Perjuangan Berat agar Semua Bisa Ikut Pesta Demokrasi

Perjuangan Berat agar Semua Bisa Ikut Pesta Demokrasi

  Rabu, 17 April 2019 09:18
PIAWAI: Porter atau pengangkut barang, meniti jalan setapak sambil memanggul logistik Pemilu Serentak 2019 menuju Desa Aing Bantai dan Desa Juhu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Minggu (14/4) siang. WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Berita Terkait

Menurunkan Surat Suara Berkejaran dengan Kabut 

Ada banyak surat suara –yang dicoblos hari ini– yang harus diantar dengan helikopter, kuda, speedboat, atau berjalan kaki seharian. Sebagian pengantar harus bermalam di hutan atau memanggulnya sembari membawa gula, garam, dan rokok. 

-----

DI tengah kebun karet, jip itu terengah-engah. Sampai akhirnya mogok. Untuk kali kesekian. Tak kuasa melawan jalan yang memang demikian berat. Berlumpur. Naik turun.

Padahal, barang yang diangkut jip tersebut kemarin (16/4) demikian penting. Surat suara pemilihan umum (pemilu) untuk tempat pemungutan suara (TPS) di Dusun Curahdami, Desa/Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Jadi, harus sampai hari itu juga. Sebab, hari ini (17/4) coblosan. 

Hari sudah sedemikian siang. Tak terlalu banyak waktu tersisa sebelum gelap menyergap. Yang tentunya bakal membuat perjalanan kian berat. 

Untunglah, di dalam rombongan pengantar itu ada mobil jenis double cabin milik Polsek Sukorambi. Ditariklah satu di antara dua jip yang digunakan untuk mengangkut kertas suara tersebut. ”Kami harus pakai jip karena truk juga tidak bisa menuju lokasi dua TPS,” jelas AKP Ribut Budiono, Kapolsek Sukorambi yang ikut mengawal, kemarin.

Kisah-kisah serupa bertebaran di segenap penjuru tanah air. Tentang beratnya perjuangan mendistribusikan surat suara agar seluruh pemilik hak suara, di mana pun berada, bisa ikut menikmati pesta demokrasi hari ini. 

Dan itu baru di Jember, wilayah di Jawa, pulau yang kondisi infrastrukturnya secara umum paling bagus di tanah air. Bisa dibayangkan tingkat kesulitan distribusi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, apalagi Papua. 

Untuk mencapai Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Timur harus menggunakan jalur udara. Sebab, kondisi geografis sangat sulit. ”Pengiriman semua logistik menggunakan helikopter milik Kodam VI/Mulawarman,” kata Sekretaris KPU Mahulu Ngadino.

Kabupaten Mahulu baru berusia tujuh tahun. Hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat. Jumlah TPS di sana 115 untuk melayani 25.007 pemilik hak suara. Dari Ujoh Bilang, ibu kota kabupaten, perjuangan berikutnya mendistribusikan logistik itu ke berbagai kecamatan dan kampung dilakukan. Ke Kecamatan Long Hubung dan Laham, misalnya, petugas harus menyusuri sungai dengan menggunakan speedboat. 

Daerah tersulit, kata Ngadino, adalah Kampung Noha Buan di Kecamatan Laham. ”Jika air surut terpaksa menggunakan jalur darat. Lebih cepat sekitar dua jam daripada lewat jalur laut. Tapi, repotnya kalau hujan karena jalan tanah jadi sulit dilintasi kendaraan,” terangnya.

Tantangan yang tak kalah berat harus dihadapi KPU Kabupaten Jayawijaya, Papua. Khususnya saat mengirim surat suara ke Distrik Trikora. Tak ada jalan darat atau sungai dari Wamena, ibu kota kabupaten, ke Distrik Trikora. Harus lewat udara, persisnya helikopter. Tapi, itu pun tidak bisa sembarang waktu. Harus pagi, saat matahari mulai bersinar terang. 

Itu juga masih diikuti catatan lainnya: mesti bergegas dalam menurunkan logistik. Sebab, menjelang siang, langit di sekitar wilayah Distrik Trikora mulai ditutupi kabut. Dan itu jelas berbahaya bagi penerbangan. 

Itu pun Jayawijaya masih terbilang ”beruntung”. Di Yalimo, kabupaten tetangga, dari lima distrik yang ada, tiga di antaranya harus dijangkau dengan pesawat berbadan kecil. 

Selain jalur udara, ada beberapa lokasi yang pendistribusian logistiknya harus menggunakan longboat. ”Kendala lainnya, ada kampung-kampung yang untuk menjangkaunya kita harus berjalan kaki selama satu hari,” ungkap Ketua KPU Yalimo Yehemia Walianggen kepada Cenderawasih Pos (Jaringan Pontianak Post). 

