Realisasi Pembangunan Rumah MBR Hanya 30 Persen

Realisasi Pembangunan Rumah MBR Hanya 30 Persen

  Rabu, 12 September 2018 10:00
Ilustrasi

Berita Terkait

PONTIANAK – Pembangunan rumah bersubsidi hingga lebih dari separo tahun ini masih rendah pencapaiannya di Kalimantan Barat. Ketua Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Kalbar, Khairiana, mengatakan hingga saat ini realisasi pembangunan rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kalbar mencapai 30 persen. Pihaknya menargetkan pembangunan rumah untuk MBR sebanyak 7.000 unit. Namun realisasi di lapangan baru mencapai 30 persen.

“Rendahnya realisasi yang ada dikarenakan oleh lamanya proses persetujuan kredit oleh bank penyalur. Proses persetujuan kredit tahun ini lama sekali. Bahkan sudah banyak calon debitur yang ditolak di bank pelaksana," jelas dia, kemarin.

Menurutnya penolakan oleh bank yang ada lantaran calon debitur dianggap belum layak mendapatkan kredit. Kendala lain yang menghambat realisasi peruamahan kata dia yakni penerapan perizinan yang terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS).

"Padahal apabila memang terdapat banyak kredit macet, perbankan dapat memonitor pengembang siapa-siapa saja yang berkaitan dengan hal itu dan tidak dipukul rata. "Perizinan saat ini sudah mudah hanya saja susah dalam pengaplikasian OSS. Contoh ketika kita daftar balasan kali kita e-mail dan verifikasi sering nyangkut. Itu yang sering dialami oleh pengembang," papar dia.

Saat ini, kata dia, pengembangan perumahan di Kalbar terutama MBR masih didominasi di daerah Kabupaten Kubu Raya. Secara umum permintaan rumah sangat besar dan hanya terkendala soal akad tadi," papar dia.

Hal serupa diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Barat Isnaini. Dia juga menilai, seharusnya penjualan rumahsubsidi bisa lebih tinggi lagi. Bahkan banyak pemohon KPR yang tidak lolos lantaran tak memenuhi persyaratan dan standar dari perbankan. Hanya saja, developer rumah bersubsidi kini semakin kehilangan ruang untuk pembangunan lantaran tanah di sekitar keramaian semakin tinggi.

“Sekarang kami hanya mampu membangun di pinggiran saja, karena di kota harga tanahnya gila-gilaan. Akan tetapi melihat rencana pengembangan dari pemerintah ke depan, lokasi-lokasi pinggiran tersebut akan berkembang. Cukup potensial sekarang adalah di sekitar Desa Kapur dan Sungai Kakap (Kubu Raya), karena tidak terlalu jauh dari kota,” katanya.

Menurut dia, kian sempitnya lahan Kota Pontianak untuk pembangunan perumahan, Kabupaten Kubu Raya kini menjelma menjadi lokasi favorit yang diburu konsumen. Hal ini mengingat tumbuh dan berkembangnya berbagai fasilitas di KKR seperti retail dan Transmart serta dekatnya akses ke Bandara.

Dia mengatakan dari data Desember 2017 lalu, anggota REI Kalbar membangun sebanyak 6.734 unit rumah yang berlokasi di KKR. "Rencananya pada 2018-2019, rencana pembangunan meningkat dengan jumlah 11.551 unit. Kedepannya tentu kami berharap layanan perizinan smakin mudah dan cepat, karena iklim investasi di KKR sangat baik untuk properti khususnya perumahan subsidi," sebut dia.

Semakin cepat layanan perizinan kata Isnaini semakin cepat jalannya usaha. Sehingga semakin cepat pemda memperoleh Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak bumi dan bangunan sebagai Pendapatan Asli Daerah KKR dan serapan tenaga kerja," pungkas dia. (ars) 

 

Berita Terkait