Petani Sawit Menjerit, Harga TBS Turun Drastis

Petani Sawit Menjerit, Harga TBS Turun Drastis

  Sabtu, 1 December 2018 08:12

Berita Terkait

PONTIANAK - Petani kelapa sawit kini menjerit. Harga jual tandan buah segar (TBS) menurun drastis sejak dua bulan terakhir. Anjloknya harga sawit itu disebabkan oleh kelebihan produksi dan berkurangnya serapan pasar.

“Sudah dua bulan ini harga TBS menurun. Sebelumnya sekitar Rp1000-1.200 per kg yang dijual ke tengkulak, sekarang berkisar Rp600-700 per kg. Dari tengkulak ke pabrik harganya sekitar Rp1000 per kg," terang Purnomo, petani sawit swadaya asal Sanggau, Kamis (29/11).

Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya serapan TBS dari petani oleh perusahaan. Akibatnya, tengkulak juga mengurangi harga TBS yang mereka beli dari petani swadaya. Selain itu, tambah Purnomo, perusahaan juga lebih selektif dalam membeli TBS dari petani. Jika dulu penyerapan TBS kurang memandang kualitas, sekarang perusahaan hanya menerima TBS yang berkualitas baik.

Anjloknya harga sawit di tingkat petani dibenarkan oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Barat, Wagio Ripto. Dia menyebutkan, umumnya pada semester kedua akan terjadi kenaikan produksi sawit, baik perusahaan maupun petani.

Sayangnya, kenaikan produksi tersebut tidak berbanding lurus dengan daya serap perusahaan membeli TBS petani. Ini juga merupakan dampak dari lemahnya daya beli minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia.

"Perusahaan dalam membeli produksi petani mengalami penurunan. Bahkan ada yang menolak dan menghentikan pabrik, seperti yang terjadi di Sanggau maupun Sintang," katanya.

Saat ini, sambung Wagio, harga di tingkat petani di Kalbar memang jauh menurun. Jika biasanya rata-rata Rp1.300 per kg TBS, sekarang hanya Rp650-800 per kg TBS. Harga tersebut juga jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah.

"Pemerintah setiap bulan telah menetapkan harga kesepakatan, tetapi rata-rata mereka tidak memedomani harga ketetapan pemerintah tersebut," sebutnya.  Kondisi itu membuat petani hanya bisa pasrah.

Menurut Wagio, semua persoalan ini sudah disampaikan ke pemerintah pusat maupun daerah lewat DPD maupun DPP Apkasindo. Dia menyebutkan, petani sawit di seluruh Indonesia berencana untuk mendesak adanya solusi dari pemerintah dengan cara menggelar aksi di Istana Negara.

Namun, pihaknya masih berupaya menggunakan jalur struktural, membahas masalah ini bersama pemerintah agar menemukan solusi yang tepat. Adapun arahan dari Apkasindo, lanjut dia, adalah agar setiap daerah menjadwalkan panen sawit, dan memperlambat pusingan panen semaksimal mungkin, dengan catatan petani masih dapat bertahan dalam kondisi tersebut.

Anjloknya harga kelapa sawit ini disebabkan oleh kelebihan produksi yang bersamaan dengan berkurangnya serapan pasar di sejumlah negara pengimpor minyak sawit. “Serapannya menurun. Beberapa negara potensial mengurangi impor CPO dari Indonesia,” ungkap Akademisi Universitas Tanjungpura, Radian MS.

Dosen Pertanian Untan ini menilai penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang semestinya menjadi kabar gembira bagi pengekspor minyak nabati ini, malah justru tak berdampak apa-apa. Pasar minyak sawit dunia tidak bergeliat meskipun harganya sedang murah. Hal ini pun membuat situasi memburuk karena stok menumpuk di dalam negeri. "Petani yang paling merasakan dampak dari kondisi ini," tuturnya.

Menumpuknya stok minyak sawit ini juga diakui oleh Dinas Perkebunan Kalbar. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Florentinus Anum, melalui Kepala Bidang Pengolahan Pemasaran dan Pembinaan Usaha, Cahya Dewi mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari perusahaan soal permasalahan yang mereka alami saat ini.

