Pontianak Pecahkan Dua Rekor Muri

Pontianak Pecahkan Dua Rekor Muri

  Minggu, 15 Oktober 2017 09:00
PECAHKAN REKOR: Ribuan pelajar mengikuti Khataman Al-Quran massal di Masjid Raya Mujahidin Pontianak,Sabtu(14/10). Ribuan peserta yang hadir memecahkan rekor khataman Al-Quran yang diberikan Museum Rekor Indonesia (MURI). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

· Khataman Al Quran  Kalahkan Musi Rawas 

· Pokok Telok  Ungguli Indragiri Hilir 

PONTIANAK-Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) melalui khataman Al Quran Massal pelajar sebanyak 27649 peserta dan sajian pokok telok sebanyak 2356. Dua rekor tersebut memecahkan jauh rekor sebelumnya di mana khataman Al Quran massal sebanyak 12000 peserta dan pokok telok 2025. Pemecahan dua rekor itu diserahkan langsung Manajer Muri, Andre Purwandono kepada Wali kota Pontianak, Sutarmidji di Masjid Raya Mujahidin, Sabtu (14/10) pagi.

"Ada dua rekor Muri dipecahkan Pemerintah Pontianak. Pertama khataman Al Quran massal dan sajian pokok telok terbanyak. Ini kegiatan luar biasa superlatif. Semoga membuat Kota Pontianak berkah, aman dan tenteram tiada gesekan," terangnya usai pemecahan dua rekor Muri.

Dijelaskan dia, rekor khataman Al Quran massal sebelumnnya sebanyak 12 ribu orang di Kabupaten Musi Rawas, kini terpecah di Pontianak dengan jumlah peserta mencapai 27 ribuan pelajar. Selain itu, sajian pokok telok terbanyak yang dipegang Kabupaten Indragiri Hilir, Riau sebanyak 2025 dipecahkan juga oleh Kota Pontianak sebanyak 2356 sajian pokok telok.

Dijelaskan dia, sistem pemecahan rekor Muri khataman Al Quran pelajar dilakukan pelajar dengan membaca Al Quran di sekolah lalu penyelesaian khatamannya serentak di sini (Masjid Mujahidin).

Di tempat sama, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berujar, bahwa program membaca Al Quran pelajar yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang boleh dikatakan berhasil. Tahun ini 27 ribu pelajar khatam Al Quran. Jika ditotalkan pesertanya ini sama dengan kelulusan pelajar dua angkatan.

Menurut Mijdi, program membaca Al Quran bagi pelajar juga ada hubungannya dengan pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter harus dimulai dari ajaran agama. Dengan memiliki pemahaman agama yang dianut anak termasuk isi kandungan dari kitab suci masing-masing kalau Islam Al Quran diyakini dia anak dapat terhindar dari pergaulan negatif. "Hanya ajaran agama yang bisa memfilter itu dan akar budaya yang berlandaskan agama," terangnya.

Untuk khataman Al Quran massal ini adalah kali ke dua. Program ini sudah dijalankan Pemerintah Pontianak sejak enam tahun lalu dengan mewajibkan anak SD bisa baca tulis Al Quran dan SLTP anak sudah harus khatam Al Quran. Dalam upayanya, anak dididik baca Al Quran di masjid, TPA, Musola dan sekolah.

Menurut Midji, program ini harus berkelanjutan siapapun wali Kotanya nanti program ini harus tetap berjalan. Karena ini salah satu media memfilter perkembangan iptek penangkal yang tak sesuai budaya lokal.

Pemecahan rekor Muri tak hanya Khataman Al Quran Massal saja. Sajian pokok telok yang dibawa perwakilan sekolah Pontianak dalam rangkaian Khataman Massal juga memecahkan rekor Muri dengan total 2356 pokok telok, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya oleh Kabupaten Indragiri Timur, 2025 pokok telok.

Dalam kesempatan ini, sekaligus melestarikan adat budaya Pontianak. Saat khataman sudah jadi tradisi membawa pokok telok, ayam panggang dan pulut kuning. Dari pelaksanaan ini tambahnya, banyak hal bisa digali dan dipromosikan. Hal bersifat tradisional harus selalu digaungkan.

Di tempat sama, Ketua DPRD Pontianak, Satarudin menilai kegiatan Khataman Al Quran yang jadi program Pemerintah ini berhasil. "Jumlah pelajar khatam tahun ini mencapai 27 ribu pelajar. Ini patut diapresiasi," ungkapnya.

Program khataman Al Quran masal harus terus dilanjutkan. Kalau perlu pemecahan rekor ini bisa dilakukan tiap tahun. "Kalau bisa khataman massal ini bisa sampai 50 ribu pelajar," terangnya.

Evaluasi,  kata Satar,  tentu harus dilakukan untuk melihat letak kekurangan tahun ini. Mengingat jumlah peserta mencapai puluhan ribu koordinasi harus dikuatkan. Tempat peserta yang mengikuti kegiatan ini harus jelas. Tapi secara garis besar kegiatan ini sudah berjalan sesuai harapan. “Pendataan guru ngaji kampong juga harus dilakukan. Insentif sebagai bentuk penghargaan tentu akan diupayakan,” tutupnya.(iza)

Berita Terkait