Rektor IAIN Pontianak Diperiksa KPK

Rektor IAIN Pontianak Diperiksa KPK

  Selasa, 18 June 2019 09:22
DIPERIKSA: Rektor Institut Agama Islam negeri (IAIN) Pontianak, Syarif berjalan keluar Gedung KPK, Jakarta, Senin (17/6) usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk kasus tersangka Romy. FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Berita Terkait

* Jadi Saksi Kasus Romy

* Syarif Sebut Tak Pernah Dimintai Uang

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Kali ini lembaga antirasuah mendalami indikasi praktik suap dalam pengisian jabatan rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Ada sejumlah akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak yang diperiksa, Senin (17/6).

Mereka adalah Syarif (rektor), Hermansyah (wakil rektor), dan Wajidi Sayadi (dosen). Total ada tujuh akademisi PTKIN yang dipanggil. Mereka dimintai keterangan untuk kasus yang menjerat tersangka Rohmahurmuzy alias Romy. 

Selain tiga dari IAIN Pontianak, tiga orang lainnya dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Mereka yakni Masdar Hilmy (rektor) serta dua guru besar, Ali Mudlofir dan Akh Muzakki. Sedangkan satu orang lainnya yaitu Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Warul Walidin.

 Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, para akademisi yang dipanggil tersebut sebelumnya pernah menjadi calon rektor di beberapa kampus di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Dua di antaranya dinyatakan lolos dan dilantik oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin pada Juni 2018 yakni Masdar Hilmy dan Syarif.

Menurut Febri, KPK saat ini tengah mendalami pengetahuan para saksi dalam proses seleksi pengisian jabatan rektor PTKIN yang dilakukan komisi seleksi (komsel) di bawah Kemenag. Mulai dari proses pendaftaran sampai pada tahapan-tahapan lain. Selain itu, KPK juga mengklarifikasi sejauh mana peran Romy dalam proses pengisian jabatan itu. 

”Kami mengklarifikasi sejauh mana saksi mengetahui ada atau tidaknya peran tersangka RMY (Romy) dalam proses seleksi tersebut,” jelas Febri. Selanjutnya, KPK bakal memeriksa kembali para akademisi PTKIN yang mengikuti proses seleksi calon rektor. Mereka akan diperiksa secara maraton pekan ini. ”Saksi lain akan dilakukan besok (hari ini, Red),” ujarnya.

Febri belum bisa memaparkan lebih jauh indikasi suap kepada Romy dalam pengisian jabatan rektor tersebut. Namun, pihaknya akan terus mendalami semua informasi yang mengarah pada peran Romy. Saat ini penyidik tengah fokus pada penyidikan suap jual beli jabatan di lingkungan Kemenag yang diduga kuat melibatkan Romy.

Aroma suap atau dugaan jual beli dalam pengisian jabatan rektor itu mengemuka setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Romy, Haris Hasanuddin, dan Muafaq Wirahadi di Surabaya pada pertengahan Maret lalu.

Sementara itu, setelah diperiksa KPK, Rektor IAIN Pontianak, Syarif menyatakan tidak pernah dimintai uang terkait dengan seleksi rektor. Dia mengaku proses seleksi yang diikutinya sesuai prosedur. Syarif menyebut komisi seleksi yang dibentuk terdiri dari tujuh profesor yang tak bisa diintervensi. "Di komsel periksa tujuh profesor ndak bisa diintervensi silakan tanya di sana nilainya seperti apa saya kan ndak tahu," ujarnya.

Namun, dia mengaku sempat mendapat SMS bodong saat proses seleksi bergulir pada 2018 lalu. Syarif dilantik sebagai rektor bersama Masdar. ”Kalau SMS bodong iya, tapi langsung saya hapus. Ndak ada mengaku dari siapa-siapa,” tuturnya tanpa menjelaskan isi SMS itu.

Syarif tidak menampik pernah bertemu dengan Romy. Namun, pertemuan itu tidak berkaitan dengan seleksi rektor. ”Dulu di Muktamar NU (Nahdlatul Ulama) pernah, hanya itu. Nggak pernah lagi,” ungkapnya.

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Masdar Hilmy juga mengaku tidak tahu-menahu soal peran Romy dalam pengisian jabatan rektor. Menurutnya, seleksi rektor yang diikutinya dilakukan sesuai prosedur. Tanpa campur tangan Romy yang kala itu menjabat sebagai ketua umum (ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP). ”Yang jelas semua melalui komsel (komisi seleksi). Saya tidak tahu sejauh mana peran Romy dalam pemilihan rektor,” ujarnya kepada awak media.

Dia menegaskan tidak memberikan uang sepeser pun yang berkaitan dengan pemilihan rektor tersebut. ”Tidak ada sama sekali. Saya tidak ditarget sama sekali,” ungkap Masdar. (tyo/fal)

Berita Terkait