Rebecca Alexandria Hadibroto, Dua Tahun Berturut-turut Jadi Juara Balet Dunia

Rebecca Alexandria Hadibroto, Dua Tahun Berturut-turut Jadi Juara Balet Dunia

  Minggu, 5 May 2019 08:36
LATIHAN: Balerina Rebecca Alexandria Hadibroto sedang berlatih di Marlupi Dance Academy Tebet, Jakarta, Jumat (3/5). MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

Tepuk Tangan Meriah dan Teriakan ”Bravo” dari Penonton di Lincoln Center 

Tarian yang dibawakan tahun ini menuntut Rebecca Alexandria Hadibroto banyak berputar, sesuatu yang sebenarnya dia takuti. Karena perfeksionis, beberapa kali menangis akibat merasa selalu ada yang kurang dengan tariannya. 

GLANDY BURNAMA, Jakarta

GADIS itu mencoba beberapa gerakan balet. Salah satunya tilt. Satu kaki diangkat hingga 180 derajat. ”Kebiasaan latihan sore soalnya,” kata Rebecca Alexandria Hadibroto, gadis tersebut, saat ditemui Jawa Pos seusai latihan di Marlupi Dance Academy Tebet, Jakarta Selatan, kemarin sore. 

Kerja keras seperti itulah yang telah mendatangkan banyak prestasi bagi pebalet 12 tahun tersebut. Bulan lalu, misalnya, Rebecca sukses meraih medali emas Youth America Grand Prix (YAGP) 2019 di New York. 

Itu merupakan kali kedua dia meraih medali emas di ajang yang berlangsung di Lincoln Center tersebut. Event tersebut bisa dibilang sebagai kejuaraan balet dunia. 

Tahun ini Rebecca menang di kategori junior yang diperuntukkan remaja usia 12 hingga 14 tahun. ”Kalau tahun lalu di kategori pre-competitive, untuk usia 9 sampai 11 tahun,” katanya. 

Keberhasilan Rebecca berprestasi puncak di YAGP selama dua tahun berturut-turut itu tak terlepas dari gurunya, Claresta Alim, cucu Marlupi Sijangga, founder Marlupi Dance Academy. Setelah menang di kategori termuda di YAGP 2018, Rebecca ditawari Tata –panggilan akrab Claresta– untuk ikut lagi di kategori yang berbeda. Selain karena usianya sudah menginjak 12 tahun, mengikuti kategori yang lebih tinggi berarti kesempatan bagi Rebecca untuk naik kelas. 

Menurut Rebecca, semakin tinggi kategori, tarian yang ditampilkan semakin kompleks atau sulit. Baik dari segi teknis maupun cara pembawaan. Agar sesuai dengan tingkatan yang diikuti, Tata memberikan daftar tarian balet yang bisa dipelajari Rebecca. Selanjutnya, tarian itu dibawakan di panggung YAGP.

Dari hasil diskusi dengan Tata, Rebecca memilih tarian bertajuk Harlequinade. Tarian balet tersebut terinspirasi cerita seorang pemuda bernama Harlequin yang jatuh cinta kepada gadis bangsawan yang bernama Columbine. Sayang, cinta mereka terhalang ayah Columbine yang tak suka kepada Harlequin. Nah, di tarian itu, Rebecca berperan sebagai Columbine.

Menurut Rebecca, Harlequinade lebih menantang daripada Fairy Doll, tarian yang dia bawakan di YAGP tahun lalu. Fairy Doll lebih kalem dan punya lebih banyak gerakan releve (menjinjit dengan dua kaki, dua tangan di atas). 

Di Harlequinade, Rebecca berputar lebih banyak. Tarian pun lebih upbeat dan lincah. ”Sebenarnya, aku takut kalau harus muter,” ungkap Rebecca. 

Putri tunggal pasangan Irman Yanuar Hadibroto dan Joe Shia itu mengungkapkan, gerakan berputar dalam balet atau pirouette tidak semudah kelihatannya. Ujung kaki harus kuat untuk menunjang perputaran tubuh. 

Punggung juga harus tegak lurus. Posisi tangan dan lengan mesti seimbang. Hal tersebut, menurut Rebecca, cukup membebaninya. ”Dulu pernah jatuh pas latihan pirouette,” ungkapnya.

Namun, pada akhirnya Rebecca menyanggupi. Bagi remaja pengagum pebalet Svetlana Zakharova itu, YAGP 2019 dan Harlequinade menjadi kesempatannya untuk menguji diri di level yang lebih tinggi. Juga, keluar dari zona nyamannya dalam menari balet. 

”Aku juga mau nunjukin bahwa aku sudah lebih baik dari sebelumnya,” kata Rebecca.

Persiapan berat pun dia lakukan. Setiap hari Rebecca berlatih balet selama empat jam. Dua jam untuk pemanasan, dua jam untuk latihan inti. Durasi itu bisa lebih lama. 

