Petaka Cincin Berlian, Anggota Bhayangkari Dianiayai Istri Pejabat

Petaka Cincin Berlian, Anggota Bhayangkari Dianiayai Istri Pejabat

  Sabtu, 3 November 2018 12:44
DIRAWAT;Nia Kurnia dirawat di RSU Santo Antonius akibat dugaan penganiayaan terkait jual beli cincin berlian.

Berita Terkait

PONTIANAK – Nia Kurnia, anggota Bhayangkari Pontianak jadi korban penganiayaan. Ia ditampar, dicekik hingga diancam akan dibunuh. Diduga kuat pelaku penganiayaan itu seorang istri pejabat di lembaga kepolisian. 

Kasus penganiayaan itu dialami korban, ketika ia mendatangi pelaku di kediamannya. Kedatangan pada 30 Oktober 2018 untuk menjelaskan perihal pembayaran cincin berlian.

“Saya membeli cincin berlian kepada pelaku seharga Rp18 juta. Pembayarannya pertama sebesar Rp10 juta lalu kedua sisanya sebesar Rp8 juta. Saat itu tidak pakai kuitansi,” kata Nia saat ditemui di Rumah Sakit Umum Santo Antonius, Jumat (2/11).

Nia menuturkan, meski sudah melunaskan pembayaran pembelian cincin berlian, dia dituduh belum melunaskan dan hanya baru membayar Rp8 juta. “Masalah inilah yang sebenarnya mau diselesaikan. Sehingga saya datang ke kediaman pelaku,” ucapnya.

Namun, lanjut dia, penjelasan yang disampaikannya masih tidak dipercaya. Pelaku lalu meminta agar dirinya mengembalikan cincin berlian yang sudah dibeli. “Kebetulan cincinnya dibawa. Jadi saat diminta, saya kembalikan. Pelaku lalu mau mengembalikan uang saya sebesar Rp8 juta, tapi tidak mau saya terima,” sambungnya.

Nia mengaku saat itu dipaksa agar menerima uang sebesar Rp8 juta itu. Namun, dia menolak. Hingga akhirnya terjadilan tindakan penganiyaan yang dilakukan pelaku.

“Saya di dorong, ditampar, dan dicekik. Saya memilih untuk tidak mau melawan,” tuturnya.

Mendapat tindakan tak terpuji, Nia lalu berusaha untuk meninggalkan kediaman pelaku. Namun niatnya itu dihalangi, pelaku menutup pintu dan terus mendorongnya.

“Saya hanya bisa sabar saat itu. Namun pelaku terus marah,” kata Nia.

Nia mengaku, ada saksi yang mengetahui kasus penganiyaan itu. Karena pada saat mendatangi pelaku di kediamannya, Nia pergi tidak sendiri melainkan bersama seorang anggota bhayangkari lainnya.

Setelah kejadian itu, Nia pulang ke rumah. Setibanya di rumah, dirinya merasakan pusing, sesak nafas, dan tenggorokan tidak bisa menelan makanan dan minuman. Ia lalu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Kakak korban, Nety mengaku tidak terima dengan perlakuan kekerasan yang diduga dilakukan oleh istri pejabat di lembaga kepolisian tersebut. “Kami meminta kepada Polda Kalbar untuk memproses pengaduan kasus penganiayaan ini,” pintanya.

Kepala  Bidang Humas Polda Kalbar, Kombes Pol  Nanang Purnomo ketika dikonfirmasi mengatakan, pengaduan yang dibuat masyarakat akan diproses. Sebagai contoh, ada masyarakat yang menjadi korban penganiayaan, saat membuat pengaduan akan diminta untuk menuliskan kronologi kejadiannya, siapa terduga pelakunya dan membawa hasil visum.

Menurut Nanang, jika rangkaian pengaduan itu terpenuhi, pelaku masih berada di lokasi kejadian, alat bukti kuat dan situasi mendukung, maka pengaduan itu dapat segera diproses dengan melakukan penangkapan.

“Kalau semua itu bisa terpenuhi saat pengaduan, pelaku bisa langsung ditangkap,” kata Nanang ketika dihubungi Pontianak Post melalui saluran telepon.

Saat disinggung mengenai pengaduaan dugaan kasus penganiayaan yang dialami Nia Kurnia dengan terduga pelaku istri pejabat di lembaga kepolisian, Nanang mengaku belum mendapat informasi itu.

“Saya belum dapat informasi mengenai kasus itu. Saya lihat dulu ya pengaduannya,” pungkas Nanang.(adg)

 

 

 

Berita Terkait