Ratusan Rumah Terkepung Banjir

Ratusan Rumah Terkepung Banjir

  Selasa, 26 July 2016 09:30
DIGUYUR HUJAN: Genangan air hujan yang merendam pemukiman warga membuat air meninggi dan mengepung rumah dan jalan sekitar. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SIANTAN - Sedikitnya 103 rumah di Jalan Parit H Kadir, Dusun Nenas, Desa Wajok Hilir, Kecamatan Siantan direndam banjir, sejak sepekan lalu. Banjir disebabkan tingginya intensitas curah hujan diwilayah itu. Kondisi korban pun cukup memprihatinkan.

 
Kepala Desa Wajok Hilir, Abdul Majid mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Siantan untuk menanggulangi bencana banjir yang merendam pemukiman warganya itu. Sebab, korban sangat membutuhkan bantuan dan penanganan yang cepat.

 “Jumlah rumah yang terendam sebanyak 103 rumah dengan jumlah jiwa lebih dari 200 orang. Beberapa korban banjir ada yang sudah mengungsi dan mulai terserang penyakit seperti demam, gatal-gatal dan lainnya. Jika lambat mendapatkan penanggulangan, kita khawatir kondisi korban banjir akan semakin parah,” kata Abdul Majid kepada Pontianak Post, Senin (25/7) siang.

Dia mengungkapkan, banjir yang merendam pemukiman masyarakat di Dusun Nenas itu disebabkan tingginya curah hujan yang mengguyur Desa Wajok Hilir dan sekitarnya dalam beberapa waktu ini. Kondisi itu diperparah dengan buruknya sistem pengairan membuat air hujan merendam pemukiman warga.

 “Sistem pembuangan yang mengandalkan aliran sungai tidak terlalu lancar. Air hujan sulit keluar hingga menggenangi pemukiman. Saat ini, ketinggian air mencapai hampir 1, 5 meter dan masuk kedalam rumah warga,” ungkapnya.

Akibatnya, timpal dia, para korban tidak bisa beraktivitas dengan baik dan lancar. Karenanya, para korban banjir sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah. Baik itu bantuan makanan, pakaian maupun obat-obatan dan penanganan medis.

 “Kabarnya hari ini (kemarin) tim dari pemerintah daerah akan turun ke lokasi banjir dan memberikan bantuan. Kami berharap bantuan-bantuan lainnya dapat terus diberikan kepada korban sesuai kebutuhannya,” pintanya.

Lebih jauh, Abdul Majid mengaku pihaknya bersama-sama Pemerintah Kecamatan Siantan telah melakukan rapat membahas penanganan banjir tersebut. Disepakati, dalam waktu dekat ini akan dibuka pos pengungsian bagi korban banjir.

 “Kepala Posko langsung dipimpin Camat Siantan. Dengan adanya posko ini, semaksimal mungkin kami akan memberikan bantuan dan penanganan terhadap korban banjir,” paparnya.

Apalagi, timpal Kades, pihaknya memperkirakan ketinggian banjir masih akan terus naik dalam beberapa waktu kedepan. Mengingat, curah hujan diwilayah Desa Wajok Hilir dan sekitarnya masih cukup tinggi.

 “Di Kecamatan Siantan ini, ada dua desa yang terendam banjir. Yakni Desa Jungkat dan Wajok Hilir. Banjir yang paling parah terjadi di Dusun Nenas,” sebutnya.

Ditanya solusi banjir, dirinya menilai Pemerintah Kabupaten Mempawah perlu melakukan perbaikan terhadap aliran sungai diwilayah itu. Sebab, saat ini pembuangan air yang melewati sungai tidak berjalan lancar hingga menyebabkan air hujan merendam pemukiman warga setempat.

 “Mungkin perlu dilakukan normalisasi atau semacamnya agar sistem pembuangannya lebih lancar. Kalau pembuangan air lancar, maka genangan air hujan tidak akan lama merendam pemukiman warga kami,” sarannya.

Dilain pihak, Anggota DPRD Dapil Siantan-Segedong, Darwis, SH, MH meminta agar pemerintah daerah segera melakukan penanganan dan penanggulangan terhadap korban banjir di Desa Wajok Hilir dan Jungkat. Bantuan berupa makanan dan obat-obatan secepatnya disalurkan.

 “Kabarnya memang sudah ada korban yang jatuh sakit. Dinas kesehatan perlu membangun posko kesehatan disekitar lokasi banjir. Agar, korban yang sakit dapat segera berobat dan mendapatkan penanganan medis,” tuturnya.

Kemudian, Darwis yang juga menjabat Ketua Fraksi Nasdem DPRD Mempawah ini menyarankan agar pemerintah daerah dapat memikirkan solusi permanen untuk mengatasi banjir diwilayah itu. Mengingat, penyebab rendaman banjir dipastikan akibat kuran baiknya saluran pembuangan.

 “Setiap kali curah hujan tinggi, pasti terjadi rendaman air. Ini dikarenakan debet air yang tinggi tidak mampu terbuang dengan lancar melalui aliran sungai. Makanya, aliran sungai harus di normalisasi agar pembuangannya lancar. Bila perlu dibuat bendungan dengan menggunakan dana CSR dari perkebunan sawit yang ada diwilayah itu,” usulnya. (wah)

Berita Terkait