Pernikahan Antarkaryawan, Ketika Resign Jadi Pilihan

Pernikahan Antarkaryawan, Ketika Resign Jadi Pilihan

  Senin, 28 January 2019 13:10

Berita Terkait

Jodoh bisa bertemu di mana saja, termasuk di kantor. Bertemu setiap hari  menumbuhkan benih-benih cinta dan bisa berujung ke pelaminan. Namun, ketika memutuskan menikah harus tetap memperhatikan dan memahami aturan perusahaan. Sebab, setiap perusahaan memiliki peraturan berkenaan dengan pernikahan antarkaryawan.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Ada perusahaan yang memperbolehkan pernikahan antarkaryawan. Namun, ada juga yang melarangnya. Jika perusahaan tak memperbolehkan antarkaryawan menikah, berarti harus ada salah satu yang resign.

Tak mudah memutuskan resign. Apalagi jika keduanya memiliki kinerja yang baik. Namun, suka tidak suka aturan harus dipatuhi. 

Ketika hubungan serius antarkaryawan diketahui banyak orang, pasti memunculkan pertanyaan. Siapa yang akan resign? Pertanyaan ini tergolong remeh. Namun, intensitas pertanyaan yang cukup sering ditujukan sedikit banyak akan membuat kesal.

Psikolog Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Ch.t mengatakan kedua pasangan memang harus mempersiapkan hal ini sejak jauh-jauh hari. Keduanya bisa sepakat menjawab pertanyaan dengan jawaban klasik. Misalnya, “Kami masih santai dan belum mengarah ke sana.” Bisa juga berkata, “Kami berdua masih mempertimbangkan karena resign bukan hal yang mudah.” 

Keputusan untuk memilih siapa yang akan resign tak bisa dilakukan cepat. Perlu pertimbangan yang matang. Keputusan pun bisa saja berubah-ubah. Misalnya, ketika membicarakan hal ini pertama kali, keduanya memutuskan si perempuan lah yang akan resign. Namun, di beberapa bulan berikutnya bisa saja keduanya memutuskan si pria yang resign.

Keduanya harus mencari solusi yang tepat setelah salah satu, baik pria maupun perempuan mengajukan resign. Apakah pasangan siap hanya menjadi ibu rumah tangga? Apakah pasangan masih ingin tetap bekerja? Sebab, tak mudah membiasakan diri tak bekerja. Terlebih jika ia memiliki posisi dan kinerja di perusahaan tersebut cukup baik.

Keduanya harus agar bisa tetap memiliki aktivitas. Bisa dengan mengikuti kursus seperti menjahit atau baking untuk mengisi kekosongan, yang jika ditekuni bisa jadi ladang wirausaha. Sehingga tetap bisa produktif bekerja dan mendapatkan penghasilan meski tak bekerja di perusahaan. 

Psikolog di RSUD Syarif Mohammad Alkadrie Pontianak ini menuturkan rekan lain di kantor harus bisa memahami kondisi kedua pasangan yang akan resign. Seharusnya rekan lain memberikan dukungan dan menenangkan situasi. Hindari untuk terlalu knowing every particular object (KEPO) dengan masalah pribadi keduanya. 

Maria mengungkapkan untuk beberapa kasus pertanyaan bisa menjadi tekanan. Karena yang paling tahu keputusan apa yang tepat adalah kedua pasangan tersebut. Kedua pasangan memang harus berbesar hati ketika ada orang lain yang mengkritisi hal tersebut. Usahakan tak terlalu memikirkan dan pengaruh hal-hal buruk yang akan terjadi. Besar potensi untuk memengaruhi psikologis.

Tekanan yang diterima bisa saja berubah menjadi stres. Namun perlu diingat bahwa pasangan perlu memahami ada orang yang senang dan tidak ketika mendengar rencana baik ini. Atau, bisa saja ada rasa cemas dari rekan terhadap masa depan keduanya. Seharusnya rekan yang baik adalah rekan yang mendukung, memberikan solusi, atau menawarkan bantuan. 

Maria menyarankan agar tak memengaruhi pikiran dan psikologis dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kedua pasangan bisa memilih untuk tak terlalu terbuka dengan rekan lainnya. Simpan dulu rencana ini hingga keduanya benar-benar mantap dan siap. Ketika ada pertanyaan minta saja doa terbaik. 

“Anda dan pasangan berhak memiliki privasi yang tak seluruhnya bisa diketahui banyak orang,” timpalnya. **

 

 

Berita Terkait