Peringatan Tragedi Trisakti

Peringatan Tragedi Trisakti

  Senin, 13 May 2019 11:07
PAHLAWAN REFORMASI: Mantan Aktivis '98 dan keluarga memanjatkan doa serta tabur bunga saat berziarah ke makam pahlawan reformasi di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu(12/5).

Berita Terkait

Cukup Darah Itu Tertumpah 21 Tahun Lalu

JAKARTA - Puluhan aktivis '98 memperingati tragedi Trisakti 12 Mei 1998, dengan menggelar doa dan tabur bunga di makam empat mahasiswa Trisakti yang tewas ketika itu, kemarin. Tampak hadir politikus PDIP Adian Napitupulu, Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, dan Ketua DPP Partai Hanura Benny Ramdhani. 

Tabur bunga juga diikuti sejumlah mahasiswa Trisakti. Mereka umumnya mengenakan baju berwarna putih dan celana berwarna gelap. Politikus PDIP yang juga Sekjen Perhimpunan Nasional Aktivis '98 (Pena '98) Adian Napitupulu mengatakan, perjuangan para pahlawan reformasi tidak sia-sia. Perubahan besar terjadi di Indonesia setelah Orde Baru ditumbangkan.

"Ketika buruh berserikat, orang boleh berkumpul mengeluarkan pendapat, itu menunjukan meninggalnya mereka tidak sia-sia. Ketika lahir KPU, ada KPK, ada pemilu secara langsung berkali-kali, membuktikan meninggalnya mereka tidak sia-sia," ujar Adian di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (12/5).

Adian kemudian mengajak para aktivis '98 bergandengan tangan meneruskan perjuangan para pahlawan reformasi, agar Indonesia tidak kembali ke masa lalu. "Indonesia tidak boleh balik ke zaman di mana nyawa tidak ada harganya, zaman di mana orang tidak bisa bicara, kebebasan dibelenggu sedemikian rupa," ucapnya.

Adian juga mengingatkan bahwa Indonesia baru saja menyelesaikan pemungutan suara Pemilu 2019, untuk memastikan sekali lagi Indonesia tidak kembali ke masa lalu.

"Saya berharap peristiwa '98 tidak terulang di masa mendatang. Untuk alasan apapun, untuk mempertahankan kekuasaan atau untuk alasan merebut kekuasaan, jangan pernah korbankan rakyat. Bagi mereka yang mau mempertahankan kekuasaan, mau mengambil kekuasaan, jangan korbankan rakyat. Cukup darah itu tumpah sekian banyak 21 tahun lalu," kata Adian. (gir/jpnn)

Berita Terkait