Pontianak Luluh Lantak Dibombardir Jepang, Ribuan Korban Meregang Nyawa

Pontianak Luluh Lantak Dibombardir Jepang, Ribuan Korban Meregang Nyawa

  Jumat, 21 December 2018 09:58
kondisi sekolah HCS sebelum dibom Jepang

Berita Terkait

Mengingat Tragedi Bom Kapal Terbang Sembilan, 19 Desember 1941

Jumat 19 Desember 1941, Pontianak dibombardir Jepang. Gelegar dahsyat seakan menandingi amuk halilintar membelah bumi. Maut menghampiri dan meluluhlantakkan penjuru kota yang saat itu baru berusia sekitar 170 tahun. Dalam kejadian itu, Kota Pontianak mulai kehilangan satu generasi terbaiknya. Berikut catatan sejarawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Usman?

-----

LEBIH setengah abad sudah. Waktu itu, Jumat, antara pukul 10–11 siang. Sebagian masyarakat muslim bersiap salat Jumat. Kota Pontianak tenteram dengan cuaca cerah. Meski pasang Sungai Kapuas sedang menggenang. 

Saat itu aktivitas di Pontianak berlangsung seperti biasa. Di kawasan militer keresidenan Pontianak, sekitar Jalan Sudirman dan Nusa Indah tampak tenang.  Di kelas sekolah, murid mendengar guru menyampaikan pelajaran. Di kantor para pekerja menekuni kedinasannya. Kaum ibu masih sibuk mengurusi dapur. Anak-anak ceria bermain, dan para pekerja pun menjalani rutinitasnya. Aktivitas pagi itu normal. 

Di penjuru Kampung Bali, terdapat sekolah HCS  (Holland Chinesche Scholl). Sebagaimana lazimnya lembaga pendidikan lain, sekolah ini juga menjalankan proses belajar mengajar. Seisi kota lancar dengan kondisi yang tentram. Awan berarak merona langit khatulistiwa yang biru. Namun, detik-detik malapetaka datang tak terduga. Maut menghampiri seluruh penjuru kota. 

Tiba-tiba, dari utara sembilan pesawat berkejar-kejaran. Dari atas bumi memandang ke angkasa, seakan di atas sana ada sembilan burung elang saling mendahului untuk menyambar mangsanya. Tak hanya di HCS, para murid dan guru di banyak sekolah, penghuni kantor, bahkan segenap penduduk berhamburan menyaksikan “atraksi” di langit Kota Pontianak menjelang tengah hari itu.

Anak-anak usia sekolah dasar begitu gembira, terutama di HCS Kampung Bali yang lokasinya tak seberapa jauh dari kawasan militer Pontianak. Mereka melambai-lambaikan tangan. Guru mereka pun sontak membolehkan para murid menonton kapal-kapal terbang yang berputar mengeliling atas muka bumi Pontianak.

Itu suatu permulaan sejarah kelam pastinya. Entah dari pesawat yang mana di antara sembilan kapal terbang milik militer Jepang itu, seketika “bertih maut” dijatuhkan. Suasana yang semula riang gembira, senyum ceria bahagia seketika berubah menjadi teriakan histeris dengan suara penuh lara. 

Bom meletus. Gelegar dahsyat seakan menandingi amuk halilintar membelah bumi. Sesaat dalam sekali serangan udara itu, luluh lantaklah seisi kota. Utamanya gedung HCS, bangunan itu porak poranda, ambruk laksana dihantam gempa. Hari itu, antara pukul 10 hingga 11 siang, beribu korban meregang nyawa. 

Gedung HCS konon menjadi korban salah sasaran jatuhnya bom. Berpuluh murid tewas. Lambaian tangan mereka kepada orang tua saat tadi paginya berangkat sekolah, kini dikenang sebagai lambaian terakhir. Sejak pukul 11 siang, Kota Pontianak berubah total. Kota yang sedang hidup mati seketika. 

Angkasa raya hijau menyala, gelap gulita dicemari asap bekas pemboman. Kini, 77 tahun setelahnya, tragedi itu dikenang sebagai Peristiwa Nahas Kapal Terbang Sembilan. Ada juga yang mengingatnya sebagai Peristiwa Bom Sembilan. 

Pontianaklah sesungguhnya kota paling awal di Indonesia yang diduduki militer Dai Nippon Jepang di masa Perang Dunia II. Peristiwa nahas ini kelak akan mencapai klimaksnya pada pembantaian satu generasi terbaik Kalimantan Barat, 28 Juni 1944, tiga tahun setelah Pontianak dibombardir. Pembantaian itu dikenang sebagai Peristiwa Mandor yang diperingati melalui Hari Berkabung Daerah.

Meski terkesan asing dalam ingatan, Peristiwa Bom Kapal Terbang Sembilan pada Jumat 19 Desember 1941, membuat Kota Pontianak mulai kehilangan satu generasi terbaiknya. (mrd)

Berita Terkait