Peternakan Ayam Rakyat Kian Terhimpit

Peternakan Ayam Rakyat Kian Terhimpit

  Sabtu, 3 September 2016 10:28

Berita Terkait

PONTIANAK – Peternakan Ayam Rakyat di Kalimantan Barat kian terhimpit. Mereka harus memilih antara menjalankan usaha sendiri tapi merugi, atau bekerjasama dengan perusahaan yang berusaha menyelamatkan usaha.

Sebagian peternak lebih memilih untuk meneruskan usaha mereka dengan bekerjasama pada perusahaan atau ke pemilik modal besar, walaupun keuntungan yang mereka peroleh tak sebanyak dibandingkan menjalankan peternakannya sendiri.

Daidi, salah satunya. Ia yang semula menjadi peternak mandiri, kini memutuskan bekerjasama dengan sebuah perusahaan agar peternakan kecilnya di Desa Senseng Kecamatan Tebas dapat berjalan. Walaupun peternakan ayam itu masih berada di belakang rumahnya, tetapi bisa dibilang bukan miliknya lagi. “Kini, semua hal yang dibutuhkan peternakan sudah diambil alih oleh bos,” ungkapnya kemarin.

Jalan itu ia pilih lantaran tawaran yang diterimanya tidaklah begitu buruk. Daidi pun bisa dibilang beralih pekerjaan, dari pemilik peternakan menjadi pengelola ternak. Awalnya ia akan memutar otak untuk mendapatkan modal dan bagaimana agar usahanya tetap berjalan, kini semuanya telah bergantung pada ‘pemilik baru’.  Keuntungan yang diterimanya dari peternakan ayam di belakang rumah pun, seluruhnya akan diserahkannya pada sang bos. “Baru setelahnya dapat komisi,” katanya.

Menurutnya, ada banyak peternak yang memutuskan menggantungkan nasib peternakan ayamnya kepada satu bos atau pemodal untuk menyelamatkan mata pencaharian mereka dari beternak.

Satu bos itu akan membiayai banyak peternakan. Berusaha menawarkan pembiayaan yang dibutuhkan para peternak yang sebelumnya berusaha mandiri. “Karena kami mau mandiri sangat sulit. Terutama jika membicarakan modal,” katanya.

Selain itu, para peternak mandiri sangat kalah dibandingkan dengan peternak yang bekerjasama dengan perusahaan atau dengan seorang pemodal. Ini terutama berkaitan manajemen dan teknologi pengelolaan. Mereka para pemodal atau perusahaan bisa mendatangkan teknologi. Misalnya saja metode peternak menjaga suhu ruangan untuk menghindari resiko bibit ayam mati. “Para peternak mandiri belum mendapatkan referensi untuk mengarah ke sana.”

Bukan hanya kalah teknologi, para peternak mandiri ini dihadapkan juga pada ketidakmampuan mereka menyediakan ayam potong hidup untuk memenuhi permintaan pasar, sementara mereka masih berjuang menyelamatkan peternakan mandiri mereka. Dampaknya, mereka terpaksa menaikan harga daging ayam di pasaran. Melonjaknya harga di pasaran sudah dimulai dari naiknya harga jual ayam ras hidup.

Fian, salah seorang peternak ayam di Kubu Raya yang akhirnya banting stir dan bekerjasama ke perusahaan, menyebutkan, satu kilogram ayam hidup dari peternakan bisa dijual dengan harga Rp27 ribu pada agen. Harga tersebut naik dari harga sebelumnya yang hanya Rp22 ribu perkilogram. Harga itu melonjak mulai Juli lalu. “Sejak lebaran dan setelah lebaran belum turun,” katanya.

Kenaikan harga tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, kenaikan harga jual ayam hidup dari peternak dipengaruhi naiknya harga bibit ayam. 2000 ekor bibit ayam membutuhkan modal Rp56 juta, belum lagi biaya pakan dan vitaminnya serta pengelolaannya.

Kenaikan bibit ayam itu pun berdampak langsung pada peternak mandiri yang kalah dalam hal teknologi peternakan ayam. Dari modal sama yang dikeluarkan peternakan yang bekerjasama dengan perusahaan, peternak mandiri bisa merugi lantaran waktu panen mereka yang tidak memenuhi target, yakni selama tiga minggu.

“Alhasil biaya pakan dan vitamin akan bertambah. Jadi memang sulit. Tidak seperti peternak yang bekerjasama, kerugiannya tidak terlalu terasa. Karena kami hanya menjalankan usaha ternak itu,” katanya.

Belum lagi, mekanisme pasar saat ini tidak terlalu menguntungkan bagi para peternak mandiri. Mereka kalah saing dengan peternak yang bekerjasama dengan perusahaan. Mereka terpaksa mengikuti harga ayam pasaran yang membuatnya merugi karena mereka telah mengeluarkan modal lebih besar dalam membesarkan ayam di peternakannya. (mif)

Berita Terkait