Rebecca harus berlatih gerakan memutar yang selama ini menjadi ketakutannya. Saking seringnya latihan, jari kaki Rebecca sakit. Bahkan, ujung kukunya patah karena terlalu sering berjinjit dengan pointe shoes atau sepatu balet. 

Latihan fisik yang berat juga dijalani Rebecca. Untuk itu, ada senam khusus yang membuat otot-otot tubuhnya kuat sekaligus lentur. Rebecca pun harus terbiasa berputar berkali-kali. Dia juga mesti menjaga asupan makanan. 

”Nggak boleh yang manis-manis dan harus banyakin makan sayur dan buah biar tetap sehat,” katanya. 

Untuk Harlequinade pula, Rebecca belajar mimik dan akting. Yang membedakan Harlequinade dan Fairy Doll adalah adanya unsur drama. Untuk itu, Rebecca menonton banyak pertunjukan Harlequinade di YouTube dan mempraktikkannya sembari berlatih tari.

Setelah latihan beberapa bulan, akhirnya tibalah saat Rebecca menampilkan Harlequinade untuk kali pertama. Juni 2018, gadis yang ikut homeschooling sejak kelas VI SD itu membawakan Harlequinade secara pas de deux (berpasangan dengan penari pria) di Gedung Kesenian Jakarta. Dari situ, dia mendapat sambutan hangat.

Selanjutnya, selama paruh kedua 2018, Rebecca membawakan Harlequinade di beberapa kompetisi balet. Misalnya di The Australian Teachers of Dancing dan Taiwan Grand Prix. Di dua ajang itu, Rebecca sukses menjadi pemenang utama. 

Namun, itu baru pemanasan. Sebab, pada Oktober 2018, Rebecca mengikuti semifinal YAGP 2019 di Jakarta. Tepatnya di Taman Ismail Marzuki. 

Dari babak tersebut, Rebecca berhasil terpilih sebagai perwakilan Indonesia di YAGP 2019. Bersama dia, ada dua balerina lain yang juga lolos. Yakni, Freya Zaviera dari Surabaya dan Ilona Tjahja dari Jakarta.

Langkah Rebecca menuju YAGP 2019 semakin dekat. Mulai Januari 2019, Tata melatihnya dengan lebih intens. Latihan demi latihan Rebecca jalani. Mulai 4 jam hingga 6 jam. 

Tekanan mental pun semakin besar. ”Aku tahun lalu udah menang. Takutnya, banyak yang berekspektasi aku harus menang lagi,” kata Rebecca. 

Beberapa kali Rebecca menangis karena merasa tak cukup bagus untuk tampil lagi di YAGP. Di momen-momen galau seperti itu, Tata hadir sebagai penyemangat. 

Akhirnya, 10 April lalu, Rebecca, Freya, dan Ilona berangkat ke New York. Tata ikut mendampingi sebagai mentor mereka. Sebelum tampil di YAGP 2019, pada 15 April, Rebecca kembali berlatih intens di Studio Joffrey, sebuah studio balet di Long Island City.

Beban mental kembali dia rasakan. Apalagi, saat berlatih, Rebecca mendapat arahan dan masukan dari Era Jouravlev, guru balet Tata yang berasal dari Rusia. Berasal dari negara penghasil pebalet andal, Era sangat peduli pada hal teknis. 

”Aku bolak-balik diingetin. Ternyata, masih ada yang kurang pas dan itu bikin aku galau,” ungkap Rebecca.

Semua kegalauan Rebecca baru benar-benar sirna pada 15 April. Tepat di semifinal YAGP 2019 di New York yang diikuti 158 penari dari 41 negara. Begitu bangun dari tidur, dia merasa sangat bersemangat dan ceria. Rebecca punya feeling bahwa hari itu tariannya sebagai Columbine pasti bagus.

Ternyata benar. Seusai tampil, seantero Lincoln Center riuh dengan tepuk tangan. ”Bahkan, ada yang teriak bravo ke panggung,” kata Tata, yang ikut menyaksikan semifinal tersebut.

Di akhir acara, nama Rebecca lolos ke babak final bersama 37 penari lain. Mereka kemudian tampil di babak final pada 17 April. Hasilnya, Rebecca keluar sebagai peringkat I alias gold medalist di kategori junior YAGP 2019. 

”Aduh, gimana ya rasanya, seneng deh pokoknya,” kata Rebecca, lantas tertawa. Prestasi Rebecca masih berlanjut. Panitia YAGP 2019 menunjuk dia untuk menari di event Gala YAGP 2019. Itu adalah sebuah acara yang dihadiri para petinggi dan dewan juri serta penikmat seni kelas atas. (*/c11/ttg)

Berita Terkait