Perbaiki Kualitas Beras

Perbaiki Kualitas Beras

  Rabu, 8 November 2017 10:06

Berita Terkait

PONTIANAK - Dinas Pertanian dan Tanaman Hortikultura Kalimantan Barat mendorong petani di provinsi ini agar memperbaiki kualitas biji beras sehingga tidak mudah patah setelah panen. Cara ini bisa membuat beras lokal mampu bersaing untuk diekspor ke luar, seperti Malaysia.  

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Heronimus Hero menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan kurang baiknya kualitas beras. Pertama pola umum yang sering dilakukan petani. Mereka tidak langsung merontokkan padi dari batang setelah panen. 

“Padi dibiarkan bertumpuk dulu di sawah. Hasilnya beras menjadi coklat dan gampang pecah,” jelas Hero di Pontianak, kemarin. 

“Kami sekarang terus mengedukasi petani agar  bisa meningkatkan kualitas berasnya,” lanjut dia.

Kemudian, lanjut dia, dari sumber daya manusianya. Membutuhkan orang yang tidak sedikit untuk merontokkan panen setelah panen. Setelah rontok padi kemudian di simpan petani di gudang penyimpangan. 

Pola seperti ini masih sering dilakukan karena tidak semua kabupaten memiliki mesin perontok padi secara otomatis dan cepat. Baru Kabupaten Kubu Raya dan Sambas yang memiliki teknologi pasca panen tersebut. 

Pemanfaatan teknologi itu bisa membuat hasil produksi lebih berkualitas. Karena itu, solusi yang ditawarkan petani yang lokasi sawahnya jauh dari mesin penggilingan padi combine rice harvester (CRH) diharapkan memiliki mesin pedalpressure agar proses perontokkan padi menjadi lebih cepat.

“Tentu kesulitan bagi petani untuk memiliki mesih CRH, karena harganya yang tinggi. ukuran kecil saja bisa Rp100 juta, sedangka yang besar berkisar Rp200 juta  - Rp300 juta. Kalau harga pedal pressureitu Rp10-15 juta,” ujar Hero. 

Hero menambahkan pemenuhan akan teknologi itu bisa dengan dukungan dari pemerintah daerah yang mengganggarkan sarana alat perontok yang harganya lebih murah dari CHR. Cara ini dilakukan dengan harapan beras dilirik konsumen karena menginginkan beras bermutu baik. 

Di sisi lain, Kalbar terus mengembangkan metode tanam padi ala Hazton. Dengan metode tanam ini, hasil produksi yang didapat petani lebih banyak. Begitu juga dengan hasil rendeman lebih baik dari beras konvensional mencapai 70 persen sehingga hasil giling beras lebih padat dan tidak mudah hancur menjadi menir. 

Sedangkan sawah yang belum menerapkan metode hazton  mendapatkan hasil rendeman rendah yaitu sebesar 61,5 persen. Untuk satu ton gabah hazton menjadi 700 kilogram beras. Sedangkan yang tidak hazton satu ton gabah hanya mendapatkan 620-650 kilogram beras setelah rendeman. 

“Rendeman itu menentukan kualitas beras. Semakin pada gabah, maka makin mudah digiling. Beras akan hancur jika gabah tidak padat,” jelas dia. (mse) 

Berita Terkait