Perlu Mekanisme Cegah Polisi Tewas Jaga TPS

Perlu Mekanisme Cegah Polisi Tewas Jaga TPS

  Minggu, 21 April 2019 08:54
FAKTOR KELELAHAN: Jenazah Ipda Totok Sudarta saat berada di ruang jenazah RSUD Abdul Rivai, Tanjung Redeb. Ipda Totok merupakan salah satu dari sejumlah polisi yang diduga meninggal karena kelelahan setelah mengawal pemilu. WISE ADAM/BERAU POST

Berita Terkait

JAKARTA— Pengamanan pemilu 2019 perlu energi yang luar biasa. Bahkan, banyak anggota Polri yang meninggal dunia saat menjalankan tugas mengamankan pesta demokrasi. Menurut Moufty Maakarim, pengamat kepolisian, perlu ada mekanisme yang dapat melindungi polisi saat bertugas mengawal TPS supaya kejadian seperti ini tidak terulang. 

Sesuai data Polri, selama pemilu 2019 ini terdapat sepuluh anggota Polri yang meninggal dunia saat bertugas. Penyebabnya dari kelelahan hingga kecelakaan saat menuju ke tepat pemungutan suara (TPS). Dari sepuluh anggota Polri, sembilan di antaranya meninggal karena kelelahan. Hanya satu anggota Brigadir Prima Leion Nurman yang meninggal karena kecelakaan saat menujut ke TPS. 

Moufty Maakarim menjelaskan, kondisi ini bisa disebabkan dua factor. Pertama factor individu dan kedua factor institusi. Faktor individu berarti personel yang bersangkutan memiliki persoalan dalam mengukur kapasitas. ”Mungkin kelelahan tapi dipaksakan,” ujarnya kemarin. 

Untuk faktor institusi, kata dia, Polri adalah abdi negara yang tidak memiliki batas jam kerja. Bisa 24 jam dan sewaktu-waktu dibutuhkan harus bekerja. ”Banyak over time, tapi personel tidak bisa menolak saat diberi tugas,” terangnya. 

Namun begitu, fenomena meninggal dunia saat bertugas belum diteliti secara mendalam. Apakah penyebabnya benar individu atau institusi. ”Saya kira penting untuk mengetahui penyebabnya,” jelasnya. 

Menurut Moufty, jika faktor institusi lebih berperan maka diperlukan mekanisme yang tepat dalam penugasan. Mekanisme tersebut misalnya dengan sistem shift atau lainnya sehingga saat menjaga keamanan pemungutan suara, tidak sepenuhnya dibebankan kepada seorang personel. ”Walau kita tahu jumlah personel Polri itu juga terbatas. Kuncinya mekanisme,” tuturnya. 

Personel Polri di lapangan ini juga perlu didukung personel di bagian lain seperti rumah sakit Polri yang siap melayani jika ada personel yang kelelahan. ”Jadi, sewaktu-waktu terjadi kelelahan bisa langsung ditangani secara medis,” ujarnya. 

Hal ini dinilai sebagai tantangan semua institusi, tidak hanya Polri tetapi juga penyelenggaran pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). ”Apakah saat bertugas di TPS itu para anggota PPS disediakan tenaga medis atau tidak,” jelasnya. 

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, Polri memang kehilangan sepuluh anggota terbaik saat bertugas menjaga pemilu 2019. Salah satu personel dengan pangkat tertinggi yakni, Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Brigjen Syaiful Zachri. ”Meninggal dunia karena serangan jantung saat bertugas sebagai ketua asistensi Operasi Mantap Brata untuk Polda Nusa Tenggara Timur,” jelasnya.

Kelelahan Usai Amankan Pemilu

Sementara itu, seorang anggota Polri yang bertugas di Polres Berau bernama Ipda Totok Sudarta ditemukan meninggal dunia. Ipda Totok ditemukan meninggal di rumah kontrakannya, di Gang Pelopor, Jalan Murjani III, Tanjung Redeb, sekira pukul 09.00 Wita, Sabtu (20/4) kemarin.

Ia diduga meninggal karena kelelahan usai melaksanakan pengamanan pemilu. Diketahui, pada pelaksanaan pemilu, Rabu (17/4) lalu, Ipda Totok bertugas mengamankan TPS di empat lokasi. Yakni TPS 2, TPS 3, TPS 16, dan TPS 17 yang berada di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bedungun, Tanjung Redeb. Ipda Totok mengawal proses pemungutan dan perhitungan suara sampai Kamis (18/4). 

Pada Jumat (19/4), ia melaksanakan pengamanan di PPK Tanjung Redeb, dan baru pulang pada Sabtu (20/4) sekira pukul 05.00 Wita. Kapolres Berau AKBP Pramuja Sigit Wahono yang dikonfirmasi media ini menuturkan, pada Sabtu (20/4) kemarin, anggota Polres  Berau menghubungi almarhum untuk menanyakan keadaannya. Namun saat itu tidak ada respons. Anggota pun melakukan pengecekan di kontrakannya. Saat itu menemukan Ipda Totok dalam keadaan sudah meninggal.

“Almarhum diduga kelelahan usai bertugas. Saat ditemukan, posisi Almarhum tertelungkup. Saat diperiksa, sudah meninggal. Kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum. Almarhum ini baru pulang PAM pukul 05.00 Wita (Sabtu pagi). Jenazah dikebumikan Sabtu di Perkuburan Muslimin Jalan Pemuda, Tanjung Redeb,” jelas Sigit , Sabtu (20/4). (idr/yat/har)

Berita Terkait