Prabowo: Elite Gagal Urus Negara

Prabowo: Elite Gagal Urus Negara

  Senin, 18 March 2019 09:13
ANTUSIAS: Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto berkunjung ke Pontianak kemarin. Prabowo disambut antusias oleh para pendukungnya di Istana Kadriah untuk berpidato. SHANDO SAFELA/HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Terima Gelar Datuk Seri Setia Negara dari Istana Kadriah

PONTIANAK - Calon Presiden (Capres) Nomor Urut 02 Prabowo Subianto melaksanakan safari politiknya ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Minggu (17/3). Kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra ke Bumi Khatulistiwa ini dalam rangka silaturahmi akbar serta menyampaikan pidato kebangsaan. 

Prabowo dalam pidatonya mengatakan, masyarakat sudah cukup mengerti apa yang terjadi di negara ini. Ia mengaku sudah berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dan masyarakat sangat ingin ada perubahan yang lebih baik terhadap bangsa ini.

Mantan Danjen Kopassus itu menyoroti masalah-masalah bangsa yang terjadi saat ini. Salah satunya adalah para elite negara yang dianggap tidak benar. Masih banyak para pejabat dan pimpinan masyarakat yang hanya memikirkan diri sendiri. Tidak peduli terhadap rakyat dan hanya ingin memperkaya diri sendiri.

"Jadi di negara manapun, negara baru bisa maju dan sejahtera kalau elitnya benar, di Indonesia tidak tahu ada apa, saya tidak mengerti ada penyakit apa yang kena di elit Indonesia ini," ungkapnya kepada ribuan masyarakat yang hadir di Halaman Istana Kadriah, Minggu (17/3) siang.

Ia menilai elite di Indonesia kebanyakan masih memikirkan diri sendiri. Meski diakuinya ia sendiri merupakan bagian dari elite, tapi yang sudah bertaubat. "Saya elite. Saya bagian dari satu persen, tapi saya mengerti bahwa elite Indonesia gagal mengurus Indonesia," ucapnya lantang. 

Selain itu, Prabowo juga menyoroti masalah kekayaan negara yang saat ini justru banyak diambil oleh luar negeri. Termasuk di Kalbar ini, yang menurutnya sangat kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Ia lantas mempertanyakan ke mana larinya keuntungan dari SDA yang ada. "Ada karet, kelapa sawit, batu bara, bauksit," ungkapnya.  

Lebih lanjut dijelaskannya bauksit merupakan bahan baku untuk membuat alumina dan aluminium. Seharusnya bahan baku tersebut bisa digunakan untuk membuat mobil, pesawat, kereta api, televisi dan peralatan lainnya. Namun yang ia sayangkan belum ada pabrik untuk memproduksi peralatan-peralatan tersebut. "Jadi kekayaan kita dibawa, dikirim ke luar negeri, diolah di luar negeri, lalu kita impor dari luar negeri," ucapnya. 

Ia pun mengingatkan jangan sampai masyarakat selamanya menjadi penonton di negeri sendiri. Hanya menjadi pekerja untuk segelintir pemilik modal dan mendapat gaji yang rendah. Hal itu dianggapnya sangat tidak sesuai dengan amanat UUD 1945. 

"Pasal 33, coba baca ayat tiga. Bumi dan air dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat," ujarnya.

Untuk memperbaiki negara ini, Prabowo menyatakan sudah mengumpulkan para pakar dan orang-orang cerdas. Yakni mereka yang mau jujur dan mau menyumbangkan pemikirannya untuk kesejahteraan rakyat. Ia yakin masih ada orang pintar yang berhati bersih dan mau memperjuangkan kebutuhan masyarakat Indonesia. 

"Saya tegaskan tidak akan membiarkan masyarakat menderita sementara segelintir orang mendapatkan keuntungan yang terlalu besar. Kalau mau hidup seperti itu jangan tinggal di bumi Indonesia," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Pontianak Syarif Machmud (Melvin) Alkadrie menyampaikan beberapa harapannya kepada Prabowo Subianto. Pertama adalah terkait pengakuan kepada Sultan Hamid II sebagai pencipta lambang negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila.

