PR yang Efektif dan Produktif

PR yang Efektif dan Produktif

  Rabu, 7 September 2016 09:30   771

Oleh: Y PRIYONO PASTI

 

PEKERJAAN Rumah (PR), kini tengah menjadi sorotan sejumlah pihak tak terkecuali mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Dengan alasan untuk memacu kognitif siswa dan meningkatkan mutu sekolah, banyak sekolah memberlakukan aturan memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada siswanya.

Pertanyaannya, bagaimana jika jumlah PR terlalu banyak? Bukankah siswa tak punya waktu untuk mengolah dan mengendapkan pemahamannya atas PR yang dikerjakannya? Bukankah sesungguhnya siswa tak belajar apa pun, kecuali sekadar menghabiskan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan PR? Seberapa banyak PR yang ideal yang dikerjakan siswa agar PR itu efektif dan produktif? Tulisan ini mengulasnya.

Belakangan ini, atas nama mengajari siswa bekerja (belajar) keras, meningkatkan pemahaman dan prestasi siswa terhadap materi yang disampaikan guru, serta meningkatkan kualitas pendidikan, tak jarang siswa harus mengerjakan dan menyelesaikan sejumlah PR yang kadang tak masuk akal. Bayangkan jika sampai 3 guru memberikan PR dengan tenggang waktu untuk mengerjakannya antara 90 hingga 120 menit dan harus dikumpulkan pada waktu yang bersamaan. Klenger, bukan?

Buntut dari PR yang demikian banyak itu, tak hanya siswa yang sibuk. Semua anggota keluarga di rumah ikut sibuk. Sibuk ikut tanya Mbah Google. Sibuk ikut browsing di internet. Sibuk mencari jawaban atas soal-soal yang diberikan guru. Semua ikut mengerjakan. Padahal, keterlibatan orangtua dalam membantu anak-anak mereka mengerjakan PR seharusnya dibuat seminimal mungkin. Orangtua hanya menjadi fasilitator.

Mencermati banyaknya guru yang memberikan PR, terutama di satuan pendidikan dasar dan menengah, ada kesan kuat banyak guru yang beranggapan makin banyak PR makin baik karena siswa akan belajar serius. Apakah benar demikian? Tidakkah itu hanya menambah beban siswa, tidak efektif, dan kontraproduktif dari visi dan misi pendidikan yang sesungguhnya?

 Dari sejumlah riset terungkap, ketika PR begitu banyak dan siswa tak punya waktu untuk mengolah dan mengendapkan pemahamannya  atas PR yang dikerjakannya, sesungguhnya siswa tak belajar apapun. Jika ini yang terjadi dan tidak disadari oleh guru, bukankah ini kekonyolan di jagat pendidikan kita yang sekonyol-konyolnya?

Piaget (dalam B.W. Nugroho, 2013:140) mengajarkan bahwa pemahaman akan terjadi dan akan semakin diperdalam hanya jika otak diberikan kesempatan untuk menata informasi baru, sampai ia menemukan koneksinya dengan pengetahuan yang tersimpan dalam memori. PR mestinya mengacu dan memperhatikan hal ini agar terjadi proses belajar di dalamnya. Konsekuensinya, tugas, PR, atau apapun namanya, harus dirancang dan dipilih yang paling esensial, yang akan memfasilitasi proses pemaknaan atas informasi baru yang sedang dipelajari.

Terkait PR yang terlalu berat, terutama bagi siswa SD, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengkritisinya. Menurutnya, beban pendidikan yang terlalu berlebihan tidak bagus untuk tumbuh kembang anak. Baginya, PR lebih baik dikerjakan di sekolah.“Selama ini selalu berprinsip bersakit-sakit dahulu Insya Allah pangkal bahagia. Ini harus diubah biarkan anak-anak kita bahagia. Mereka masih sekolah dasar masih butuh tumbuh kembang dengan bermain,” demikian Anies.

Menelusuri sejumlah sulur pengetahuan yang terserak di sejumlah media, agar PR itu efektif dan produktif, memberi PR ada batasnya. Dari segi lamanya waktu untuk mengerjakan PR, sejumlah studi merekomendasikan antara 50 hingga 120 menit untuk level SMP, dan hingga 180 menit untuk level SMA.

Leone & Richard (1989) dan Bond & Smith (1966) menunjuk angka 50 menit sebagai jumlah menit keseluruhan yang seharusnya dihabiskan siswa untuk mengerjakan PR. Penelitian Strang (1975) dan Keith (1982) merekomendasikan angka 60 menit. Sementara riset yang dilakukan Departemen Pendidikan Pennsylvania 1973 (dalam B.W. Nugroho, 2013:141) merekomendasikan 90 hingga 120 menit. Angka-angka itu adalah jumlah menit total per hari, BUKAN per mata pelajaran.

PR yang dipersiapkan secara baik dan proporsional sesungguhnya mempunyai efek positif dalam menumbuh-kembangkan semangat kerja keras di kalangan siswa. PR merupakan salah satu bentuk tantangan untuk mendorong siswa meningkatkan kualitas belajar, mendorong kreativitas, dan melatih rasa tanggung jawabnya. PR termasuk salah satu dari sembilan strategi pengajaran yang paling efektif. Karena itu, PR harus diberikan.

Akan tetapi, guru mesti menyadari bahwa strategi pengajaran ini efektif hanya jika PR diberikan secara tepat, dalam waktu yang tepat, dan dalam jumlah yang proporsional. Karena itu, guru harus sungguh memahami hakikat PR itu bagi siswa.

Guru harus merancang PR sedemikian rupa dan memilih materi yang esensial. Hal lain yang tidak kalah pentingnya, guru harus mengoreksi, membahas, dan memberikan umpan balik (feed back) yang bersifat korektif dan konstruktif. Dengan demikian, PR tidak saja memacu kognitif siswa, juga mengasah aspek afektif sosialnya dan meningkatkan keterampilan psikomotoriknya. Semoga!

 

*) Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP Santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak