Pertumbuhan Rumah MBR Meningkat hingga 30 Persen

Pertumbuhan Rumah MBR Meningkat hingga 30 Persen

  Kamis, 1 September 2016 09:30
PERUMAHAN BARU: Salah satu wilayah di Kabupaten Kubu Raya yang menjadi sasaran empuk pengembangan kawasan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), mengingat harga tanah di kawasan tersebut masih terjangkau untuk pengembangan perumahan untuk ekonomi menengah ke bawah.

Berita Terkait

PONTIANAK – Meski birokrasi masih berbelit, namun minat pengembangan perumahan rakyat khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus naik. Selain karena harganya yang masih dapat dijangkau masyarakat, perumahan jenis ini mendapatkan fasilitas keuangan berupa subsidi yang cukup dimanjakan pemerintah. Apalagi wilayah pengembangan cukup memadai seperti di wilayah Kubu Raya.

 
Sebab itu, kinerja penjualan Kredit Perumahan Rakyat untuk tipe bersubsidi malah meningkat signifikan. Kepala Cabang BTN Pontianak Daulat Marpaung mengatakan pada tahun ini pertumbuhan penjualan KPR di Kalbar mencapai 20 hingga 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Rata-rata BTN menjual KPR untuk tipe bersubsidi sebanyak 500 unit dalam sebulan di Kalbar ini. Angka ini menjadi yang tertinggi ke lima di Indonesia. Sangat besar kalau melihat jumlah penduduk Kalbar yang lebih sedikit dari provinsi di Pulau Jawa,” ungkapnya kepada Pontianak Post, kemarin (31/8).

Kendati demikian, pertumbuhan untuk KPR rumah komersial yang melalui BTN sangat jauh dari harapan. Daulat memperirakan penjualan rumah komersial tahun ini hanya setengahnya saja dibanding angka tahun lalu. “Saya kira turun sebesar 50 persen dibanding tahun lalu. Banyak konsumen rumah komersial yang memilih untuk membeli rumah yang tipenya lebih rendah, karena daya beli mereka melemah,” jelas dia.

Rumah subsidi yang kebanyakan bertipe 36 menjadi favorit, kata dia, lantaran berbagai insentif yang diberikan oleh pemerintah. BTN sendiri sudah meluncurkan program uang muka KPR hanya 1 persen untuk rumah subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang ingin memiliki perumahan, terutama kalangan PNS, TNI, Polri, dan peserta BPJS Ketenagakerjaan. Selain uang muka terjangkau, pemerintah beberapa waktu lalu juga resmi menurunkan suku bunga dari 7,25 persen menjadi 5 persen.

“Untuk 2016, BTN akan melanjutkan program seperti uang muka murah dan bunga terjangkau. Pada 2016, BTN akan lebih menjangkau daerah-daerah yang selama ini belum terlayani. Banyak potensi dan akan kami optimalkan. Target kami hingga akhir tahun ini ada 7000 KPR yang tersalurkan di Kalbar,” katanya.

Dia meyakini target itu akan tercapai. Pasalnya pemerintah telah memberikan bantuan uang muka sebesar Rp 4 juta untuk rumah subsidi. Belum lagi bunga yang disubsidi plus jangka waktu kredit hingga 20 tahun. Kelebihan dari sisi lainnya yaitu kecepatan pelayanan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia Kalbar, Ramadan mengatakan penjualan rumah MBR masih sangat baik di provinsi ini. Hanya saja, kata dia, kinerja penjualan bisa lebih meningkat lagi apabila proses perizinan di tingkat daerah tidak berlarut-larut.

“Bahkan harga rumah bisa lebih murah apabila izinnya cepat. Memang Presiden sudah memangkas 33 aturan menjadi 11 saja untuk property. Tetapi Peraturan Presidennya belum turun. Sehingga pemerintah daerah juga belum mengaplikasinya,” katanya.

Menurunnya penjualan rumah komersial, kata dia, sangat dirasakan para developer yang bernaung dalam Apersi Kalbar. Ramadan menyebut banyak pengembang yang dulunya fokus membangun rumah komersial beralih ke rumah subsidi. “Ini karena rumah MBR lebih laku. Kalau masih main di komersial, pasti akan rugi,” pungkasnya. (ars)

 

Berita Terkait