Produksi Motif Lokal Khas Kalbar

Produksi Motif Lokal Khas Kalbar

  Minggu, 19 June 2016 11:10
KOMUNITAS WARDAH

Berita Terkait

Di tengah lajunya modernitas, ternyata masih ada loh segilintir anak muda yang berminat untuk mempelajari dan melestarikan batik. Mereka ini tergabung dalam komunitas ekstrakurikuler yang dinamakan WARDAH (Wadah Kreatifitas dari Anak-Anak Handal). 

By: Indry Agnesty

Komunitas batik ini memproduksi berbagai jenis batik seperti batik tulis, batik cap, batik celup dan batik ikat. Motif-motif batik tulis karya siswa-siswi SMK Negeri 3 Pontianak ini telah didaftarkan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagai langkah mematenkan karya dalam antisipasi terhadap klaim dari pihak lain. Berbagai motif batik tersebut mengangkat motif lokal khas Kalimantan Barat seperti motif tengkawang, motif lidah buaya, motif anggrek hitam, motif cakar enggang dan lain-lain. 

Melalui komunitas Wardah, para siswa SMK Negeri 3 nggak hanya mempelajari cara membatik. Mereka juga akan selalu berbagi ilmu batiknya dengan orang lain lewat pelatihan umum yang diberikan kepada mahasiswa, anak putus sekolah, anak panti asuhan dan guru Prakarya sekota Pontianak. Selain itu, mereka juga turut menjadi mentor untuk siswa-siswi SD yang akan mengikuti FL2SN (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) karena batik telah menjadi salah satu materi yang dilombakan.

Kegiatan CFD (Car Free Day) yang tiap minggu pagi nggak disia-siakan oleh komunitas ini. Wardah menggelar stand belajar membatik saat CFD untuk melatih mental para anggotanya agar nggak canggung lagi ketika meng-handle event besar seperti pameran. Tentunya, setiap pameran produk lokal dan ekonomi kreatif yang diadakan di Pontianak selalu diikuti oleh Wardah. Event pameran ini menjadi ajang mengembangkan kreatifitas diri dan mengenalkan bahwa anak muda Pontianak juga bisa membuat batik. 

Selain event pameran di Pontianak, Wardah juga pernah ikut serta dalam event Borneo International Sumpit yang diadakan di Sarawak, Malaysia. Dalam event ini, para anggota Wardah memproduksi batik selama 21 jam dan hasil karyanya ditandangani oleh semua atlet sumpit. Certainly, kain batik tersebut dilelang dan terjual dengan harga yang cukup mahal.

Mengenai respon masyarakat terhadap kehadiran Wardah diakui sangat positif. “Yang paling antusias terhadap stand belajar membatik yang kita adakan didominasi oleh anak-anak. Seperti yang udah kita tahu ya, sejak SD anak-anak udah diajarkan teori membatik tapi nggak pernah diajarin praktiknya. Makanya mereka sangat tertarik belajar membatik bersama Wardah. Masyarakat umum juga banyak yang tertarik karena mereka selalu berpikir kalo batik hanya dibuat di Jawa. Padahal Pontianak udah bisa memproduksi batik,” tutur Ibu Wasilah, selaku guru pembimbing Wardah.

Kehadiran komunitas batik ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Pontianak. Bahkan Walikota Pontianak menantang para anggota Wardah agar bisa mengolaborasikan motif batik dengan motif corak insang. Tentunya tantangan tersebut menjadi suatu kebanggaan karena eksistensi Wardah telah diakui oleh Pemerintah khususnya di Pontianak.**

MEMBATIK: Ibu-ibu ini tampak serius mengikuti pelatihan membatik yang diberikan oleh Komunitas Wardah. 

Berita Terkait