Plotnikov Terharu Melihat Sukhoi Terbang di Langit Nusantara

Plotnikov Terharu Melihat Sukhoi Terbang di Langit Nusantara

  Minggu, 8 July 2018 08:24
PAHAM INDONESIA: Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M Wahid Supriyadi (kiri) menyimak pidato Vladimir Plotnikov di KBRI Moskow akhir Juni lalu. AINUR ROHMAN/JAWAPOS

Berita Terkait

Tokoh-Tokoh yang Berusaha Merekatkan Hubungan Indonesia dan Rusia (1)

Vladimir Plotnikov menjadi penghubung Indonesia dengan Rusia dalam pembelian pesawat Sukhoi. Meski telah pensiun sebagai diplomat, dia siap membantu jika kedua negara hendak lebih mengeratkan hubungan. 

AINUR ROHMAN, Moskow 

SIANG itu, 1 September 2003, Vladimir Plotnikov benar-benar tidak bisa menahan perasaan. Sangat terharu, juga amat bangga ketika menyaksikan pesawat Sukhoi Su-27 untuk kali pertama terbang di langit Indonesia.

”Saya senang karena Angkatan Udara Indonesia bertambah kuat,” tutur Plotnikov saat ditemui Jawa Pos di Moskow akhir Juni lalu. 

Pada 2003, Plotnikov adalah duta besar Federasi Rusia untuk Indonesia. Dia adalah salah satu tokoh terpenting yang menjadi jembatan antara dua negara sehingga pembelian Sukhoi terealisasi. 

”Dengan pesawat terbang yang canggih, Indonesia bisa mempertahankan kedaulatan bangsa. Itu penting sekali,” lanjutnya. 

Benar kata Plotnikov. Sukhoi Su-27 memang pesawat jet yang sangat canggih dan menjadi kebanggaan besar bangsa Rusia. Pesawat single seater itu memiliki daya jelajah yang sangat jauh dan bisa bermanuver dengan lincah. 

Jenis tersebut dianggap sebagai salah satu alat tempur paling mengesankan yang pernah dibuat pada generasinya. Saat Su-27 diluncurkan untuk kali pertama pada Desember 1984, kekuatan udara Uni Soviet langsung seimbang saat melawan seteru utamanya dalam perang dingin, yakni Amerika Serikat. 

Indonesia pernah hendak membeli sebelas unit pesawat Sukhoi pada 1996. Tapi, rencana tersebut batal karena terjangan badai krisis ekonomi. 

Namun, rencana tersebut tidak pernah benar-benar terkubur. Sebab, tujuh tahun kemudian Amerika Serikat belum mencabut embargo militernya kepada Indonesia. 

Pada 5 Juli tahun ini, usia Plotnikov sudah mencapai 75 tahun. Dengan kondisi fisik yang terlihat sangat bugar tersebut, ingatannya soal lapisan proses kedatangan Sukhoi ke Indonesia pun belum retak. Pria kelahiran Istanbul, Turki, tersebut mengatakan bahwa peristiwa bersejarah itu berawal pada 5 Oktober 2002. 

Pada rangkaian perayaan hari ulang tahun TNI tersebut, panglima TNI kala itu, Jenderal Endriartono Sutarto, mengajak bicara Plotnikov di salah satu sudut Balai Sudirman, Jakarta. Panglima menegaskan bahwa pihaknya ingin memiliki Sukhoi. ”Ketika itu panglima mengatakan kepada saya bahwa dia ingin pesawat buatan Soviet. Dia tidak menyebut Rusia,” kata pria yang pernah menjadi Dubes Laos tersebut.

Pria yang menjadi duta besar Rusia untuk Indonesia pada 1999 sampai 2004 itu menjawab dengan gamblang bahwa dirinya pun sangat ingin Sukhoi mengudara di langit Indonesia. Beberapa hari kemudian Plotnikov mendapatkan undangan dari Markas Besar TNI Angkatan Udara untuk berbicara lebih mendalam soal itu. Plotnikov menangkap kesan bahwa pemerintah sangat serius untuk mendatangkan Sukhoi. 

Setelah pembicaraan tersebut, Plotnikov terbang ke Rusia dan mengunjungi markas Sukhoi di Begovoy District, Moskow. Dia juga bertemu dengan perancang utama pesawat Sukhoi di Siberia. 

Karena tidak paham perihal teknis, Plotnikov bertugas sebagai penghubung utama kedua negara. ”Saya berfungsi sebagai penarik perhatian pemerintah Rusia. Dan, saya memang berhasil,” katanya.

Pemerintah Rusia, lanjut dia, kemudian bertemu beberapa kali dengan pemerintah Indonesia di Jakarta. ”Kami mulai menyusun kontrak untuk pembelian Sukhoi,” papar dia. 

Momentum terpenting datang pada April 2003, saat presiden Indonesia ketika itu, Megawati Soekarnoputri, mengunjungi Rusia dan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Plotnikov juga berada dalam rombongan untuk mendampingi Megawati selama lawatan kenegaraan tersebut.

Plotnikov mengingat, kunjungan itu sangat cair. Pada awal pembicaraan, Mega mengatakan kepada Putin bahwa itu bukan pertemuan pertama mereka. Sejatinya, dua pemimpin negara itu sudah pernah berjumpa. 

