Pertarungan Sengit Antarmonster dalam Godzilla: King of the Monsters

Pertarungan Sengit Antarmonster dalam Godzilla: King of the Monsters

  Jumat, 31 May 2019 09:49
MENEGANGKAN: Scene bertarung para monster disajikan cukup menarik, ditambah efek suara yang semakin menegangkan. NET

Berita Terkait

MENAKLUKKAN KING GHIDORAH

Lima tahun berselang sejak kejadian Godzilla melawan MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism) di San Francisco dalam Godzilla (2014), umat manusia mengakui adanya monster. Sebuah organisasi bernama Monarch melacak ada monster lain, selain Godzilla, sedang berhibernasi di berbagai titik tersembunyi di seluruh dunia. 

-----------

PEMERINTAH ingin seluruh titan (kaiju atau monster, Red) dimusnahkan. Namun, tidak dengan Dr Emma Russell (Vera Farmiga). Ibu Madison (Millie Bobby Brown) itu menciptakan sebuah alat bernama ORCA yang mampu mencari gelombang tertentu. Alhasil, monster bisa menjadi jinak. 

Masalah muncul ketika Kolonel Jonah Alan (Charles Dance) menculik Emma dan Madison demi ORCA. Jonah ingin mengendalikan para titan dan mengambil keuntungan darinya. Namun, rupanya Emma punya misi sendiri dengan alat itu. Emma ingin menyeimbangkan bumi yang overpopulasi. Caranya dengan membangunkan seluruh titan yang tengah tertidur. 

Satu per satu titan bangun. Termasuk King Ghidorah, monster berkepala tiga yang memiliki sayap. Juga ada Rodan, monster yang mirip burung elang tetapi berukuran jauh lebih besar dan buas. King Ghidorah dipatuhi seluruh titan, kecuali Godzilla dan Mothra, raja dan ratu monster. Karena itu, Godzilla harus menaklukkan King Ghidorah. 

Film ini juga menampilkan belasan titan lainnya yang bangkit. Namun, porsinya tidak sebanyak Ghidorah, Rodan, dan Mothra. Tiap monster digambarkan dengan sangat menyeramkan. Terutama King Ghidorah. Selain terbang, ia bisa meregenerasi diri dengan cepat. King Ghidoran seolah tak terkalahkan. Sedangkan Mothra digambarkan sebagai sosok monster berbentuk kupu-kupu yang indah. Bagi penggemar film monster, film ini akan terasa memuaskan. Godzilla pun digambarkan lebih gagah kali ini. 

Empat monster utama itu punya scene bertarung yang seimbang dengan latar yang gelap dan mencekam. Ditambah efek suara yang membikin scene pertarungan mereka semakin menegangkan. ’’Para monster, yang mana didesain ulang dari karakter klasik Toho Studio, sangat luar biasa dan mampu merusak dengan hebat. Bintang utama di sini? Sound designer Erik Aadahl dan Ethan van der Ryn,’’ komentar Michael Phillips, kolumnis Chicago Tribune. 

Namun, desain kaiju yang mengagumkan saja tidak cukup untuk membuat film ini mendapat nilai lebih. Sutradara Michael Dougherty dan timnya terlalu fokus pada monster hingga melupakan sebetulnya para pemain sangat bisa memperkaya cerita. 

Plot cerita yang disampaikan seolah menjadi tidak begitu penting. ’’Kami tidak selalu mengerti latar belakang atau tanggung jawab dari tiap karakter pendukung, (filmmaker, Red) menyerahkannya kepada aktor yang karismatis (misalnya Sally Hawkins, O’Shea Jackson, dan Zhang Ziyi) supaya kami tidak peduli,’’ komentar John DeFore dari Hollywood Reporter. 

Film ini berlangsung cukup lama, yakni 132 menit. Sekitar 70 persennya diisi pertarungan antarmonster. ’’Faktanya, film ini menjadi lebih besar tapi tidak lebih baik (dibandingkan film pendahulunya, Red),’’ tegas Chris Nashawaty, kolumnis Entertainment Weekly. (adn/c17/jan)

 

Berita Terkait