Potensi Komoditas Durian Besar

Potensi Komoditas Durian Besar

  Jumat, 20 July 2018 10:00
POTENSI EKSPOR: Durian mulai membanjiri Kota Pontianak dan sekitarnya. Kebanyakan (seperti yang dikatakan para penjual) dipasok dari Balai Karangan. MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 

Harusnya Bisa Ekspor

PONTIANAK – Pasar durian semakin besar seiring dibukanya perdagangan bebas Indonesia dengan negara-negara Asean dan Tiongkok. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak Andreas Acui Simanjaya mengatakan Kalimantan Barat sejatinya bisa menjadi pusat penghasil durian. 

“Durian merupakan komoditas yang cukup banyak peminatnya nya di kota Pontianak ditunjang dengan daya dukung produksi dari berbagai kabupaten kota yang ada di Kalimantan Barat,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Menurut dia, untuk menjadi sentra durian, banyak hal yang harus dilakukan. Selanin mempertahankan kemampuan produksi petani, pemerintah juga harus mempertahankan galur unggul hasil seleksi alam yang khas daerah ini.

“Mempertahankan produksi hal ini perlu kesadaran dan dukungan pemerintah melalui instansi terkait. Perlu ada kesadaran pimpinan daerah bahwa setiap musim durian, uang mengalir dari kota ke desa melalui transaksi jual beli buah durian. Nilainya sangat besar sehingga ada uang yang beredar di kampung tempat durian dihasilkan,” jelas dia.

Acui menyebut, nilai uang yang beredar di suatu daerah kabupaten kota akan membantu aktivitas ekonomi daerah tersebut dan meningkatkan kesejahteraan masyaraka nya. Oleh sebab itu perlu dibantu subsidi berupa pupuk dan sarana produksi lainnya. 

Bantuan teknis juga bisa  termasuk pembuatan saluran dan pintu air untuk mengendalikan musim berbunga dan berbuah durian sehingga sepanjang tahun durian asli dapat berbuh. Selain itu pemerintah juga bisa membantu memodifikasi produksi untuk olahan lanjutan dari buah durian, sehingga harga jual jadi tinggi dan ekonomi petani tidak terimbas saat harga durian jatuh di pasaran. 

Dia mengatakan, secara varian, durian di Kalbar sangat banyak jenis, rasa dan penampilannya.  “Semua ini hasil seleksi alam yang telah terjadi sejak lama. Sebab itu ada sangat banyak jenis durian unggul lokal dengan penamaan masing masing di daerah nya dengan rasa, warna dan kualitas ketahanan simpan yang berbeda,” imbuh dia.

Sayangnya, sejak puluhan tahun lalu setelah ada aturan soal pemanfaatan kayu alam, batang durian jadi alternatif untuk keperluan kayu. Sehingga petani mulai menjual pohon duriannya untuk mendapatkan uang di luar musim durian. Satu pohon bisa menghasilkan uang puluhan juta dari kayunya, namun selama tak ada durian yang dipanen lagi.

Hal lain yang cukup miris, klanjut dia, ada juga batang durian yang ditebang karena dibeli oleh peneliti dari negara lain. Setelah bibitnya diambil lalu diakui sebagai durian hasil negaranya. “Jadi maksud dari penebangan ini supaya kita tidak lagi punya induk nya dan tidak dapat memproduksi bibit durian dengan galur dan keunggulan serupa,” tukas dia.

Contoh Galur hasil alam yang berhasil diperbanyak oleh Malaysia seperti musang king dan duri hitam, akhirnya buah nya menjadi buah durian termahal. “Ekspornya keman- mana termasuk ke Singapura sebagai durian untuk konsumsi kalangan kelas atas, bibitnya pun dijual dengan harga tinggi. Bibit musang king dan duri hitam untuk ukuran kecil saja di Pontianak dijual sebatang harganya mencapai Rp300 ribu,” papar dia.

Menurutnya, jika Kalbar tidak melakukan inventarisasi, maka pencurian bibit durian unggul hasil seleksi alam dari Kalbar akan terus terjadi. “Seperti pertanyaan yang sampai saat ini menggaung dalam kepala saya, mungkinkah Durian Musang King dan Durian Duri Hitam serta banyak jenis durian unggul yang dikembangkan pemerintah negara Jiran sesungguhnya adalah bibit unggul dari Kalbar,” ucap dia.

Sebab itu, tutup dia, dinas terkait dibantu oleh swasta yang berminat harus segera melakukan tracking dan indentifikasi durian unggul asal Kalbar. Lantas kemudian membuatnya menjadi punya nilai ekonomi dalam skala produksi massal. “Jangan sampai terjadi lagi setelah puas bibit unggul kita diambil dari pohon induknya kemudian pohon milik petani dibeli dan ditebang,” pungkas dia. (ars) 

Berita Terkait