Ratusan Jenis Obat Ilegal Jiran Lolos

Ratusan Jenis Obat Ilegal Jiran Lolos

  Selasa, 24 July 2018 10:00
OBAT ILEGAL: Polres Sanggau merilis pengungkapan penyelundupan obat-obatan ilegal dari Malaysia yang masuk melalui perbatasan di Entikong. SUGENG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

 

SANGGAU – Masuknya obat-obatan ilegal dari Malaysia menjadi pekerjaan rumah baru bagi pemerintah dan aparat, tidak terkecuali Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sanggau. Ternyata selain narkoba, para penyelundup juga menjalankan bisnis haram lainnya yang tidak kalah menggiurkan.

Pengungkapan ratusan jenis obat ilegal asal Malaysia oleh Kepolisian Resor Sanggau menjadi atensi bagi pemerintah daerah terutama dinas terkait termasuk stakeholder kesehatan di Kabupaten Sanggau. Pemerintah rencananya akan melakukan pengecekan terhadap peredaran obat ilegal ini.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi ketika dimintai tanggapannya mengenai masuknya obat-obatan ilegal ini menyampaikan bahwa pemerintah berterima kasih kepada aparat yang mengungkap kasus tersebut. Menurutnya, pengungkapan tersebut sekaligus menjadi warning bagi semua pihak termasuk masyarakat.

 “Nanti akan segera dilakukan pengecekan terutama di apotek-apotek. Saya juga belum mengetahui secara jelas bagaimana peredaran obat ilegal ini. Tetapi ini harus sudah menjadi perhatian kita karena saya yakin kita tidak tahu kwalitas obatnya, paten dan harganya atau juga kadar dan kandungannya. Walaupun orang bilang obat mahal biasanya berkualitas bagus, tetapi menurut saya tidak juga begitu,” jelasnya, Senin (23/7).

 “Ini kan hal baru. Kita belum melihat apakah sejauh ini di jual di apotek dan sebagainya. Tetapi ini wajib menjadi kewaspadaan. Temuan ini juga bisa menjadi kerugian negara karena masuknya ilegal dan juga kwalitas obat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Jones Siagian menyampaikan bahwa memang menjadi kewajiban bersama dalam mengawasi penjualan obat-obatan. Semestinya, lanjut dia, semua obat yang berada di apotek-apotek sudah memiliki izin edar. Hanya saja dalam konteks kasus penyelundupan ini dikhawatirkan juga masuk dan dijual oleh apotek-apotek maupun menjadi salah satu bagian dari resep yang dibuat oleh dokter.

Menurutnya, yang namanya obat-obatan, sejak dari pabrik sampai ke distributor dan masuk ke apotek-apotek wajib memiliki izin dan terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM.

 “Yang bisa kita lakukan (pemerintah) yakni memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat-obatan tersebut. Kalau ada obat-obatan yang tidak jelas seperti tidak ada izin dan sebagainya sebaiknya jangan dikonsumsi, apalagi yang harus dari resep dokter, itu kan pasti ada efek sampingnya. Kalau tidak ada izin nanti siapa yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa,” jelas dia.

Diminta imbauannya untuk para dokter di Sanggau, Jones mengatakan bahwa pada dasarnya dokter-dokter di kota/kabupaten, apalagi di wilayah-wilayah yang sudah ada apotek, mereka (dokter) meresepkan dan tidak pernah ada dispensing atau menyimpan obat sendiri untuk diberikan kepada pasien.

 “Kalau ketahuan mereka (dokter) dispensing, yang di situ (suatu daerah) ada apotek maka mereka bisa diberi sanksi. Saya kira itu dan pastilah nanti kami juga akan sampaikan kepada kawan-kawan sejawat agar tidak menggunakan obat-obat yang tidak jelas sumbernya,” terang dia.

Terkait dengan kasus kejahatan penyelundupan obat-obatan tersebut, Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi mengungkapkan bahwa faktor mudahnya pembawaan paketan obat tersebut menjadi salah satu bagian dari terjadinya penyelundupan tersebut ditambah lagi dengan harga jual obat-obatan tersebut yang sangat mahal bila beredar di indonesia.

 “Nilainya (obat-obat selundupan) ini lebih kurang tujuh ratusan juta. Kalau beredar di kita (indonesia) taksirannya mencapai satu miliar lebih. Nah, barang (obat-obatan) ini kan mudah dibawa dan harganya fantastis,” ungkapnya.

Imam meyakini bahwa penyelundupan ini bukan hanya kali ini tetapi (mungkin) sudah terjadi beberapa kali. Hanya saja, kali ini berhasil diungkap oleh aparat dalam hal ini kepolisian. “Kalau saya melihat ini bukan yang pertama. Yang pertama diungkap mungkin iya. Dengan pengungkapan ini kita wajib waspada dan harus sama-sama mengawasinya,” harap dia. (sgg)

Berita Terkait