Polisi Bekuk Bandar Narkoba

Polisi Bekuk Bandar Narkoba

  Kamis, 14 March 2019 09:06
MENANGIS: Salah satu tersangka kasus narkoba menangis saat ditemui Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono kemarin. Polda bersama BNN berhasil mengungkap peredaran sabu dan ekstasi dari Malaysia seberat lebih dari empat kilogram. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Gagalkan Peredaran Empat Kg Sabu dan 530 Ekstasi

PONTIANAK – Polda Kalbar dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kalbar menangkap sepuluh orang tersangka kasus peredaran narkotika. Polisi menyita empat kilogram sabu-sabu dan 530 butir ekstasi. 

Dari sepuluh tersangka, lima di antaranya merupakan tersangka penyalahgunaan narkotika jenis sabu dan sisanya merupakan peredaran narkotika jenis pil ekstasi. 

Untuk kasus sabu-sabu, Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono mengungkapkan bahwa mereka terbagi dua jaringan. Yakni dua tersangka jaringan dalam Kota Pontianak dan tiga tersangka jaringan Internasional dari Malaysia yang disalurkan ke Pontianak dan Singkawang.

“Untuk dua tersangka jaringan dalam Kota Pontianak itu kita tetapkan tersangkanya ada tiga, masing-masing berinisial SW (pengedar), RM (kurir), dan NR (pemilik barang). Dari ketiga tersangka tersebut, baru dua yang kita amankan, yakni SW dan RM. Sedangkan NR masih dalam upaya pengejaran,” ungkap Didi Haryono usai konferensi pers, di Mapolda Kalbar, Rabu (13/3).

Dia menjelaskan kronologi penangkapan dua tersangka tersebut dengan cara penyamaran yang dilakukan oleh tim dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar. Upaya yang dilakukan dengan berpura-pura menjadi pembeli yang hendak melakukan transaksi paketan sabu seberat dua kilogram kepada tersangka SW.

“Tim lakukan upaya penyamaran dan melakukan transaksi. Tim datangi rumah tersangka SW selaku penjual di kawasan Banjar Serasan, Pontianak Timur dan melakukan upaya pembekukan. Saat dilakukan pendalaman terhadap SW, Ia mengaku mendapat barang tersebut dari NR. Dia juga mengakui kerap melakukan transaksi sabu tersebut disebuah minimarket di Jalan Tritura,” terangnya.

Setelah diinterogasi lebih dalam, di hari yang sama ternyata SW hendak berencana bertemu dengan NR untuk melakukan transaksi di minimarket yang sama, sekitar pukul 20.00. Tim yang mengetahui hal tersebut langsung melakukan upaya pengamanan disekitar Jalan Tritura agar tak memberikan kesempatan lolos bagi NR yang bisa dikatakan bandar narkoba ini. Tentunya dengan menggunakan SW sebagai alat untuk memberi sinyal apabila transaksi sudah selesai dilangsungkan.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 20.50, tim mendapat sinyal dari SW dan langsung masuk ke dalam minimarket tempat transaksi jual beli sabu. Di saat yang bersamaan, terlihat tersangka SW sedang membawa 2 kantong plastik yang didalamnya terdapat 20 bungkus plastik transparan.

Ternyata benar, di dalam plastik tersebut berisi serbuk kristal yang diduga merupakan narkotika jenis sabu dengan berat mencapai dua Kilogram.

“Saat dilakukan penggeledahan, ternyata tim tidak mendapatkan tersangka yang diduga sebagai pemilik bahan (NR). Melainkan, tersangka RM (kurir) yang merupakan suruhan NR untuk melakukan transaksi,” lanjut Didi Haryono.

Tak lama kemudian, polisi mengamankan tersangka RM untuk dimintai keterangan lebih dalam. Hasilnya, RM buka mulut soal tempat tinggal NR selaku bandar narkoba yang dicari-cari kepolisian.

“Langsung di interogasi (RM) terkait keberadaan NR selaku pemilik bahan. Dan dapat info kalau yang bersangkutan tinggal di kawasan Tanjung Raya satu,” timpalnya.

Setelah mengetahui fakta tersebut, tim langsung bergegas menuju TKP yang diberikan oleh tersangka RM. Akan tetapi, saat melakukan penggeledahan yang disaksikan pihak RT setempat, tersangka yang dicari (NR) sedang tidak berada di lokasi tersebut. Dan diketahui NR saat itu sedang berada di rumah orang tuanya, namun sayangnya setelah dilakukan pengecekan yang bersangkutan tetap tidak dapat ditemukan.

“Saat kita coba susuri kediaman tersangka ternyata kosong. Dan dapat kabar biasanya dia (NR) berada di rumah orangtuanya. Kita telusuri lagi ke rumah orangtuanya ternyata juga tidak ada. Jadi kita putuskan balik dengan hanya bawa dua tersangka, yakni SW dan RM. Sedangkan untuk tersangka NR akan terus dilakukan pengejaran,” tandasnya.

Tak hanya itu, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar juga mengungkap jaringan penyalahgunaan narkotika jenis sabu tingkat Internasional yang meliputi Malaysia, Pontianak, dan Singkawang. Dengan tiga orang tersangka berinisial RS, LK, dan IT yang berhasil diamankan ketika hendak mengedarkan sabu seberat dua Kilogram, pada Selasa (5/3) lalu.

Didi juga mengungkapkan, dalang dari jaringan ini merupakan salah satu warga binaan lapas kelas II A Pontianak. Sang narapidana, lanjutnya, saat itu menyuruh saudaranya yang berinisial RS untuk pergi ke Kuching, Malaysia guna mengambil paketan sabu-sabu. Sesampainya disana, RS mendapat telepon dari seseorang yang memberitahukan sabu-sabu pesanannya di parkiran mobil basement Kuching Sentral.

"Salah seorang tersangka RS dapat telepon dari saudara kandungnya RA, narapidana kasus narkotika yang saat ini berada di lapas kelas IIA Pontianak," katanya.

Setelah diambil, RS lalu menyimpan barang haram tersebut ke dalam karung berisi pakaian bekas(lelong), yang kemudian diselundupkan ke Indonesia lewat jasa kuli panggul dengan melewati jalnab hutan di dekat Terminal Entikong Lama. Baru dibawa kekediaman RS di Sanggau, baru setelah itu dibawa ke Pontianak menggunakan mobil.

Sesampainya di Pontianak, pelaku kemudian membawa barang ke sebuah hotel di Jalan Gajahmada, Pontianak. Petugas yang sudah mencium pergerakan pelaku, dikatakan Kapolda memang sudah mengincar pelaku dari awal. Hasilnya, petugas berhasil menciduk RS bersama dengan sabu-sabu seberat dua Kilogram yang hendak diselundupkannya ke Singkawang tersebut.

"Setelah melakukan pengembangan, kita juga mengamankan dua orang yang diduga berperan sebagai kurir, yang rencananya akan menerima sabu. Masing-masing berinisial LKL dan IA," ujarnya.

Terpisah, BNN Provinsi Kalbar juga turut mengamankan empat orang tersangka peredaran narkotika jenis ekstasi. Dari pengembangan yang telah dilakukan, Dari keempat orang pelaku tersebut, dua di antaranya merupakan penghuni lapas kelas II A Pontianak.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala BNN Provinsi Kalbar, Suyatmo yang mengatakan kasus itu terungkap setelah pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya transaksi narkotika jenis ekstasi. Yang hendak disebarkan di sekitar Kota Pontianak, melalui jalan Trans Kalimantan, pada (25/2) lalu.

 “Masing-masing berinisial MK, JN, YD, dan RPP. Sedangkan yang merupakan warga binaan lapas IIA Pontianak adalah YD dan RPP," terang Suyatmo.  (Sig)

Berita Terkait