Perempuan di Pusaran Terorisme

Perempuan di Pusaran Terorisme

  Jumat, 15 March 2019 10:42
BAHAN BOM: Polisi meledakkan 300 kilogram bahan peledak yang diamankan dari rumah salah seorang terduga teroris di Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (14/3). ROMMY PA SARIBU / AFP

Berita Terkait

Siapkan Calon Istri Jadi ‘Pengantin’

JAKARTA –Aksi teror di Indonesia menunjukkan fenomena baru. Setelah teror bom Surabaya, ternyata aksi bom di Sibolga menguatkan kemungkinan bahwa perempuan mulai aktif dilibatkan dalam aksi teror. ”Khususnya untuk lone wolf,” kata Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, kemarin.

Hal tersebut dikuatkan dengan penangkapan seorang perempuan yang berinisial R. Dia diringkus di rumahnya di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Informasinya, R akan dinikahi Abu Hamzah sebagai istri kedua. Bila sudah mantap, R bakal dijadikan pengantin pengeboman.

Hal tersebut menjadi peringatan untuk semua pihak agar bisa memerangi terorisme bersama. Jangan sampai ada anggota keluarga yang terpapar terorisme. ”Terorisme itu musuh bangsa ini,” ujarnya. 

Sebelumnya, istri terduga teroris Abu Hamzah alias Husain yang berinisial S dan seorang anaknya yang masih berusia dua tahun akhirnya tewas setelah meledakkan diri dengan bom pada Rabu dini hari (13/3) di Sibolga, Sumatera Utara, kemarin (13/3). Polisi sudah berjam-jam merayu S untuk menyerah. Namun, imbauan tersebut sama sekali tidak digubris. Polisi menduga S terpapar paham radikalisme dengan sangat kuat.

Sementara itu, penyandang dana dan perencana aksi teror di Sibolga, Sumatera Utara, akhirnya terungkap. Rabu (13/3) polisi meringkus jaringan Abu Hamzah yang bernama Agus Khoir alias Ameng dan Ogel. Dalam pemeriksaan, terungkap keduanya merupakan orang yang selama ini menggelontorkan duit untuk aksi teror. 

Dedi Prasetyo membeber peran Ameng dan Ogel kemarin. Peran keduanya diketahui setelah polisi memeriksa Abu Hamzah. Ameng memberikan uang Rp 15 juta secara kontan untuk modal membuat bom. Ameng dan Abu Hamzah juga kerap berkomunikasi melalui telepon untuk pembuatan bom. Mereka tidak bertemu secara langsung.

Bahkan, saat dibekuk, Ameng kedapatan menyimpan bom rompi, sepuluh bom pipa, dan satu kardus bahan peledak. ”Bahan peledak masih diperiksa di laboratorium forensik,” tutur Dedi. 

Terduga teroris selanjutnya adalah Ogel alias P. Dia diduga aktif membantu Abu Hamzah merancang aksi teror. Ada juga bahan peledak yang disimpan Ogel. ”Dari penangkapan beberapa hari ini, total 300 kilogram (kg) bahan peledak didapatkan. Bom yang telah dirakit berjumlah 15 buah,” terang Dedi. 

Polisi yakin bahwa modal Rp 15 juta tidak mungkin cukup untuk membeli banyak bom. Apalagi, dalam pengungkapan kasus tersebut, barang bukti yang ditemukan begitu banyak.  Karena itu, polisi curiga bahwa ada penyandang dana lain. ”Saat ini sedang kami kejar,” kata dia. 

Polisi juga terus menyisir bahan peledak yang disimpan para pelaku. Kemarin polisi terus mencarinya di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Sebab, ada informasi bahwa masih ada bom yang ditanam pelaku di sekitar TKP. 

Bila dalam waktu dekat rumah-rumah di sekitar kediaman Abu Hamzah bisa dinyatakan klir, warga bisa balik dan memperbaiki 20 hunian yang terdampak bom. ”Nanti dibantu pihak pemda,” terang mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut. 

Sementara itu, bahan peledak yang ditemukan Densus 88 di rumah Ameng serta jaringannya akhirnya dimusnahkan. Petugas meledakkannya di wilayah sepi penduduk, tepatnya Rindu Alam, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), kemarin. 

Bahan peledak yang disita, antara lain, potasium klorat, sulfur, dan arang. Bahan-bahan tersebut sudah dicampurkan oleh para terduga teroris untuk digunakan. Sebelum bahan-bahan itu diledakkan oleh tim jibom, petugas lebih dahulu menyiapkan tempat. Ekskavator dikerahkan untuk membuat tempat ditanamnya bom. Kemudian, bom diledakkan.

Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto beserta Wali Kota Sibolga Syarfi Hutauruk, Wakil Wali Kota Edy Polo Sitanggang, dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah Darwin Sitompul turut menyaksikan pemusnahan bom tersebut. Yang diledakkan pertama adalah bom dengan berat kurang dari 3 kg. Kapolda menuturkan, disposal selanjutnya perlu dilakukan secara khusus di tempat khusus. ”Masih kecil barang bukti yang diledakkan (tidak termasuk yang berada dalam tabung kemasan atau tabung kontainer, Red). Atas pertimbangan keamanan dari tim jibom yang melaksanakan disposal, apabila dilakukan disposal terhadap (bom, Red) yang (di tabung, Red) kontainer maupun yang tabung gas, dikhawatirkan membahayakan,” terang dia.

Kapolda mengungkapkan, bahan peledak yang ditemukan di rumah para terduga teroris tersebut merupakan bahan jadi. Artinya, untuk meledakkan bahan sebanyak 300 kg, diperlukan tempat yang lebih khusus lagi.

Agus mengatakan, terduga teroris yang ditangkap di wilayah Lampung juga mendapatkan bahan peledak dari terduga teroris di Sibolga. ”Mereka memang menyiapkan bahan itu di sini (Sibolga, Red). Kemudian, mungkin seperti yang ditangkap di Lampung, mengambil barang rakitan dari wilayah ini,” jelasnya. 

Sementara itu, di tempat lain, ditangkap pula seorang terduga teroris. Yakni, Riky Gustiadi alias Abu Riky. Dia dibekuk di Jalan Utama, Bagan Kota, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Kendati belum dipastikan keterkaitannya dengan kelompok Sibolga, Abu Riky memiliki rencana melakukan aksi teror di sejumlah kantor kepolisian. 

Ada sejumlah hal yang dia lakukan. Antara lain, mengunggah video ledakan di Senayan saat debat capres ke grup Channel Media Khalifah dan poster propaganda kelompok ISIS di Filipina. Dia juga mengarahkan anggota grup WA Panji Hitam untuk melakukan aksi teror dengan sasaran kepolisian. (idr/dh/c11/git)

Berita Terkait