Otomatis petugas pembawa logistik harus siap bermalam di tengah hutan untuk mencapai kampung-kampung yang dituju. ”Sebab, untuk menjangkau kampung-kampung tersebut, harus melewati beberapa gunung,” bebernya.

Di Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, ada tiga TPS yang juga harus dijangkau dengan berjalan kaki. Menerobos hutan, naik turun bukit, hingga menyeberangi sungai. 

Dua dia antara tiga TPS itu berada di Desa Aing Bantai. Satunya lagi di Desa Juhu. Keduanya masuk wilayah Kecamatan Batang Alai Timur (BAT). Di kecamatan tersebut daftar pemilih tetap (DPT) berjumlah 5.188 pemilih. Terbagi di 28 TPS yang tersebar di 11 desa. 

Tugas pembawa surat suara ke tiga TPS terpencil itu pun dipercayakan kepada warga dua desa tersebut. Minggu (14/4) di dekat kantor camat BAT, penulis berkesempatan menemui 15 warga dua desa itu saat tengah asyik mengepak barang bawaan mereka. 

Ke-15 warga berasal dari dua desa berbeda. Lima orang berasal dari Desa Juhu dan sepuluh warga lainnya dari Desa Aing Bantai. Dikawal delapan personel Polri, mereka masing-masing bertugas memanggul kotak beserta bilik suara yang merupakan logistik untuk keperluan Pemilu Serentak 2019. ”Sudah tiga kali bahambin,” ujar Muhin. Maksudnya, dia sudah tiga kali jadi porter. 

Muhin adalah warga Desa Aing Bantai dan satu-satunya porter perempuan. Tidak hanya membawa logistik pemilu, nenek 12 cucu itu juga memanggul berbagai kebutuhan pokok. Mulai garam, gula, rokok, hingga keperluan rumah lainnya.

Warga Desa Aing Bantai dan Desa Juhu biasanya turun ke pasar atau kawasan perkotaan sekali atau dua kali dalam sebulan. Itu pun sekadar menjual hasil alam, misalnya kayu manis, atau membeli kebutuhan untuk di rumah. ”Bila turun atau naik, kami terbiasa memanggul beban berat. Bisa lima sampai 10 kilogram,” jelas Ijud, porter lainnya yang juga menantu Muhin. 

Dari pusat kecamatan, masyarakat awam atau para pendaki biasanya butuh dua hari untuk sampai ke Juhu. Tapi, para porter tersebut hanya butuh waktu paling lama 12 jam.  Untuk menghindari kerusakan pada logistik pemilu, khususnya kotak suara, petugas memasukkannya ke dalam plastik warna hitam berukuran besar. Semua itu dilakukan untuk menghindari kerusakan, khususnya yang disebabkan air hujan.

Untuk memudahkan membawanya, logistik dimodifikasi dengan menambahkan beberapa tali yang terbuat dari akar atau kain. Untuk sekadar menjerat hingga menjadikan layaknya tas ransel berukuran besar. Bedanya dari tas ransel lainnya, ransel modifikasi itu tampak kaku karena bentuknya yang kotak.

Menurut Ijud, jika dibandingkan dengan kotak suara sebelumnya, kotak kali ini memang sedikit lebih ringan. ”Tapi, kami jadi lebih khawatir karena bahannya yang gampang rusak. Otomatis bila berjalan juga perlu hati-hati dan itu sedikit menghambat perjalanan,” tambahnya. 

Di wilayah lain di Jember, petugas harus menyewa tiga ekor kuda untuk menuju TPS 20 yang ada di Desa Andangrejo, Kecamatan Tempurejo. Jalur ke kawasan tersebut melintasi Taman Nasional Meru Betiri.

”Kalau menggunakan kendaraan roda empat, butuh waktu dua jam. Tapi, kalau menggunakan kuda, hanya butuh waktu sekitar 45 menit dengan jarak tempuh sekitar 5 kilometer,” ujar Kapolsek Tempurejo AKP Suhartanto yang ikut mengawal distribusi logistik pemilu. 

Dengan segala kerumitan itu, toh tetap saja tak ada jaminan angka kehadiran bakal 100 persen di TPS. Misalnya di TPS 37 dan 38 Dusun Curahdami, Jember. Tapi, Nur Fadli, ketua PPK Sukorambi, berusaha memaklumi. ”Mungkin karena rumah warga berjauhan. Jalannya juga naik turun,” katanya. (*/dq/rud/ak/rdh/dwi/k8/hdi/c9/ttg)

Berita Terkait