Pertamina Tambah Kuota 15 Persen

Pertamina Tambah Kuota 15 Persen

  Rabu, 19 December 2018 10:11

Berita Terkait

Penuhi Kebutuhan Elpiji Jelang Natal

PONTIANAK – Pihak Pertamina terus berusaha menormalisasi kebutuhan masyarakat miskin yang kekurangan LPG tiga kilogram bersubsidi. Marketing Branch Manager Pertamina Kalbarteng, Teuku Johan Miftah mengatakan pada bulan ini pihaknya sudah melakukan penambahan 15 persen kuota elpiji tiga kilogram untuk Kalimantan Barat. 

“Sementara itu, pada tahun ini kami juga terus menaikkan kota elpiji tiga kilogram untuk Kalbar. Secara bulanan rata-rata sekitar delapan persen penambahannya,” ujar dia saat konferensi pers, kemarin (18/12). Pertamina juga membuka layanan pengaduan untuk memastikan kenyamanan pelanggan.  

Apabila masyarakat menemukan kendala terkait elpiji maupun layanan dan produk Pertamina lainnya, dapat disampaikan kepada call center Pertamina 1-500-000 atau melalui email contactpertamina4@pertamina.com. Bisa juga ke call center Ditjen Migas 1-500-335.

“Di setiap pangkalan juga tertera nomor aduan pangkalan dan pemda setempat, serta nomor kami. Silakan adukan keluhan dan kalau ada kejanggalan dalam distribusi elpiji tiga kilogram segera laporkan. Karena kami sangat memerlukan informasi dari para konsumen,” imbuhnya.

Selain menambah pasokan, Pertamina juga menggencarkan dan memperluas jumlah serta titik sebar operasi pasar. “Pada Jumat (14/12) lalu kami sudah lakukan operasi pasar di Pontianak. Lalu Senin (17) di Pontianak ada enam titik. Lalu hari ini (18/12) empat titik di Pontianak dan dua di Sambas. Lalu di Kapuas Hulu, Melawi, Sanggau dan daerah lain masing-masing satu titik. Selanjutnya hingga Natal nanti masih akan ada sejumlah operasi pasar,” ungkapnya.

“Kami akan menggelar operasi pasar langsung ke tingkat masyarakat yang membutuhkan di seluruh Pontianak, bekerjasama dengan kepolisian dan pemerintah setempat. Nanti akan dilakukan kontinu dan selektif. Di mana konsumen harus membawa KTP dan kartu keluarga. Supaya bisa teridentifikasi siapa-siapa saja yang layak mendapatkan. Ini juga berlaku untuk pembelian di pangkalan,” paparnya.

Johan tidak menampik bila membeludaknya jumlah pedagang pengecer sebagai penyebab meningkat tajamnya permintaan di Kalbar. Pertamina, kata dia, tidak bisa mengintervensi harga di tingkat pengecer. Namun belakangan muncul fenomena meningkatnya jumlah pengecer dalam jumlah besar dan tersistematik.

“Bahkan mereka ini sampai mengikuti mobil pengantar elpji ke pangkalan-pangkalan (untuk tahu mana pangkalan yang baru mendapatkan stok). Mereka pindah-pindah belinya. Bahkan kami temukan ada pengecer yang menjual elpiji subsidi ini secara online. Karena kita masih menganut sistem distribusi terbuka, maka kami tidak bisa mengontrol sampai ke tingkat pengecer ini,” sebutnya.

Menurut dia, pengecer bisa membantu Pertamina dalam menjangkau remote area atau daerah terpencil. Namun, peningkatan jumlah pengecer justru terjadi di perkotaan, yang membuat stok di pangkalan cepat habis. Pengecer ini juga kerap menjual elpiji jauh di atas harga eceran tertinggi.

Johan juga meminta kepada pangkalan untuk tidak sembarangan menjual elpiji subsidi kepada orang yang tak berhak. “Sudah aturannya kalau setiap konsumen dibatasi untuk membeli atau menukarkan maksimal dua tabung saja. Selain itu harus membawa KTP dan KK. Jangan sampai satu orang mendapat jatah pembelian banyak,” pungkasnya. 

Warga Harap Kelangkaan Berakhir

Masyarakat di sejumlah daerah di Kalimantan Barat berharap kelangkaan elpiji tiga kilogram dapat segera berakhir. Pasalnya Hari Raya Natal dan Tahun Baru akan segera datang. “Sekarang susah sekali cari elpiji. Di pengecer bisa Rp30 ribu satu tabungnya. Itu pun kalau ada. Padahal sekarang kita mau persiapan Natal, bikin kue dan sebagainya,” ujar Tobing, warga Bengkayang, kemarin. 

Hal serupa terjadi di Pemangkat. Kondisi itu membuat warga mengantre untuk mendapatkan gas subsidi tersebut. Erlina, seorang warga mengatakan elpiji tiga kilogram mulai susah dicari sejak memasuki Desember. ”Nyari ke mana-mana tidak ada. Akhirnya ke pangkalan semua. Dan harus antre,” ungkapnya. 

Kalaupun ada, harganya selangit. Biasanya di tingkat pengecer harga gas tabung berwarna hijau itu hanya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Tapi sekarang mencapai Rp 25-27 ribu per tabung. ”Kalau di sini (pangkalan-red) harganya cuma Rp 17.000/tabung gas 3 kg, tapi harus datang dari pagi. Daftar dulu pakai KTP dan nunggu lama,” keluhnya.

Keluhan tidak hanya datang dari daerah-daerah. Warga Kota Pontianak pun mengalami hal serupa. Beti, salah seorang warga Pontianak Timur misalnya. Ia mengaku kesulitan mencari elpiji 3 kilogram. Kalaupun ada, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi. “Dapatnya Rp25 ribu per tabung. Mau tidak mau (beli), daripada tidak masak,” katanya.

Dia berharap, pasokan atau distribusi gas tiga kilogram harus merata. Dengan demikian warga tidak kesulitan mencari gas tersebut. Dia juga tidak menghendaki jika gas subsidi itu harus naik harganya. ”Kalau naik, kasihan warga yang tidak mampu terpaksa membeli,” ucapnya. 

Sejumlah pedagang pengecer gas LPG mengakui pasokan gas elpiji tiga kilogram ini sudah tersendat sejak beberapa pekan belakangan ini. Salah seorang pemilik warung pengecer gas elpiji tiga kilogram di Pontianak Timur mengaku para pedagang sudah kesulitan mendapatkan pasokan gas tabung melon.

 Pasokan elpiji ukuran tiga kilogram sudah tidak ia terima hampir satu minggu terakhir. Sementara, stok elpiji di warungnya sudah habis. Saipul, salah seorang pengecer elpiji juga mengaku sampai saat ini belum mendapat pasokan gas elpiji tiga kilogram sejak beberapa hari belakangan. (ars)

Berita Terkait