Pontianak Ingin Produksi Listrik Bertenaga Surya

Pontianak Ingin Produksi Listrik Bertenaga Surya

  Rabu, 28 Oktober 2015 08:55
SHANDO/PONTIANAK POST

PONTIANAK - Pemerintah Kota Pontianak dan Denmark membahas langkah lebih lanjut penandatanganan nota kesepahaman yang telah ditandangani sebelumnya oleh Wakil Wali Kota Edi Rusdi Kamtono. Pertemuan membahas kerja sama itu digelar di Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Selasa (27/10).

 
Sutarmidji berharap nota kesepahaman tidak sekadar di atas kertas tetapi harus segera direalisasikan. Dia mengatakan Pemkot Pontianak selalu serius pada setiap kerja sama yang telah disepakati. “Akan segera dirumuskan langkah-langkah teknis untuk melancarkan penerapan MoU ini,” ungkapnya.

Pekan lalu, Edi Kamtono menandatangani nota kesepahaman dengan Wali Kota Bornholm, Winni Grosbel di Kedutaan Besar Denmark di Jakarta. Penandatangan itu disaksikan Ratu Denmark, Margrethe II. Tertuang beberapa item di dalamnya, yakni pengembangan teknologi solar cell atau panel surya, pengolahan sampah dan limbah menjadi energi, pengemasan produk atau packaging, serta produk-produk industri rumah tangga yang bisa dipasarkan di Denmark.

Terhadap kerja sama dalam pengembangan teknologi panel surya atau solar cell, Sutarmidji ingin Kota Pontianak bisa memproduksi sendiri untuk digunakan masyarakat secara luas. “Karena secara geografis, Pontianak punya sinar matahari yang melimpah mengingat kota ini dilalui garis Khatulistiwa,” tuturnya.

Bidang pengolahan sampah, dirinya meminta melalui kerja sama ini bisa ditemukan cara pengolahan sampah yang terbaik. Alasannya kondisi tanah di Kota Pontianak bergambut dan rentan terbakar. “Mereka (Denmark) sudah cukup maju dalam hal penanganan sampah menjadi energi listrik.”

Knud Andersen, Chairman of The Board of Ostkraft mengatakan ada dua hal penting yang tertuang dalam nota kesepahaman antara Pemkot Pontianak dengan Pemerintah Denmark, yakni pengolahan limbah dan sampah serta sumber-sumber energi hijau. Berbeda dengan  Denmark, perlu sistem penghangat lantaran cuaca di negeri itu dingin.

Sebaliknya Kota Pontianak dengan karakter geografisnya bersuhu tropis bisa dilakukan dengan mengubahnya menjadi sistem pendingin ruangan dengan memanfaatkan energi yang ramah lingkungan serta dapat diperbaharui. “Pengolahan limbah akan menjadi satu hal yang penting karena ini berhubungan dengan penggunaan energi-energi ramah lingkungan,” paparnya.

Jan Hoybye, yang mendampingi Knud, menyebutkan Pemerintah Denmark optimistis dengan kerja sama yang terjalin ini. Terlebih, saat penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh Ratu Denmark, Margrethe II. “Ini sesuatu yang langka. Ratu kami sampai hadir menyaksikan penandatangan MoU,” katanya.(hen)