Polisi Garap Ivan Haz, Anak Mantan Wapres Kabur ke Madura

Polisi Garap Ivan Haz, Anak Mantan Wapres Kabur ke Madura

  Kamis, 25 February 2016 08:03

Berita Terkait

JAKARTA – Dugaan keterlibatan anak mantan Wakil Presiden Hamzah Haz, Ivan Haz, dalam kasus narkoba yang diungkap di kompleks Kostrad menemui titik terang. Mabes TNI dam Badan Narkotika Nasional (BNN) menyerahkan penanganan kasus Ivan ke Bareskrim Mabes Polri.

”Sudah (ditangani, Red) di Bareskrim, masih dalam rangka pemeriksaan,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso di kantor presiden kemarin (24/2). Jenderal bintang tiga yang akrab disapa Buwas itu menjawab keraguan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang sebelumnya menyatakan tidak tahu pihak yang menangani kasus Ivan.

Menurut Buwas, saat ini kasus Ivan yang berkaitan dengan narkoba masih berada dalam tahap penanganan awal Bareskrim. Ivan juga belum dinyatakan positif menggunakan narkoba karena belum ada hasil laboratorium yang memastikannya. Di luar itu, Ivan masih ditangani Polda Metro Jaya atas dugaan penganiayaan terhadap asisten rumah tangga.

Seperti diketahui, Mabes TNI dibantu BNN menggerebek jaringan narkotika di perumahan Kostrad, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Senin (22/2). Petugas menangkap jaringan narkotika yang dikendalikan Kopka BM. Kaki tangan BM dari kalangan sipil ikut ditangkap. Yakni, H, O, J, S, dan SG. Berdasar hasil tes urine, petugas juga menangkap tiga anggota TNI yang positif menggunakan narkoba. Yakni, Sertu AS, Kopka NSK, dan Pratu A. Dari pengakuan BM, ada anggota DPR yang membeli narkobanya, yakni Ivan Haz. BM juga mengatakan bahwa lima polisi menjadi konsumennya, yakni Briptu E, Aiptu AL, Aiptu AR, Bripka AB, dan Aipda W.

Berdasar informasi itu, lima polisi tersebut telah diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri. Polri berupaya membuktikan keterlibatan kelimanya lewat tes urine. Sementara itu, proses hukum lima kurir jaringan Kopka BM juga masih ditangani Bareskrim.

Di kantor presiden, Badrodin menyatakan sudah mendapat kabar perkembangan terbaru soal hasil penggerebekan jaringan Kopka BM dari panglima TNI. Anggota TNI yang dijadikan tersangka berkembang menjadi 19 orang. Kemudian, dari Polri, ada lima anggota. ”Kemudian, orang sipil, termasuk anggota DPR itu, ada sembilan,” terangnya.

Meski begitu, dia belum mendapat konfirmasi lebih lanjut mengenai penanganan Ivan Haz. ”Saya kan belum tahu apakah Ivan Haz itu ada di tempat itu atau (hanya) ada di daftar pembelian itu,” ujarnya. Kabar terbaru yang dia peroleh menyatakan bahwa lima polisi tersebut tidak berada di tempat saat razia.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan, pemeriksaan terhadap lima anggota Polri itu sedang dilakukan. Informasi dari Kostrad bahwa lima anggota tersebut membeli narkoba akan ditelusuri. ”Kelimanya tentu harus dibuktikan terlibat jaringan narkotika atau menjadi pecandu narkotik,” paparnya.

Salah satu proses yang dilakukan adalah tes urine terhadap kelimanya. Tes itu dilaksanakan secepatnya agar tidak kehilangan jejak zat kimia dalam narkoba seperti amfetamin. ”Kalau ternyata ada, tentu proses berlanjut. Sanksi terberat bisa sampai pemecatan,” jelasnya.

Agus menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Tatang Sulaiman soal anggota DPR dan lima kurir tersebut. ”TNI tidak menangkap atau merazia mereka. Namun, walau begitu, informasi itu tetap akan menjadi masukan untuk diselidiki,” jelasnya.

Di bagian lain, saat dikonfirmasi tentang keberadaan Ivan Haz dan lima kurir narkoba, Kepala Penerangan Kostrad Letkol Heru Dwi Wahana menjelaskan bahwa pihaknya tidak mengetahui secara pasti. Namun, saat razia, memang anggota DPR itu tidak ditangkap. ”Kami serahkan ke polisi kalau soal itu. Kami mengurusi yang anggota militer,” tegasnya kemarin.

