Presiden Guyur Timnas U-22 Bonus Rp 200 Juta Per Orang

Presiden Guyur Timnas U-22 Bonus Rp 200 Juta Per Orang

  Jumat, 1 March 2019 10:41
BERCENGKERAMA: Presiden Joko Widodo saat berbincang bersama Timnas Indonesia U-22 di Istana Negara, kemarin. RAKA DENNY/JAWAPOS

Berita Terkait

Curhat Akses Jalan, Rekomendasi Kuliah, sampai Pangkat  

JAKARTA – ”Akses ke Sarmi, Papua, jalannya masih jelek. Mudah-mudahan (ke depan, Red) bisa lebih bagus daripada tempat lain.” Itulah yang disampaikan oleh penyerang tim nasional (timnas) U-22 Marinus Wanewar ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta dia untuk mengungkapkan keinginan. Kemarin (28/2) Marinus dan seluruh skuad timnas U-22 yang baru saja menjuarai Piala AFF U-22 di Kamboja diterima presiden di teras belakang Istana Merdeka, Jakarta.

Gestur Marinus memang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar grogi karena duduk di sebelah presiden. Saat ditanya asalnya, dengan spontan pemuda 22 tahun itu menjawab Papua. ”Ya, Papua, tahu. Dari mana? Wamena, Jayapura, Merauke, atau Manokwari?” canda presiden yang langsung membuat seluruh skuad tertawa. Sementara itu, Marinus hanya bisa tersipu sembari menjawab bahwa dirinya berasal dari Kabupaten Sarmi yang terletak di barat Jayapura.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah pemain juga angkat bicara soal masa depan mereka. Winger timnas Osvaldo Haay, misalnya, meminta rekomendasi agar bisa melanjutkan kuliah. 

”Karena saya sudah meninggalkan kuliah cukup lama,” ucap pemain yang merumput bersama Persebaya Surabaya itu. Osvaldo saat ini berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih.

Senada, sang kapten Bagas Adi Nugroho juga meminta para pemain yang ingin atau sedang berkiprah di institusi Polri dan TNI mendapat perhatian. Termasuk yang ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). 

”Teman saya ada yang anggota polisi, ya maksudnya bisa lebih naik pangkat,” ucap dia, merujuk kepada Sani Rizki Fauzi yang merupakan personel Polda Metro Jaya. ”Saya urus nanti yang TNI sama polisi,” jamin presiden.

Sementara itu, coach Indra Sjafri membeberkan target timnas selanjutnya. Yakni, kualifikasi Piala AFC U-23 dan SEA Games 2019. Kualifikasi Piala AFC U-23 memperebutkan tiket ke Piala AFC U-23. Sementara itu, di SEA Games, Indra mengingatkan bahwa Indonesia belum mendapat emas lagi di cabor sepak bola sejak 1991. ”Izin Allah, nanti kita wujudkan, Pak,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, presiden memastikan bahwa guyuran bonus bagi skuad timnas U-22 bakal bertambah. Sebelumnya, dia mendapat penjelasan dari Menpora Imam Nahrawi bahwa bonus yang diberikan oleh Kemenpora sebesar Rp 65 juta per orang. ”Ya sudah, dari saya masing-masing Rp 200 (juta, Red),” ucap Jokowi, lalu disambut tepuk tangan meriah skuad timnas. 

Seluruh tim dan ofisial mendapatkan bonus yang sama. Dengan rombongan ke Kamboja yang terdiri atas 32 orang, total bonus yang disiapkan Rp 6,4 miliar. Nahrawi menyebutkan, anggaran itu mungkin diambilkan dari Setneg. Sebab, tambahan bonus tersebut merupakan apresiasi langsung dari presiden.

Presiden mengungkapkan kebanggaannya atas raihan timnas U-22. Dia berharap prestasi itu bisa berlanjut di Piala AFC U-23 dan SEA Games Manila. Dia meminta Bagas dan kawan-kawan lebih bersemangat menatap turnamen berikutnya. ”Sehingga prestasi ini betul-betul menjadi sebuah arah baru, generasi baru kebangkitan sepak bola Indonesia,” tambah dia.

Seusai pertemuan, coach Indra mengakui, memang ada satu tantangan baru bagi timnas di luar urusan sepak bola. Tantangan itu tidak lain berupa popularitas. Di tengah dahaga gelar dan karut-marut PSSI, mereka muncul sebagai pahlawan dengan mengangkat trofi di level ASEAN.

Menurut Indra, godaan popularitas tersebut bisa menjadi bumerang bila tidak disikapi dengan bijak. Juga, itu tidak hanya menjadi tanggung jawab jajaran pelatih. Publik dan media massa wajib ikut menjaga penggawa timnas agar tidak terbuai popularitas. ”Jangan juga kita memberi apresiasi yang berlebihan,” tegasnya.

Bagi Indra, apresiasi dari presiden sudah diangap luar biasa. Selanjutnya, dia meminta publik berhenti memuji anak asuhnya. ”Nggak perlu lagi setelah ini ada sanjung-sanjungan. Kalau memang ada yang perlu dikritik, kritik saja,” tambah dia.  

Di sisi lain, dalam pawai juara dari Hotel Sultan menuju Istana Negara kemarin (28/2), tidak terlalu banyak warga Jakarta yang menyambut. Skuad Garuda Muda Nusantara yang berdiri di bus tingkat terbuka sepanjang perjalanan terlihat cukup bingung dengan ”sepinya” sambutan. 

Tidak ada bendera Merah Putih dan nyanyian yang menyambut mereka sepanjang perjalanan. Padahal, mereka baru saja mengharumkan nama negara dengan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. 

Suasana yang dialami timnas itu berbeda dengan yang terjadi ketika Persija Jakarta melakukan konvoi juara Liga 1 musim lalu. Puluhan ribu suporternya tumplek bleg di jalanan. Nyanyian dan kibaran bendera kebanggaan mengiringi laju mereka. 

Hanya puluhan orang yang terlibat melambai-lambaikan tangan. Sebagian besar pun pekerja proyek di jalan dan beberapa sopir transportasi online. 

”Mungkin kalau hari libur berbeda, ya, akan ramai. Tidak masalah,” ucap Osvaldo. 

Bagi Osvaldo, undangan presiden ke Istana Negara sudah merupakan bentuk apresiasi yang membanggakan. Apalagi, mereka juga diguyur dengan bonus uang. 

Hal senada dikatakan oleh Todd Rivaldo. Pemain Persipura Jayapura itu menjelaskan, bisa bertemu dengan Presiden Jokowi merupakan momen berharga dalam hidupnya. Apalagi, dia diberi kesempatan untuk berbincang langsung dengan mantan gubernur DKI Jakarta itu. 

”Ya, saya berharap sepak bola di Papua lebih diperhatikan karena potensinya besar. Tidak pernah saya bermimpi bertemu dan ngobrol dengan presiden langsung seperti sekarang,” katanya. (byu/rid/c11/ttg)
 

Berita Terkait