Perhatian Khusus Pada Stunting

Perhatian Khusus Pada Stunting

  Rabu, 13 March 2019 10:30
KALUNGKAN: Bupati Sintang, Jarot Winarno mengalungkan sebuah syal tenun ikat sebagai kenang-kenangan kedatangan Novel Gafur selaku Regional Manager wilayah Kalbar mewakili tim KP2S Nasional. HUMAS PEMKAB SINTANG

Berita Terkait

SINTANG-Pemerintah Kabupaten Sintang berupaya untuk meneakn angka stunting atau gizi kurang bagi anak. Untuk mewujudkan hal tersebut, sejumlah program baik dari pusat maupun daerah pun direalisasikan. Program-program yang ada pun perlu disinergikan, agara berjalan secara efektif.

Karena itulah digelar sosialisasi Strategi Nasional Konvergensi Percepatan dan Pencegahan Stunting (KP2S) di Kabupaten Sintang yang dilangsungkan di Aula Dinas Kesehatan Sintang, Selasa (12/3).  Henri Harahap mewakili Sekretaris Daerah selaku Ketua KP2S Kabupaten Sintang, menyampaikan ada beberapa program pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal yang ikut terlibat dalam KP2S. 

“Di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Program Pamsimas, yang melibatkan beberapa lembaga seperti Koalisi Peduli Anak Sintang, dan PKK,” kata dia.

Sosialisasi ini, jelas dia bertujuan agar tim pelaksana aksi Kabupaten menjadi paham dan mampu untuk melaksanakan tahapan aksi penanganan dan pencegahan stunting di Kabupaten Sintang. Sehingga apa yang sudah direncanakan sebemnya, dapat berjalan secara tepat dan efektif.

“Sosialisasi ini,dipaparkan secar langsung dari narasumber  tim KP2S pusat,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sintang Jarot Winarno, menilai stunting diakibatkan bukan karena kurang makan.  Bupati lulusan Kedokteran Universitas Indonesia itu menyebut ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab stunting.  Salah satunya, kata dia, adalah kesalahan di awal kehidupan seorang anak, yang mana kerap ditemui sang ibu melakukan kesalahan fatal dengan tidak memberikan ASI selama 6 bulan pertama. 

“kita ni baru berapa hari lahir anak dah di kasi madu, nanti baru umur sebulan dah di kasi pisang. Belum lagi faktor kurangnya penggunaan air bersih dan lingkungan rumah yang tidak bersih,” jelasnya.

Jaor juga sering menemukan , bayi yang masih di bawah enam bulan dalam pemberian MP-ASI (makanan pendamping ASI), kurang sesuai dengan aturan kesehatan. Pola MP-ASI yang salah ini, menurutnya menyebabkan usus anak menebal, sehingga penyerapan sari makanan menjadi kurang maksimal.

“Usus anak jadi tebal, yang harusnya usus bisa menyerap sari makanan, malah sibuk membunuh kuman yang masuk bersama makanan. Ditambah karena  air untuk mencuci dan masak belum higienis. Setelah itu, makanan bergizi masuk pun akan jadi sulit terserap,” terangnya.

Karena itu, dia menilai masih perlu dilakukan edukasi kepada masyarakta, melalui berbagai program yang dilakukan secara tepat dan masiv. Adanya sosialisasi ini, dia berharap agar elemen-elemen yang terkait dengan mengurusi permasalahan stunting ini, dapat saling bersinergi.

“Tujuannya adalah untuk menurunkan angka kemiskinan yang ada. Karena kemiskinan menjadi salah satu faktor yang juga menyebabkan angka stunting di masyarakat tinggi. Di Sintang saja saat ini angka stuntingnya mencapai 33 persen,” pungkasnya. (sti)

 

Berita Terkait