Ramengvrl, Generasi Baru Rapper Cewek

Ramengvrl, Generasi Baru Rapper Cewek

  Senin, 30 July 2018 10:00

Berita Terkait

Saatnya Gue Bertindak

Rapper perempuan di Indonesia tidak banyak. Di era milenial ini, ada satu yang kini jadi sensasi hiphop Indonesia. Ramengvrl.

---

PADA 13 Juli lalu, Ramengvrl merilis single terbarunya, Ca$hmere. Dalam lagu berdurasi 3 menit 35 detik itu, Ramengvrl bercerita tentang gaya hidup orang kaya yang tidak tahu cara menggunakan uang. Atau bahasa kerennya, orang kaya baru (OKB). ’’Gue sering banget ketemu orang kayak gitu,” ujarnya saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Judul Ca$hmere berasal dari bahan busana mahal yang sulit dicari. Lewat judul itu, dia menyindir betapa banyak orang berlomba-lomba terlihat kaya dengan berbagai cara. Bagi perempuan bernama asli Putri Soeharto itu, rap bukan cuma mengucapkan kata-kata sesuai irama. Ngerap juga harus sesuai pandangannya tentang hidup atau perasaannya terhadap sesuatu. Bisa juga jadi media untuk menyampaikan kritik terhadap hal yang dianggap tak tepat. 

’’Gue sebagai rapper udah punya tanggung jawab kayak gitu,” ujar Putche, sapaan akrabnya, saat tidak manggung.

Kehadiran Ramengvrl di belantika musik hiphop Indonesia menjadi angin segar. Sekian lama hiphop didominasi pria. Di era 2000-an, ada Yacko. Tapi, ternyata regenerasi rapper perempuan tidak bisa berlangsung cepat. Dengan melejitnya nama Ramengvrl sekarang, peran perempuan dalam musik hiphop dan rap semakin terbuka lagi.

Menurut Putche, faktor budaya adalah penyebab kurangnya rapper cewek di Indonesia. Dia mengatakan, perempuan dengan gaya swag seperti dirinya dan Yacko cenderung mendapat stigma negatif. Selain itu, kebebasan perempuan untuk berekspresi dalam lirik lagu yang eksplisit atau frontal juga masih dibatasi.

Sebagai seniman, Putche ingin membawa hal baru. Perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk menyuarakan pikirannya dalam bentuk karya. Termasuk, dalam bentuk rap dan musik hiphop. ’’Banyak yang mendukung gue untuk itu dan ini saatnya gue bertindak,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 20 April 1992, itu.

Single pertamanya, I’m Da Man, dirilis pada 2016. Lewat lagu itu, Putje menegaskan dirinya tidak mau terkekang dengan peraturan atau stereotipe. ’’Sesuai judulnya, gue yang punya kendali atas hidup,” ujarnya tegas. 

Topik yang klise, namun tetap relevan dan asyik untuk didengarkan. Sebagai perempuan, Putche juga memanfaatkan musik untuk menyuarakan kesetaraan gender. Di lagu Alpha Girl, dia ingin agar para perempuan menjadi lebih kuat dan punya daya untuk melindungi diri. 

Untuk alasan keamanan dan kenyamanan, Putche biasanya membuat lagunya dalam dua versi. Yakni, media friendly dan eksplisit. Dalam lagu versi media friendly, lirik yang mengandung kata umpatan akan disensor atau diganti kata lain. Biasanya, lagu ini diputar di radio atau dibawakan saat Putche tampil on air. Berbeda dengan versi eksplisit yang tanpa sensor dan hanya bisa dinikmati di aplikasi streaming atau lewat unduhan.

Dari segi musik, Putche yang selalu menciptakan single-nya sendiri awalnya tidak terlalu memikirkan selera pasar. Namun, sejak bergabung dengan label UBC pada 2016, Putche harus membuat musik lebih bersahabat dengan telinga pendengar. 

Setelah nantinya konsisten menciptakan single dengan irama yang catchy, Putche punya target lain. Dia ingin pencinta musik pop atau mainstream bisa menikmati lagu rap. ’’Misalnya nih, yang suka dengerin Tulus bisa suka sama lagu gue atau rapper lain, hehe,” harapnya. (len/c17/jan)

 

Berita Terkait