Potensi Longsor dan Banjir Meningkat

Potensi Longsor dan Banjir Meningkat

  Senin, 26 September 2016 09:22
BANJIR BANDANG: Palang Merah Indonesia (PMI) mengerahkan kendaraan ampibi Hagglund untuk membantu evakuasi korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat, kemarin. Menurut laporan yang diterima BNPB, banjir tidak hanya terjadi di Garut tetapi juga di sejumlah daerah lain. RAKA DENNY/JAWAPOS

Berita Terkait

JAKARTA – Banjir bandang dan tanah longsor masih terus terjadi pada awal musim penghujan. Kemarin (25/9), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima sedikitnya tiga laporan tanah longsor dan banjir. Dilaporan seorang warga menjadi korban dan ratusan lainnya harus mengungsi.

Dari laporan BNPB, seorang warga yang meninggal itu tertimpa tanah longsor di Dusun Tambak Sari, Desa Sidengok Kec Pejawaran, Banjarnegara, Jawa Tengah. Seorang pemuda bernama Nurhaidin, 21, tewas setelah tertimpa tebing tanah setinggi 15 meter saat memperbaiki saluran air di belakang rumahnya. Korban baru ditemukan sekitar pukul 10.30 atau tiga setengah jam setelah kejadian. 

”Longsor dipicu hujan deras sejak Sabtu siang jam 12.00 hingga malam hari,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kemarin (25/9). Selain seorang korban jiwa, longsor juga menyebabkan sebuah rumah yang dihuni sembilan orang termasuk korban juga rusak parah.

Banjarnegara memang menjadi kawasan yang rawan longsor. Berdasarkan catatan BNPB, pada pertengahan Juni lalu ada enam korban meninggal dunia dan 71 orang mengungsi. Sedangkan pada akhir Maret sedikitnya 344 orang harus mengungsi karena longsor.

Selain di Banjarnegara, BNPB juga menerima laporan banjir bandang di Desa Montong Ajan Kec Praya Barat Daya, NTB.  Banjir bandang itu menimpa dusun Torok Aik Belik I dan II pada Sabtu malam (24/9). Sedikitnya 93 orang, 30 orang diantara anak-anak, harus diungsikan ke rumah warga yang aman. 

Banjir akibat hujan deras yang membuat sungai meluap juga terjadi di Lombok Barat. Tepatnya di Dusun Buncit dan Dusun Petak  Desa Kebon Ayu Kec. Lembar. Sedikitnya 350 kepala keluarga harus mengungsi karena luapan sungai Labuan kiriman dari Lombok Tengah. Pada waktu bersamaan naiknya air laut di Selatan Pulau Lombok. ”Masyarakat sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi demikian pula dengan sapi juga dievakuasi,” terang Sutopo.

Sedangkan khusus untuk banjir bandang di Garut, BNPB bersama instansi terkait terus mencari korban. Mereka memperluas lokasi pencarian 20 korban hilang hingga ke kawasan Bojonglarang, Cimacan, Lapangan Paris, Waduk Jatigede dan Kampung Cusurat Kecamatan Wado Kabupaten Sumedang. 

Hingga kemarin (25/9), tercatat 33 orang korban tewas, 20 hilang, 35 orang luka-luka dan 6.361 orang mengungsi. Pendataan sementara terdapat 2.049 rumah rusak yang meliputi 283 rumah hanyut, 605 rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang dan 961 rumah rusak ringan. ”Kendala pencarian korban adalah luasnya wilayah yang terdampak banjir bandang,” kata Sutopo.

Potensi hujan lebat pada awal musim penghujan sebenarnya sudah diprediksi oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Musim penghujan tahun ini memang maju dari periodesasi musim yang normal. Biasanya, September hingga November jadi masa transisi atau pancaroba dari musim kemarau ke penghujan. Tapi, saat ini musim penghujan sudah dimulai. 

”Awal kemarau juga maju di Juni sampai Juli. Itupun juga kemarau basah dan singkat waktunya,” ujar Kepala Bagian Humas BMKG Hary T. Djatmiko , kemarin (25/9). ”Seolah tahun ini tidak ada kemarau,” imbuh dia.

Tahun lalu juga ada anomali cuaca. Bedanya, tahun lalu musik kemaraunya kering sehingga musibah yang lebih sering muncul adalah kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan tahun ini karena basah, potensi banjir bandang dan tanah longsor lebih dominan. Selain itu hujan disertai angin kencang juda harus diwaspadai.

Hary menuturkan indikasi terjadinya hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang salah satunya seharisebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Selain itu, pada pagi hari sekitar pukul 10.00 muncul awan cumulus berbentuk putih berlapis-lapis lantas berubah cepat jadi Cumulonimbus (Cb) atau awan gelap. ”Indikasi lainnya terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri,” ujar dia. 

Terpisah, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial menuturkan bahwa mereka sebenarnya sudah memprediksi longsor di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Peringatan tersebut telah dikirimkan pada awal September lalu. ”Banjarnegara juga termasuk wilayah yang sudah kami cantumkan dalam peringatan itu,” ujar Syahrial, kemarin (25/9).

Dalam peringatan yang dikirimkan oleh Badan Geologi itu potensi pergerakan tanah di Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara itu tergolong kategori sedang hingga tinggi. Tapi, tidak terancam banjir bandang. Potensi menengah dan tinggi itu berarti jika ada hujan lebat dan lama akan menyebabkan pergerakan tanah alias tanah longsor. ”Terutama di daerah yang berbatasan dengan lembah sungai dan tebing jalan,” kata Syahrial. (jun/bil)

Berita Terkait