Begitu mendengar pernyataan Mega tersebut, Putin tampak sangat terkejut. ”Di mana? Kapan?” kata Plotnikov, menirukan Putin. 

Mega lantas menjawab bahwa mereka sempat berjumpa ketika Putin masih menjabat kepala Komite Perdagangan dan Investasi Asing di Saint Petersburg pada pertengahan 1990-an. Pertemuan yang berlangsung gayeng tersebut berakhir dengan penandatanganan beberapa kerja sama perdagangan. Termasuk, pembelian 2 unit Sukhoi Su-27 dan 2 helikopter Mi-35. Kontraknya, empat alat tempur tersebut dibarter dengan 30 jenis komoditas, termasuk minyak sawit seharga total USD 192 juta. 

Empat bulan setelah pertemuan, satu pesawat Sukhoi datang ke Indonesia dan dirakit di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Setelah penerbangan pertama pada 1 September itu, dua Sukhoi terbang dalam peringatan HUT TNI 5 Oktober 2003 di Surabaya. 

Hal yang luar biasa, menurut Plotnikov, Sukhoi tersebut diterbangkan oleh orang Indonesia. Sebelumnya, mereka berlatih di Rusia selama tiga bulan. Hanya dalam tempo singkat, pilot-pilot itu sudah bisa mengendalikan Sukhoi yang terkenal sangat canggih. 

”Orang Indonesia itu sangat pandai. Dan secara alamiah, mereka adalah penerbang yang sangat bagus,” kata Plotnikov. 

Bagi dia, penerbang Indonesia adalah yang nomor satu. ”Saya tidak bilang di dunia. Tetapi, di Asia Tenggara, sudah pasti nomor satu,” imbuhnya. 

Setelah momen tersebut, pembelian Sukhoi terus berlanjut. Dari dua, lantas datang lagi enam, dan pada awal tahun ini pemerintah menebus 11 unit Sukhoi Su-35. Itu adalah jenis terbaru dan tercanggih dari keluarga pesawat Sukhoi. Harga totalnya menembus Rp 16 triliun. 

Total, Plotnikov bertugas sebagai diplomat di Indonesia selama 20 tahun. Dia kali pertama menginjakkan kaki di tanah air pada Agustus 1966. Saat itu kondisi negara amburadul. Peristiwa berdarah 1965 belum lama berlalu. Ekonomi bobrok. Kondisi paling parah terjadi di luar Jawa.   

Sebagai diplomat muda, Plotnikov menjalani tugas praktik bahasa Indonesia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ketika itu hampir semua orang asing dilarang masuk ke Indonesia. Hanya warga negara Uni Soviet yang boleh datang karena relasi negeri tersebut dengan Indonesia masih sangat erat.  

Hubungan rekat Soviet dan Indonesia ditandai dengan kunjungan Presiden Pertama RI Soekarno pada 1956 ke Moskow. Dia bertemu dengan Perdana Menteri Nikita Khrushchev. Setelah itu, berbagai macam proyek dilakukan bersama. Antara lain, pembangunan Krakatau Steel, pendirian perusahaan pupuk di Cilacap, pendirian universitas dan asrama di Banjarmasin, serta pembangunan jalan-jalan di Kalimantan. Namun, yang paling fenomenal adalah pendirian kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta. 

Menurut Plotnikov, Gelora Bung Karno sangat terinspirasi Stadion Luzhniki, Moskow, salah satu venue Piala Dunia 2018. Khrushchev memerintahkan tenaga dari Uni Soviet untuk membangun ”Luzhniki lain” di Jakarta. 

Bung Karno adalah presiden asing pertama yang melihat kompleks olahraga Luzhniki. ”Waktu Bung Karno melihat Luzhniki, beliau bilang bahwa ini juga harus dibangun di Indonesia. Meski ada perbedaan sedikit antara Gelora Bung Karno dan Luzhniki, secara teori Luzhniki hampir sama dengan yang ada di Senayan,” imbuhnya. 

Sebagai mantan duta besar, juga karena sangat fasih berbahasa Indonesia, walau sudah pensiun sebagai diplomat, Plotnikov menyediakan diri sebagai jembatan untuk hubungan antara Rusia dan Indonesia. Sebab, banyak sekali potensi yang bisa dieksekusi. Selama ini, dalam bidang perdagangan dengan Rusia, Vietnam selangkah lebih maju ketimbang Indonesia. 

Vietnam menjual banyak buah dan sayur tropis di Rusia. Restoran Vietnam juga banyak bertebaran di Moskow. Kerja sama dalam bidang teknologi, infrastruktur, pertanian, dan pangan menjadi sektor yang strategis karena Rusia adalah negara terluas dan salah satu yang paling maju di dunia.

Rusia, menurut dia, sekarang sedang terus menjalin hubungan yang lebih intens dengan negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. ”Indonesia harus ikut serta. Kalau kedua negara ingin memprakarsai banyak hal, saya siap membantu, sebisa dan sekuat kemampuan saya,” imbuhnya. (bersambung/c11/ttg)

Berita Terkait