PT FBP Didesak Cari Solusi

PT FBP Didesak Cari Solusi

  Senin, 21 March 2016 09:16
PENANAMAN PERDANA: Agus Mulyana, saat masih menjabat Wakil Bupati Kapuas Hulu, meresmikan penanaman perdana kelapa sawit, PT FBP di Dusun Kapar, 2012 lalu. Kini, siapa sangka perusahaan tersebut sedang terlilit persoalan. NOBELIUSBADAU.BLOGSPOT.CO.ID

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Pengurangan jam kerja karyawan dan banyaknya persoalan yang terjadi antara PT First Borneo Plantation (FBP) dengan masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit, membuat Camat Putussibau Selatan Iwan Setiawan, angkat bicara. Dia mendesak agar pihak perusahaan segera mencari solusi, untuk menormalkan kembali kegiatan perusahaan, sehingga tak menimbulkan keresahan karyawan.

Menurut Iwan, penting buat perusahaan untuk segera mencari solusi. Diingatkan dia, sebagian masyarakat begitu menggantungkan hidup dari bekerja di perusahaan tersebut. “Staf dari PT FBP pernah datang ke kantor saya, dua bulan lalu. Mereka menjelaskan perusahaan sedang mengalami masalah keuangan,” jelasnya.

Dari penjelasan yang diperolehnya, PT FBP akan melakukan langkah penyelamatan. Mereka, menurut Camat, akan memindahkan manajemen kepada investor yang baru.

Meski demikian, mantan Camat Hulu Gurung ini menegaskan agar perusahaan secepatnya mencari investor baru. Dengan demikian, manajemen perusahaan kembali normal seperti biasa. Karena, diingatkan dia, keberadaan perusahaan harus memberi keuntungan bagi masyarakat sekitar. “Ini sesuai tujuan Bupati yang mendatangkan investor pekebunan kelapa sawit, agar masyarakat memiliki pekerjaan alternatif bagi masyarakat di pedesaan,” ungkapnya.

Iwan juga menyesalkan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut hanya menempatkan masyarakat sekitar menjadi buruh kasar, bukan di bagian manajemen. Dikatakan dia, saat ini sumber daya manusia (SDM) khususnya masyarakat yang berada di wilayah perkebunan, sudah mempuni. Bahkan, dia memastikan, banyak anak-anak muda di sana yang sudah mengenyam bangku kuliah atau lulusan dari perguruan tinggi.

“Formasi CPNS sangat kecil peluangnya, seharusnya mereka bisa dipekerjakan di perusahaan, bukan malah ditinggalkan,” tegasnya. Dia meminta agar orang-orang yang berada di sekitar perkebunan kelapa sawit jangan dijadikan kuli atau buruh kasar. “Pekerjakanlah mereka dengan posisi yang layak sesuai pendidikannya. Saya juga berharap Pemda melalui Dinas terkait segera memanggil pihak perusahaan,” kata dia.

Iwan menyebutkan, untuk menyelesaikan masalah FBP, pihak perusahaan, masyarakat, kecamatan, desa, dan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan, agar duduk satu meja, sehingga masalah ini tidak berlarut-larut. “Jika terus dibiarkan, yang rugi masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan itu sendiri. Karenanya perlu segera dicari solusi yang jelas dan terang benderang agak tak menimbulkan keresahaan.” (aan) 

Berita Terkait