Sementara itu, politisi PPP juga bingung dengan dugaan keterlibatan Ivan Haz dalam kasus narkoba. Hingga kemarin sore, konfirmasi dari yang bersangkutan belum bisa didapatkan dan upaya menggali informasi ke Polisi Militer (POM) TNI belum berhasil dilakukan. ”Belum. Sampai sekarang, belum ada konfirmasi,” kata Dimyati Natakusumah, Sekjen DPP PPP kubu Djan Faridz.

Dia menyatakan, kasus yang dialami Ivan tentu berdampak bagi PPP sebagai partai Islam. Jika informasi keterlibatan Ivan itu benar, nama baik serta harkat dan martabat partai ikut tercoreng.

Meski demikian, sanksi belum ditentukan. PPP masih akan menunggu kepastian kasus yang dihadapi Wasekjen DPP PPP kubu Djan Faridz tersebut. ”Kami lihat dulu kadarnya. Kami lihat dulu kebenarannya seperti apa,” tegas Dimyati.

Sementara itu, Ivan Haz alias Fenny Syafriansyah disebut-sebut melarikan diri ke Madura. Wakil rakyat dari PPP itu dicurigai kabur dari Jakarta demi menghindari kasus hukum yang membelitnya. Yakni, dugaan penganiayaan pembantu rumah tangga (PRT).

Hanya, keberadaan Ivan di Madura masih misterius. Hingga kemarin petang (24/2), tidak ada tanda-tanda dia ada di Madura. Dari pantauan, rumah istri Ivan di Jalan Cokro, Kota Bangkalan sama sekali tidak berpenghuni. Kondisi yang sama dijumpai di rumah istri Ivan yang lain di Jalan KH Moh. Kholil, Kota Bangkalan.

Menurut Sekretaris DPC PPP Bangkalan Subhan Aziz, Ivan tidak pernah berkunjung ke Madura sejak terpilih sebagai anggota DPR. Ivan juga tidak pernah berkomunikasi dengan DPC PPP Bangkalan. ”Kami tidak pernah berkomunikasi dengan dia (Ivan, Red),” katanya.

Subhan mengaku terkejut saat mendengar isu Ivan lari ke Madura. Subhan mengaku tahu Ivan terbelit kasus hukum dari koran dan televisi. ”Mengenai keberadaan Ivan saat ini, terus terang kami tidak tahu. Bagaimana bisa tahu, memang tidak pernah ada komunikasi,” ucapnya.

Kader PPP di Bangkalan, imbuh Subhan, kecewa dengan kelakuan Ivan. Karena itu, dia meminta DPP PPP tegas menyikapi kasus Ivan. ”Kasus Ivan ini harus menjadi pelajaran agar tidak terulang di masa mendatang,” ujarnya.

Sempat beredar kabar, Ivan lari ke Sumenep. Tapi, dikonfirmasi kepada Ketua DPC PPP Sumenep KH Baharuddin, Ivan belum diketahui ada di kabupaten paling timur Pulau Madura tersebut. ”Saya tidak tahu, dia (Ivan, Red) belum pernah ke Sumenep,” ungkapnya.

Menurut Bahar, jika benar kabur ke Madura, Ivan sangat mungkin ada Bangkalan. Sebab, rumah istri Ivan ada di Bangkalan. ”Di Sumenep tidak ada Ivan,” terang dia.

Selain kasus narkoba, Ivan Haz sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan asisten rumah tangganya. Polda Metro Jaya akan kembali memanggil Ivan setelah mangkir dari pemeriksaan. Rencananya anak mantan Wapres Hamzah Haz itu dipanggil Senin (29/2).

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Muhammad Iqbal mengatakan, panggilan tersebut diberikan setelah pria yang terpilih dari Dapil Jawa Timur XI mangkir dari pemeriksaan. Apabila dia tidak datang lagi, polda mengancam memberikan surat perintah panggilan dengan upaya paksa. ’’Kami tunggu sampai hari yang sudah ditentukan,’’ ujarnya.

Mantan Kapolres Jakarta Utara itu tidak mengetahui keberadaan Ivan. Santer terdengar, dia sedang melalukan kunker ke luar kota. ’’Kami masih cek. Itu merupakan bagian dari proses penyidikan,’’ terangnya.

Direskrimum Polda Metro Jaya Kombespol Krishna Murti menambahkan, Ivan Haz ditetapkan sebagai tersangka sesuai analisis Mabes Polri. Penyidikan terhadap Ivan juga sudah disetujui Jokowi. ’’Kami jalan terus untuk kasus itu,’’ terangnya.

Sementara itu, Kapolres Jakarta Selatan Kombespol Wahyu Hadiningrat memastikan lima anggota yang berdinas di jajaran Polres Jakarta Selatan tersebut negatif mengonsumsi narkoba. Namun, mereka saat ini masih diperiksa. ’’Negatif kok,’’ ujarnya. (nug/c10/agm)

Berita Terkait