Rela Pulang dari Rantau Demi Penuhi Panggilan

Rela Pulang dari Rantau Demi Penuhi Panggilan

  Selasa, 19 February 2019 09:27
TATUNG CEWEK: Empat bersaudara Susan, Monica, A Cin, dan Susian turut memeriahkan Cap Go Meh di Kota Singkawang. Setiap tahun mereka rela menjadi tatung demi panggilan leluhur. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tatung Perempuan Empat Bersaudara Meriahkan Cap Go Meh

Hiruk pikuk tabuhan genderang telah berbunyi sebelum pagi datang. Aroma dupa menyeruak hingga keluar ruang. Empat wanita cantik tengah bersiap dengan baju kebesaran. Mereka bersiap meneruskan tradisi moyang. 

SHANDO SAFELA, Singkawang

RATUSAN orang telah berkumpul di Pekong Cetya Tho Fab di Jalan Pulau Belitung sejak subuh. Para penabuh genderang yang sudah berkemas-kemas. Mereka mengenakan seragam hitam bermotif naga. Para pengangkat tandu tak kalah gagahnya. 

Tujuh tatung siap ditandu untuk melakukan ritual bersih jalan. Ada yang menarik dari rombongan ini. Empat di antara tujuh tatung itu adalah perempuan. Keempatnya merupakan saudara kandung dari ayah bernama A Kong dan ibu bernama Cia Meaw Ngo. 

Keluarga A Kong merupakan keluarga besar tatung. Di usia 18 tahun, A Kong telah bertransformasi menjadi seorang tatung. 'Bakat' A Kong pun menurun kepada anak-anaknya. Tujuh dari 14 anaknya menjadi tatung sejak usia muda. Sementara sang ibu kerap menemani dan memberi suport kepada suami dan anak-anaknya. Terutama kepada yang perempuan. 

Empat tatung perempuan tersebut bernama Monica, A Cin, Susian dan Susan. Keempatnya mempunyai latar belakang yang berbeda. Monica dan Susian tinggal di Kota Singkawang, A Cin tinggal di Hongkong dan Susan tinggal di Singapura. Mereka hanya berkumpul setahun sekali saat perayaan Cap Go Meh.

A Cin baru saja tiba di Singkawang. Perempuan berusia 35 tahun ini, meninggalkan sejenak rutinitas kehidupannya. A Cin merupakan pekerja bagian administrasi di salah satu kantor di Hongkong. Untuk sementara waktu, A Cin meninggalkan anak dan suaminya.

A Cin telah menjadi tatung selama delapan tahun berturut-turut. Dia merasa beruntung, suaminya sangat pengertian dan mendukungnya. Delapan tahun terakhir pula, setiap perayaan Cap Go Meh, A Cin pulang ke Singkawang. 

"Kepulangan saya ke Indonesia karena panggilan hati. Selain karena alasan saya seorang tatung, saya juga ingin mempromosikan budaya Cap Go Meh ini di Hongkong. Suami mendukung saya untuk menjadi tatung setiap tahun. Bahkan, beberapa tahun lalu dia pernah ikut ke Indonesia, dan ikut saya ke Singkawang," kata A Cin, sehari sebelum melakukan prosesi Cap Go Meh.

A Cin juga bertutur tentang populernya Kota Singkawang di Hongkong dan China. Menurutnya, warga Hongkong dan China, mengenal Indonesia hanya dari Bali dan Singkawang saja. Setiap tahun, wisatawan dari Hongkong dan China, kerap datang ke Singkawang untuk melihat meriahnya perayaan Cap Go Meh.

Kisah A Cin berbeda dengan adiknya, Susan. Susan tiba dari Singapura minggu lalu. Dia tinggal sejak kecil di negeri singa tersebut. Susan pulang karena tubuhnya sudah kerasukan Dewa Naga Laut, yang "memaksanya" untuk pulang ke Singkawang. Ia terpaksa meninggalkan suami dan anaknya selama beberapa hari. Susan sudah tak fasih lagi berbahasa Indonesia. Kini ia lebih aktif berbahasa Inggris. Di Singapura, Susan sehari-hari bekerja sebagai pedagang online. 

"Tubuh saya tak dapat menolak saat kerasukan. Keluarga dari suami saya bahkan menganggap saya gila. Saya akhirnya terpaksa pulang untuk memenuhi panggilan sebagai tatung," tutur Susan didampingi ketiga kakaknya saat menyiapkan peralatan. Hari ini, keempat bersaudara ini akan turut memeriahkan perayaan Cap Go Meh di Singkawang.*

Berita Terkait