Rasa Puas dalam Ekspresi Emosi

Rasa Puas dalam Ekspresi Emosi

  Rabu, 10 April 2019 09:26

Berita Terkait

Kasus perundungan (bullying) bukan hal baru di Indonesia. Bahkan, terjadi di kalangan pelajar, baik pelaku perorangan maupun berkelompok.  Aksi ini masih terus terjadi hingga saat ini. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Kasus perundungan dengan korban seorang pelajar SMP di Kota Pontianak beberapa hari lalu sangat viral. Bahkan sempat menduduki peringkat pertama trending topik di media sosial. Korban mengalami beberapa luka (baik fisik maupun psikis) akibat aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh beberapa pelajar SMA.

Kasus perundungan (bullying) pada anak bukan hal baru di Indonesia. Bahkan United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada 2016 merilis, menempatkan Indonesia di peringkat pertama untuk soal kekerasan pada anak.  Aksi perundungan seringkali diawali dari tindakan mengejek secara verbal atau nonverbal melalui media sosial (cyber bullying). Ketika rasa puas belum didapatkan, pelaku bullying bisa saja mendatangi korban dan melakukan tindak kekerasan. Sebagai bentuk melampiaskan amarahnya.

Psikolog klinis Maria Nofaola, S.Psi, M.Psi, Ch.t mengatakan kasus perundungan akan terus terjadi apabila manusia merasa dirinya yang paling baik dibandingkan orang lain.  Seringkali, aksi perundungan dilakukan oleh remaja. 

“Dikarenakan remaja memiliki karakteristik merespon sesuatu secara spontan dan tanpa pertimbangan matang. Apakah yang dilakukannya termasuk dalam kategori baik-buruk, atau salah-benar,” ungkap Maria. 

Remaja jadi tampak emosional karena bersikap mengikuti yang dirasakannya saat itu.

“Ketika ada rasa benci, kesal, atau amarah remaja cenderung langsung melakukan aksi dengan cara memukul, menendang, dan melakukan tindak kekerasan,” ujarnya. 

Maria menuturkan bentuk kekerasan yang dilakukan pelaku perundungan biasanya bergantung pada yang biasa dilihat dan didengar setiap harinya.  Perilaku, isi pikiran, atau ide-ide yang sudah tersimpan itu akan muncul ketika ada peristiwa pencetusnya. Hal yang ada dipikirannya bisa saja dari pengalamannya sendiri.

“Yang pasti dari apa yang mereka lihat, dengar langsung, atau pun yang mereka tonton,” tutur Maria. 

Tindakan kekerasan dalam bentuk apapun bentuknya bisa direncanakan dan bisa saja spontan karena reaksi emosional sesaat dan tak terkontrol.  Aksi kekerasan yang dilakukan pelaku perundungan cenderung pada arah kepuasan dalam mengekspresikan emosi. Ketika seseorang bisa meluapkan kemarahannya, ia akan merasa puas. 

Menurut psikolog di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak ini kebanyakan kekerasan yang dilakukan pelaku perundungan bermotif dendam. Ketika melakukan kekerasan ada kepuasan bagi pelaku karena sudah meluapkan emosinya.

“Ia juga merasa puas karena yakin bahwa korban merasakan sakit yang setara, seperti yang ia rasakan dulu,” ungkap Maria.

Jika pelaku tak merasa bersalah atas tindakannya, Maria menyarankan untuk memeriksakan kondisi jiwanya. Kemungkinan ada masalah mental yang membuat empatinya dan rasa bersalahnya rendah. 

Maria menyatakan jika pelaku perundungan terbukti bersalah ada baiknya diberikan hukuman sesuai usianya. Jika pelaku masih remaja, Maria merekomendasikan untuk melakukan pembinaan mental dan terapi psikologis. Apabila pelaku hanya mendapatkan hukuman penjara tanpa disertai pembinaan mental dan terapi psikologis, tak akan menyelesaikan masalah.  Dengan terapi psikologis, psikolog akan menumbuhkan rasa empati dalam diri pelaku. Dan, juga membuatnya peka dan menyadari bahwa tindakannya salah.

Disis lain, aksi perundungan memberikan dampak yang sangat berat bagi korban. Korban bisa saja mengalami trauma. Dikhawatirkan, jika tak segera ditangani, trauma psikis yang dialami korban bisa saja memengaruhi mentalnya ke arah yang negatif.

Maria menyarankan untuk segera melakukan penanganan terbaik yang dapat dilakukan adalah membawa korban ke profesional, seperti psikolog klinis atau psikiater. Dengan harapan, mentalnya bisa tetap baik atau berkembang ke arah lebih baik.

Terapi psikologis dapat menghilangkan trauma yang dialami korban. Selain itu, meningkatkan rasa percaya diri dan memperbaiki pikiran maupun perasaan yang merugikan akibat peristiwa yang dialaminya. Keluarga dan teman-teman terdekat juga dapat berperan memberi waktu untuk mendengarkan dan berada di sisi korban sementara waktu. 

Maria tak menampik orang tua korban perundungan pasti marah dan kecewa atas kasus yang menimpa anaknya. Namun, berkata-kata dan berperilaku kasar kepada pelaku dinilaa tak menyelesaikan masalah. Orang tua korban juga harus melihat dari sebab akibat. Bisa saja korban menjadi penyebab awal peristiwa ini hingga ia mengalami tindakan perundungan. 

Jika awal masalah disebabkan oleh korban sendiri, korban juga perlu introspeksi diri dan tak mengulangi kembali perbuatan buruknya. Namun, jika peristiwa murni dilakukan pelaku dan buah hati tak termasuk penyebab kasus perundungan,  Maria menyarankan sebaiknya orang tua menyerahkan kasus ini ke pihak berwajib dan mengikuti prosedur hukum yang ada. 

Untuk menghindarkan diri dari perundungan massal,  bisa bercerita kepada orang tua saat memiliki masalah. Mulai dari ingin dan baru saja melakukan sesuatu, kemudian dari mana, akan kemana, dan pergi dengan siapa. 

“Jadi bila ada sesuatu yang terasa tidak wajar, orang dewasa bisa mendeteksi, memprediksi, atau  mencegah,” tutup Maria. **. 

Berita Terkait