 26 tahun dengan satu anak itu sudah harus membiasakan diri untuk siap bertugas saat orang lain berbondong-bondong mudik di masa Lebaran. “Sedih sih denger takbiran. Biasanya kumpul di kampung sama keluarga, ini hanya bisa mendengar takbiran dari tempat kerja,” tutur Nila.

Awalnya memang berat untuk tidak berkumpul bersama keluarga saat hari raya. Namun, dukungan penuh dari orang tua agar lebih mementingkan profesionalitas kerja membuat Nila lebih kuat. Setidaknya bisa menahan kangen berkumpul di tengah-tengah keluarga. “Keluarga sudah tahu dengan risiko pekerjaan saya dan mau mengerti. Saya jadi lebih lega kalau keluarga tidak keberatan,” ungkap perempuan kelahiran Medan tersebut.

Saat masa Lebaran, kata Nila, pekerjaan relatif lebih berat dari biasanya. Sebab, jadwal penerbangan lebih banyak jika dibandingkan dengan hari biasa. “Traffic lebih ramai karena schedule penerbangan pasti bertambah saat Lebaran,” ujar Nila.

Saat Lebaran, sif kerja personel ATC pun tak berubah. Yakni, 4 jam kerja dan 2 jam istirahat. Nila selalu mengatur jadwal sifnya agar pada saat Hari Raya Idul Fitri tak kebagian tugas pagi. Dengan begitu, dia bisa pergi melaksanakan salat Id.

Personel ATC yang tetap masuk saat Lebaran seperti Nila biasanya baru bisa mengambil jatah cuti saat peak season Lebaran sudah lewat. Misalnya, H+7 Lebaran. “Sudah biasa seminggu setelah Lebaran baru pulang. Atau, kadang saat saya dan suami tidak bisa pulang kampung, orang tua kami yang berkunjung ke Jakarta supaya bisa berkumpul bersama,” urainya.

Lebaran kali ini Nila kembali harus menunda keinginan berkumpul bersama keluarga. Demi menjalankan tanggung jawab tugas, Nila sementara akan berlebaran di Jakarta bersama sang suami yang punya kampung halaman di Makassar. “Dinikmati saja, toh nanti cuti Lebaran akan terus di-rolling. Ada saatnya nanti saya bisa pulang saat Lebaran. Yang utama adalah menjalankan tanggung jawab pekerjaan,” ucapnya.

***

Si Komo Siap di Tol
(Tim Rescue Jasa Marga)

DI sebuah mes dekat gerbang tol Tambun, Bekasi, bersarang si Komo, truk besar dengan kekuatan mesin 15.000 cc. Komo adalah panggilan akrab yang diberikan para “pawang”. Yakni tim rescue Jasa Marga wilayah Jakarta-Bandung.

Didik Kaharto, 42, merupakan leader tim rescue Jasa Marga. Dia dan empat anak buahnya berjaga 24 jam di pos. Siaga jika tiba-tiba ada yang membutuhkan bantuan. Jika ada kecelakaan di tol, Didik dan timnya harus segera menggeber si Komo sampai ke TKP.

Tim Rescue Jasa Marga punya peranan penting untuk memastikan kecelakaan di jalan tol cepat ditangani. (Imam Husein/Jawa Pos)

“Sebenarnya untuk reguler wajib tiga orang petugas. Karena ini arus mudik, disiagakan lima orang,” kata Didik sambil memasang topi dan seragam merah bertulisan Jasa Marga Rescue Minggu (2/6).

Didik dan tim rescue Jasa Marga menghabiskan banyak waktu selama Ramadan di mes. Mulai sahur hingga berbuka. Memang, ada beberapa hari untuk libur. Namun, tanggung jawab tidak bisa lepas begitu saja. Apalagi bagi seorang leader. “Kadang waktu kita libur pun, waktu bareng keluarga, dipanggil untuk rescue,” jelasnya.

Sore itu Didik dan dua anggota timnya, Randy Nugraha dan Yanto Indu Fauzi, mempersiapkan diri melakukan patroli singkat. Syukur, sejak mudik hari pertama sampai H-3 Lebaran, tidak ada laporan kecelakaan di jalan tol Jakarta Cikampek dan Cipularang. Tapi lumayan untuk “memanasi” mesin si Komo.

Selain si Komo, ada armada pendukung rescue Jasa Marga lainnya. Ada kendaraan rescue kecil berisi alat-alat penyelamat, buldoser untuk menyapu longsor, beberapa kendaraan derek kecil, dan gerobak tarik serbaguna untuk mengangkut genset atau benda lain yang dibutuhkan di lapangan.

Besarnya si Komo baru terlihat saat ia keluar dari garasi. Dengan 4 roda di depan dan 8 roda belakang, Randy harus hati-hati mengeluarkannya dari mes. Lebih panjang daripada bus. Untuk berputar saja, si Komo menghabiskan tiga lajur di depan GT Tambun.

Sore itu jalan tol Jakarta Cikampek sepi. Truk tidak tampak karena sudah dilarang melintas. Hanya bus dan kendaraan kecil yang melesat di lajur yang lengang. Sementara itu, Komo hanya bisa merayap dengan kecepatan maksimal 90 kilometer per jam. Randy melajukan Komo dengan kecepatan 60 sampai 80 km per jam saja. Irit BBM. “Jangan salah, ini BBM-nya habis banyak. Satu liter untuk 1 kilometer. Kadang nggak sampai,” ungkap Randy.

Komo beserta para anggota tim rescue punya wilayah tanggung jawab di Jakarta-Cikampek dan jalan tol Cipularang-Purbaleunyi sampai ke Bandung. Jika terjadi kecelakaan di ruas-ruas tol tersebut, tim rescue dan si Komo harus siap meluncur.

Meski Jasa Marga punya armada rescue pendukung, tim Komo bisa 100 persen beroperasi mandiri. Komo punya genset sendiri untuk membantu kelistrikan. Punya kompresor spesialis ban truk dan bus. Punya tangki pemadam kebakaran dengan kapasitas 1.000 liter. “Bisa juga dibuat wudu atau mandi,” kata Yanto, lantas tertawa.

Tapi, itu cuma alat-alat pendukung. Tugas utama Komo adalah evakuasi kendaraan berat yang tidak bisa dilakukan mobil derek biasa. Nah, untuk tugas itu, Komo dilengkapi sebuah crane dengan empat sling. Dua sling besar dengan kekuatan angkat hingga 20 ton dan dua sling kecil dengan daya angkat 8 ton. “Kalau kekuatan derek (menarik), bisa sampai 110 ton,” jelas Randy. Artinya, si Komo bisa menarik pesawat Boeing 737!

Didik menuturkan, tim rescue harus dibekali kemampuan yang mumpuni untuk mengoperasikan crane tersebut. Kadang posisi kendaraan melintang di jalan tol. Tim rescue harus berpacu dengan waktu untuk bekerja secepat mungkin agar kemacetan tidak semakin parah. Tapi, itu tidak bisa sembarangan. Posisi kendaraan harus diperhatikan. Cara mengikat dan menariknya juga butuh ketelitian. “Seperti mengevakuasi kontainer, kalau tidak cermat, peti kemasnya bisa ngguling, tambah runyam,” tuturnya.

Jika ada korban yang terjepit di dalam kendaraan, tim rescue punya seperangkat alat penyelamat. Ada gunting metal hidrolis untuk memotong badan kendaraan, ada dongkrak hidrolis, cutter, dongkel, dan perekah hidrolis. “Biasanya, kalau menabrak, penumpang yang di depan terjepit. Kami rekahkan dasbor untuk membebaskan korban,” jelas Yanto.

Di Jabodetabek, hanya ada dua Komo. Yang terbaru ngepos di Tambun itu. Satu lagi di Jagorawi. Meski begitu, kata Didik, kadang BUJT jalan tol yang lain minta bantuan ketika derek mereka terlampau kecil untuk menarik truk yang terguling.

Lantaran badannya yang besar, Komo memang berjalan lamban dan boros. Ia tak mau diberi makan bensin atau pertalite. Harus pertamina dex. Dex lite saja tidak mau. Tapi, itu sepadan dengan kekuatan dan fleksibilitasnya. Didik merasakan sendiri bagaimana menderek roda kendaraan puluhan kilometer melewati tol Cipularang. Tapi, bagaimana kalau si Komo sendiri yang macet? “Nah, itu repot,” seru Randy.

***

Tidak Hanya Siaga saat Mudik
(Achmad Yurianto, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes)

MUDIK tidak melulu bicara transportasi. Persoalan kesehatan juga penting. Karena itu, Kemenkes punya kewajiban untuk menjaga kondusivitas angkutan Lebaran. Nah, bagian yang selalu siaga adalah pusat krisis kesehatan.

Sebagai kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Achmad Yurianto harus siaga 24 jam. Sebenarnya tidak hanya saat mudik saja. Tapi setiap hari. “Memang tugas pusat krisis,” ungkapnya Senin (3/6).

Achmad Yurianto memastikan tim kesehatan siap untuk melancarkan arus mudik. (Achmad Yurianto for Jawa Pos)

Yurianto bertugas memastikan seluruh sistem yang disepakati berjalan dengan baik. Di tangannya selalu tergenggam handphone untuk melihat kondisi di lapangan. Termasuk info kecelakaan yang bisa terjadi setiap menit di musim angkutan Lebaran. “Kami sudah membangun sistem dan semua sudah berjalan,” ucapnya.

Pusat krisis kesehatan juga bekerja sama dengan korlantas. Di lapangan, mereka saling membantu. Terutama saat ada kecelakaan lalu lintas. “Setiap hari saya akses produk laporan yang sudah disajikan dalam infografis,” tuturnya.

Menurut laporan, pada H-3 terjadi 64 kecelakaan. Sementara itu, penyakit terbanyak yang tercatat di pos kesehatan adalah infeksi saluran pernapasan atas (ispa). Mencapai 828 orang.

Tugas untuk selalu stand by itu dipahami anak dan istri Yurianto. Meski demikian, dia tetap mengutamakan keluarga. Dia menerapkan koordinasi yang baik hingga tingkat posko kesehatan. Seluruh kegiatan dilaporkan. Dengan begitu, dia bisa memantau setiap waktu.

Tentu banyak pengalaman yang dimiliki Yurianto. Yang paling diingat adalah kejadian macet parah di exit toll Brebes Timur. Pria yang mulai menduduki jabatan kepala Pusat Krisis Kesehatan November 2014 itu berpikir bagaimana bisa mengakses pemudik sakit yang terjebak di kemacetan.

Menurut Yurianto, sebenarnya petugas medis siap membantu. Sayang, mereka tidak bisa menuju kemacetan. “Insiden Brexit (Brebes Exit Timur, Red) itu kegagalan komunikasi risiko,” ungkapnya.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes tidak hanya bekerja saat mudik. Pada kejadian bencana dan kejadian krisis lainnya, mereka juga turun. Termasuk Yurianto. Misalnya saat gempa dan tsunami di Palu beberapa waktu lalu.

Editor : Dhimas Ginanjar/Jawa Pos

Reporter : agf/tau/lyn/c9/c10/fal

Berita Terkait