Sejumlah perusahaan, kata dia, melaporkan bahwa telah terjadi penumpukan di pabrik kelapa sawit (PKS) milik mereka. "Karena permintaan CPO dari luar negeri berkurang menyebabkan tangki-tangki timbun penuh sehingga perusahaan mengurangi pembelian TBS atau membeli dengan harga murah terutama produksi pekebun swadaya," jelas Dewi.

Dia pun membenarkan terjadinya panen raya kelapa sawit se-Indonesia. Namun, kondisi ini justru tak menguntungkan petani, karena hasilnya dibeli dengan harga yang sangat murah meski pemerintah sudah menetapkan harga TBS tingkat petani.

Temuannya di lapangan, ada pabrik yang membeli TBS dari petani dengan harga Rp300 per kg. "Perusahaan semestinya jangan coba-coba melanggar aturan. Kalau ketahuan akan kena sanksi karena membuat harga sendiri di luar yang ditetapkan pemerintah," tegasnya.

Harga TBS di tingkat petani yang ditetapkan oleh pemprov dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), perusahaan sawit, hingga, Apkasindo, dilakukan dua kali dalam sebulan.

Penetapan harga TBS tersebut mempertimbangkan sejumlah hal. Salah satunya kondisi harga CPO di pasar dunia. Karena itu, harga sawit sangat bergantung dengan daya serap negara-negara pengimpor.

Dinas Perkebunan Kalbar mencatat,  harga TBS pada awal tahun 2018 hingga saat ini cenderung mengalami penurunan. Pada tiga bulan pertama di tahun 2018, harga TBS berkisar Rp1.600-1.750 per kg. Pada tiga bulan kedua, harganya sekitar Rp1.400-1.650 per kg. Semakin mendekati akhir tahun, harganya semakin terjun bebas. Data terakhir pada November 2018, harga Rp1.331 per kg TBS. Harga tersebut berdasarkan produksi dari tanaman kelapa sawit yang berusia 10-20 tahun.

"Penetapan ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungangan tentang kepastian harga TBS bagi pekebun dan mencegah adanya persaingan yang tidak sehat dalam tata niaga sawit," pungkasnya.

Sementara itu, Humas Gapki Kalbar, Mulfi Huda mengatakan, melemahnya rantai pasok (supply chain) mulai dari pengusaha, eksportir, dan pedagang antarpulau telah berimbas pada penimbunan CPO yang melebihi daya tampung tangki timbun (stock file) di masing-masing pabrik kelapa sawit (PKS).

Langkah-langkah yang ditempuh oleh pengelola PKS saat ini adalah dengan terpaksa melakukan pengaturan/pengurangan jam operasional pengolahan TBS. Akibatnya, kapasitas olah TBS yang berasal dari kebun inti dan kebun plasma /mitra menjadi berkurang.

"Apabila kondisi tersebut berlangsung cukup lama maka langkah terburuk yang harus ditempuh adalah penghentian sementara operasional pengolahan TBS, sambil melakukan efisiensi dan berupaya tidak terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di lingkungan masing-masing perusahaan," jelasnya.

Pihaknya menyadari langkah tersebut akan berdampak luas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya pekebun mitra. Sejalan dengan itu, pihaknya mengusulkan agar Pemprov Kalbar dapat mengajukan kepada pemerintah pusat melalui Kemenko Bidang Ekonomi untuk mengambil langkah-Iangkah percepatan ekspor. (sti)

 

Harga Perkembangan TBS Kelapa Sawit Produksi Petani Kalbar 2018

Januari 1 : 1.661,96

Januari 2 : 1.699,14

Februari 1 : 1.667,51

Februari 2 : 1.705,18

Maret 1 : 1.732,18

Maret 2 : 1.699,83

April 1 : 1.727,83

April 2 : 1.739,00

Mei 1 : 1.680,16

Mei 2 :1.667,40

Juni 1 : 1.631,31

Juni 2 : 1.570,42

Juli 1 : 1.521,34

Juli 2 : 1.527,01

Agustus 1 : 1.461,34

Agusuts 2 : 1.466,41

September 1 : 1.454,10

September 2 : 1.485,37

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait