Produksi Ikan Meningkat

Produksi Ikan Meningkat

  Selasa, 29 January 2019 10:35

Berita Terkait

PONTIANAK — Para nelayan di Kubu Raya mengakui terjadi peningkatan tangkapan ketika mencari atau menjaring ikan di perairan Indonesia, Kalimantan Barat.

“Harus diakui, sejak kapal-kapal asing ilegal banyak ditertibkan, terjadi peningkatan penangkapan ikan di lautan,” ungkap Ahmad (43), nelayan Sungai Kakap.

Menurut dia, kini para nelayan sudah bebas melakukan penangkapan pada perairan sendiri. Makanya titik-titik kumpulnya ikan dalam jumlah besar, sekarang dinikmati para nelayan sendiri. 

“Dulu tidak. Kami sering lihat kapal benderanya Indonesia tetapi yang melakukan aktivitas seperti orang asing. Anehnya melakukan penangkapan ikan dalam jumlah besar justru di laut Indonesia-Kalbar,” ungkapnya.

Untuk kekesalan nelayan, yakni masalah BBM subsidi sebagai penggerak kapal-kapal nelayan beroperasi di laut lepas susah diperoleh. 

“Tak mungkin mau beli BBM nonsubsidi. Harganya jauh lebih tinggi. Kami juga hitung faktor biaya ketika turun ke laut. Dengan BBM subsidi, maka hasilnya juga agak lumayan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Herti Herawati menyebutkan bahwa produksi ikan di perairan Kalimantan Barat terjadi peningkatan signifikan. Jumlah kenaikannya kemungkinan dipicu lunaknya beragam kebijakan pemerintah bagi para nelayan.

Misalnya, lanjutnya, para nelayan di Kalimantan Barat terus diperkenalkan dengan alat-alat ramah lingkungan dilegalkan guna meningkatkan penangkapan ikan. Hubungannya jelas bakalan terjadi peningkatan produksitifas perikanan. 

Seperti produksi ikan pada tahun 2018 di perairan Kalimantan Barat berkisar sekitar 164 ribu ton. Jumlahnya naik dibandinghkan tahun 2017 hanya sekitar 162 ribu ton. Itu berarti ada selisih sekitar 2.000 ton produksi perikanan di Kalimantan Barat (Kalbar). 

“Tahun 2019, diperkirakan kembali terjadi produksi perikanan di Kalbar,” katanya.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) sebelumnya mencatat bahwa penangkapan ikan secara ilegal di seluruh dunia telah menimbulkan kerugian hingga US$ 23 miliar, dimana 30 persen diantaranya dialami Indonesia. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal itu menunjukkan negara dirugikan hingga USD3,11 miliar per tahun.

Hanya beberapa NGO bergerak di bidang kelautan dan perikanan memperkirakan bahwa klaim kerugian yang diderita setiap tahun hampir dua kali lipat atau USD5,2 miliar. 

Itu karena adanya penangkapan ikan secara ilegal. Nilai itu tidak saja dihitung dari total ikan tangkapan, tetapi juga potensi pendapatan dari pajak dan kerusakan ekosistem akibat penangkapan ikan secara ilegal.(den)

Berita Terkait