"Mudah-mudahan di 2019 beliau (Prabowo) bisa memperjuangkan. Sudah lama kami perjuangkan agar Sultan Hamid II, Sultan Pontianak ke-7 diakui sebagai pencipta lambang negara," ungkapnya. 

Selain itu Melvin juga berharap sesuai keinginan pihak Kesultanan Kadriah Pontianak, agar nama bandara Supadio, Kubu Raya bisa diubah menjadi Bandara Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang merupakan pendiri Kota Pontianak. "Insyallah mudah-mudahan dengan kedatangan beliau (Prabowo), semuanya menjadi aman, Indonesia tetap bersatu dengan berbagai macam suku bangsa. NKRI tetap harga mati," pungkasnya. 

Menanggapi harapan dari pihak istana Kadriah, Prabowo mengakui memang benar yang merancang lambang negara Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II. Ia berjanji akan memeriksa semua dokumen sejarah tersebut dan memperjuangkan agar Sultan Hamid II benar-benar diakui sebagai perancang lambang negara. "Insyallah (jika) saya presiden, kami akan kukuhkan," ucapnya. 

Meski saat ini sistem negera Indonesia sudah menjadi republik, namun ia menganggap kerajaan adalah bagian dari sejarah, budaya dari nenek moyang bangsa Indonesia. "Kalau bukan kita yang menghormati, siapa lagi," pesannya.  

Seperti diketahui antusias warga dari berbagai lapisan masyarakat cukup tinggi menyambut kedatangan Prabowo  di Kalbar. Sejak pagi, warga sudah tumpah ruah di jalan raya, mereka berdiri di beberapa titik di sepanjang jalan dari bandara Supadio menuju Istana Kadriah. Sementara di Istana Kadriah, ribuan masyarakat hadir memadati kawasan tersebut. 

Salah satunya Feri (47) warga asal Kabupaten Sambas yang rela berangkat ke Pontianak sejak dini hari. Ia mengaku sangat menginginkan perubahan yang lebih baik terhadap masyarakat. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir itu yakin sosok Prabowo bisa membawa negara ini sejahtera. "Kami butuh pemimpin yang tegas dan memikirkan rakyatnya seperti Pak Prabowo," ucapnya. 

Dianugerahi Gelar Kebangsawanan

Dalam kunjungannya tersebut, Prabowo Subianto juga sempat dianugerahi gelar adat kebangsawanan dari Kesultanan Kadriah. Ia dinobatkan sebagai Datuk Seri Setia Negara, yakni seorang bangsawan di Kesultanan Pontianak.

Penobatan yang diberikan Sultan Pontianak Syarif Machmud (Melvin) Alkadrie dilaksanakan sesaat setelah kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra itu di Istana Kadriah. Prosesi sumpah dan janji setia berlangsung khidmat, dibacakan oleh Pangeran Mas Perdana Agung Syarif M Fasya (Febri) Alkadrie di hadapan masyarakat yang hadir. 

Dalam sumpah dan janji itu, Prabowo sebagai Datuk Seri Setia Negara diharapkan bertanggung jawab untuk selalu menjunjung tinggi syariat Islam, Alquran dan sunah di samping juga menjaga adat budaya di negeri ini. 

"Datuk Seri Setia Negara merupakan seorang bangsawan di Kesultanan Pontianak. Jaga dan lindungilah harkat dan martabat kesultanan Pontianak, sebagaimana ia mengikat menjadi saudara dunia dan akhirat," ucap Syarif M Fasya. 

Sementara itu, Prabowo Subianto merasa sangat bangga atas gelar yang diberikan kepadanya. "Saya mendapat kehormatan besar diberi gelar Datuk Seri Setia Negara. Ini penghormatan yang luar biasa. Terima kasih," ucapnya saat menyampaikan pidato. 

Ia berharap selalu diberi kekuatan untuk tidak mengecewakan masyarakat Kalbar termasuk seluruh masyarakat di Indonesia. Prabowo berjanji akan selalu menegakkan keadilan, kemakmuran serta keamanan untuk semua. "Semua suku, agama, ras dan golongan akan kami bela dan lindungi. Akan kami hormati, itulah Bhinneka Tunggal Ika," tutupnya.(bar)

 

 

Berita Terkait