Persiapan Si Kecil Masuk Sekolah

Persiapan Si Kecil Masuk Sekolah

  Rabu, 6 March 2019 09:07

Berita Terkait

Masuk sekolah pertama kali begitu mendebarkan bagi orang tua maupun anak. Namun, momen ini pasti disambut antusias. Berbagai persiapan dilakukan agar  anak merasa nyaman berada di sekolah.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Banyak hal yang dilakukan orang tua saat anak pertama kali bersekolah, baik di taman kanak-kanak maupun sekolah dasar. Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan psikologi, mental, dan lainnya adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan orang tua saat memutuskan anak masuk sekolah.

Persiapan mental perlu dilakukan untuk melatih kemandirian anak di sekolah. Sehingga, saat diantar ke sekolah, dia sudah siap dan tak akan mudah menangis.

Namun, persiapan ini tak bisa dilakukan satu atau dua hari. Sebaiknya dilakukan sejak beberapa bulan sebelum anak masuk sekolah.

Cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberikan gambaran tentang bersekolah dan hal-hal yang akan didapatkan di sekolah.

“Beri gambaran positif mengenai sekolah,” ujar Desni.

Jika memungkinkan, tak ada salahnya mengajak anak mengunjungi sekolah. Memperlihatkan suasana sekolah, baik ruang kelas maupun arena bermain yang ada di halaman sekolah. Orang tua bisa menceritakan saat di sekolah buah hati akan mendapatkan teman dan bermain bisa bermain bersama.

Kemudian bertemu bapak dan ibu guru yang akan mendidik dan menjaga anak selama di sekolah.

“Yakinkan anak bahwa bapak dan ibu guru akan sayang padanya, seperti ayah dan ibu di rumah,” kata Desni.

Anak akan merasa nyaman dan aman saat berada di sekolah. Ia pun akan mudah ditinggal.

“Tentunya, orang tua menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami,” ungkapnya.

Dosen Prodi PG-PAUD FKIP Untan ini menuturkan pengenalan ini harus dilakukan secara berulang.

Penting bagi orang tua untuk memberikan kesan menyenangkan pada anak mengenai sekolah yang akan menjadi rumah kedua baginya. Pengenalan ini tak hanya membuat anak akrab dengan sekolah, tapi juga menghilangkan kesan bahwa sekolah bukan sesuatu yang menakutkan bagi anak.

“Anak pun menjadi tak sabar masuk ke sekolah,” tutur Desni.

Jika hal ini dinilai kurang maksimal, orang tua boleh memotivasi anak dengan memberikan barang yang ia suka. Contohnya, membelikan botol minum sesuai dengan tokoh kartun favorit anak. Pemberian ini bukan berarti membuat anak jadi konsumtif. Tapi, lebih pada membuat anak merasa nyaman dengan situasi yag ada.

Pimpinan di Biro Konsultasi Psikologi Indigrow ini menjelaskan barang yang diberikan tak mesti baru. Orang tua bisa memberikan sentuhan baru (modifikasi) dari barang milik kakak. Apabila anak masih sulit ditinggal, ibu bisa memberi toleransi menunggu anak.

Misalnya, hanya akan menunggu anak selama satu sampai dua minggu kedepan.

Begitu batas waktu selesai, baik ibu dan ayah tak boleh memberikan toleransi dengan melakukan perpanjangan waktu.

Tak perlu khawatir ketika anak masih menangis. Toleransi atau perpanjangan waktu akan membuat anak sulit lepas dari orang tuanya.

Desni menyarankan orang tua tetap harus mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih sekolah. Usahakan jarak tempuh antara sekolah dan rumah tak terlalu jauh. Dikhawatirkan anak akan mudah merasa lelah. Jangan lupa menjalin hubungan dan kerja sama yang baik dengan bapak dan ibu guru.

Orang tua bisa saling bertukar informasi. Misalnya, menanyakan perkembangan anak di sekolah dan memberikan perkembangan anak di rumah. Desni berharap orang tua tak melepaskan seluruhnya pada guru. **

 

Berita Terkait