Peringatan Dini Tsunami di Sumatera

Peringatan Dini Tsunami di Sumatera

  Kamis, 3 March 2016 08:03
Grafis Budi Kecik/Pontianak Post

Berita Terkait

JAKARTA – Kabar terkait kemungkinan gempa skala besar disertai tsunami bakal menimpa Pulau Sumatera sempat membuat Indonesia panik. Beruntung bahwa BMKG akhirnya mencabut peringatan dini tersebut. Pasalnya, karakteristik gempa dinilai bukan tipe yang memicu tsunami. Selain itu, jaraknya tertalu jauh untuk memberikan dampak ke pemukiman di Indonesia.

Deputi Bidang Geofisika (BMKG) Masturyono mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah mengeluarkan peringatan dini pertama pukul 19.49 WIB kemarin. Setelah pemeriksaan, pihaknya menemukan bahwa karakteristik gempa yang terjadi 700 kilometer dari pulau Sumatera itu bukan tipikal pemicu tsunami.

’’Awalnya, kami mencatat gempa dengan magnitude 8,3 SR (skala richter) dengan kedalaman 10 kilometer. Karena itu, kami keluarkan peringatan dini terkait kemungkinan tsunami meski jaraknya jauh. Namun, setelah kami lihat kemungkinan terjadinya tsunami atau dampak getaran sampai ke Sumatera ternyata sangat kecil,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan, pergesaran lempeng yang menyebabkan gempa tersebut bergerak secara horizontal. Pergeseran biasa disebut strike slip itu sangat jarang menyebabkan gelombang Tsunami. Kemungkinan tersebut diperkecil dengan magnitude gempa yang rupanya 7,8 SR.

’’Jadi, prediksi tentang tsunami atau dampak gempa ke wilayah sangat kecil. Sesuai SOP, kami akan mencabut peringatan dini tersebut dua jam setelah rilis peringatan. Berarti 21.49 nanti,’’ ujarnya saat dihubungi kemarin malam (2/3)

Terkait gempa susulan, dia menyatakan bahwa gempa dengan skala besar seperti itu pasti disusul dengan gempa-gempa lain selama beberapa hari. Namun, skala gempa-gempa susulan tersebut biasanya lebih rendah dari gempa pertama. Karena itu, kemungkinan dampak dari gempa susulan justru lebih kecil. ’’Logikanya, jika gempa pertama saja tidak berdampak, pasti gempa susulan juga tidak berdampak. Karena jaraknya sangat jauh dari pulau berpenghuni,’’ terangnya.

Informasi peringatan dini tsunami BMKG direspon cepat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB segera meneruskan peringatan tersebut ke pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Beberapa sirine tsunami yang terdapat di daerah terancam terdampak langsung dibunyikan. Masyarakat pun segera merespon dengan naik ke Shelter atau mencari tempat lebih tinggi.

Menurut laporan yang diterima oleh BNPB, guncangan gempa dirasakan beragam di Sumatera Barat. Gempa dirasakn sedang di Padang dan ringan di Payakumbuh.Terkait korban jiwa dan besar kerusakan, hingga kini masih dilakukan pendataan. ”Dari hasil koordinasi tidak ada laporan tentang kerusakan. Korban jiwa juga tidak ada. Pendataan masih terus dilakukan,” tutur Kepala BNPB Willem Rampangilei saat dihubungi kemarin.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, gempa yang terjadi tidak membangkitkan tsunami besar. Sebab, mekanisme gempa yang terjadi adalah strike slip. Mirip gempa di barat daya Simeulue pada 11 April 2012. ”Tsunami besar biasanya kalau mekanismenya thrust,” ujarnya.

Dia melanjutkan, posko BNPB masih terus mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD. Dilaporkan bahwa kondisi di daratan Sumatera masih aman. Sedangkan, komunikasi dengam BPBD Mentawai masih terus dilakukan. ”Belum ada laporan korban jiwa, kerusakan dan informasi datangnya tsunami di pantai barat Sumatera mulai dari Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu dan Lampung,” jelasnya.

Sutopo menuturkan, peringatan tsunami dari BMKG ini didasarkan dari data tsunami buoy. Tsunami buoy adalah sebuah alat yang mendeteksi adanya gelombang yang berpotensi sebagai tsunami yang lewat di atasnya. Sampai saat ini, alat tersebut belum memberikan laporan adanya tsunami. Sayangnya, banyak buoy yang rusak dan tidak berfungsi. Sehingga tidak dapat mengetahui apakah potensi tsunami di lautan benar terjadi atau tidak. (bil/mia)

Berita Terkait