Prancis Tuan Rumah yang Baik

Prancis Tuan Rumah yang Baik

  Sabtu, 2 July 2016 09:30
DUKUNGAN: Fans tuan rumah Prancis saat memberikan dukungan pada timnas mereka di Stade Pierre-Mauroy, Lille (19/6). REUTERS/Carl Recine Livepic

Berita Terkait

Suporter Republik Irlandia dan Irlandia Utara dinobatkan sebagai fans terbaik versi Wali Kota Paris. Bahkan, mungkin versi warga Prancis. Tapi, tidak semua fans seramah dan seasyik mereka. 

Sudah rahasia umum, terkadang adalah hal yang menakutkan untuk berjalan atau berkumpul di antara fans sepak bola. Apalagi kalau berada di dekat kelompok suporter yang memiliki sejarah suka bikin onar seperti Rusia dan Inggris. Untung, mereka sudah pulang ke negaranya.

Nah, pada perempat final ini tinggal kelompok suporter yang anteng dan bersahabat. Memang, ada Belgia yang sangat heboh dan suka cari gara-gara dengan polisi. Tapi, mereka jarang sekali mengganggu suporter atau orang lain.

Fans Wales, sebenarnya agak seperti Inggris. Tapi, karena jumlahnya sedikit, jarang sekali berani cara gara-gara. Mereka pernah bersatu dengan fans Inggris ketika ribut dengan suporter Rusia di Lille pada fase grup lalu. Kini, mereka sendirian.

Tak beda dengan fans Inggris, suporter Wales memang salah satu yang paling doyan mabuk-mabukan. Dan, terkadang cara bicaranya keras serta terlihat kurang sopan. Namun, tidak perlu khawatir untuk berkumpul atau sekadar berada di antara mereka. ”Seumur hidup saya belum pernah melihat Wales di major tournament. Jadi, ini saatnya berpesta,” ujar Bob Murphy, fans asal Newport, Wales.

Yang menyenangkan adalah berkumpul dengan fans Islandia. Sangat kompak, ramah, meski sedikit suka omong besar. Dan, tentu saja yang membuat fans Islandia cepat berbaur karena kemampuan bahasa Inggris mereka cukup baik. Yang sedikit mengejutkan adalah fans Italia. Memang umumnya ramai dan antusias. Namun, ketika Italia menang atas Spanyol (27/6), euforia berlebih terlihat di beberapa kota. Paling parah di Lyon, di mana mereka menggebrak-gebrak mobil dan bus.

Sebagai tuan rumah, fans Prancis patut diacungi jempol. Mereka mau berinteraksi dengan suporter lain. Tidak pernah ada gesekan atau ejekan yang dilakukan fans Prancis terhadap lawan-lawannya.

Di dalam stadion, fans bisa berbaur. Mereka memang ditempatkan terpisah, tapi tidak ada pagar sehingga kalau terjadi gesekan, risikonya bisa pecah keributan besar. Itulah yang terjadi di Marseille ketika Inggris melawan Rusia.

”Secara umum kami menerapkan standar keamanan yang sudah tepat untuk pertandingan kelas Eropa. Di dalam stadion ada pengawas yang selalu teliti. Begitu kami melihat ada provokasi, langsung kami perbanyak pengamanan dan kalau perlu kami tangkap penontonnya. Tak perlu sampai ribut,” kata Ibrahima Bennacer, petugas keamanan di Parc Olympique Lyonnais, Lyon.

Dalam beberapa insiden kecil, seperti pelemparan flare ke lapangan atau menyalakan petasan di tribun, petugas keamanan dengan tanggap bisa langsung menangkap pelaku. Selain pengamatan steward, petugas juga terbantu oleh kamera yang ditempatkan di beberapa titik serta polisi tanpa seragam yang berbaur dengan suporter. (*/ca)

Untung Pengacau Cepat Pulang

KALAU ada karakter fans yang tidak disukai di Prancis, maka Rusia akan disebut nomor satu. Inggris juga punya reputasi yang tak begitu baik. Dan, belakangan Hungaria dianggap seperti remaja nakal yang baru tumbuh. Sementara itu, fans Kroasia tak seseram yang didengungkan.

Ketika terjadi insiden di Marseille antara Rusia dengan Inggris (11/6), itulah awal di mana publik Prancis kehilangan simpati kepada fans kedua negara itu. Apalagi, situasi di Marseille agak mencekam di beberapa lokasi gara-gara insiden tersebut.

”Kalau kamu bisa lihat di pelabuhan Marseille itu banyak yacht mewah-mewah, itu biasanya punya pengusaha kaya Rusia. Nah, preman yang menjaga mereka itu biasanya mafia lokal yang juga berasal dari negara yang sama,” kata Clement, calo tiket yang nongkrong di Rond Point du Prado, Marseille. 

Pria yang menolak menyebut nama panjangnya itu menceritakan, penguasa penjualan senjata api ilegal di Marseille dan beberapa kota pantai di Prancis dikuasai oleh mafia Rusia. ”Kami dengar, banyak di antaranya yang mantan tentara. Sekarang jadi tentara bayaran” ujarnya.

Dengan situasi seperti itu, biarpun fans Inggris lebih banyak, tetap saja mereka akan dihajar oleh fans Rusia. ”Pusat mafia paling kuat di Prancis terletak di Marseille, Paris, dan Lyon. Selain mafia dari Corsica dan Aljazair, dari negara-negara pecahan Rusia juga kuat,” tuturnya.

Clement bersyukur Rusia dan Inggris tersingkir. ”Kalau kamu masih ingat, pada Piala Dunia 1998, Inggris juga melakukan kegilaan yang sama. Sialnya, mereka mengacau saat melawan Tunisia,” katanya.

Masalahnya, banyak warga keturunan Tunisia di Marseille. Alhasil, fans Inggris jadi buruan. ”Bayangkan, fans Inggris sampai dicari di hotel-hotel oleh warga keturunan Tunisia. Kacau saat itu,” ujar pria yang mengidolakan Olympique Marseille itu. (*/ca)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait