Perampok Nangis Dikepung Brimob

Perampok Nangis Dikepung Brimob

  Minggu, 4 September 2016 09:15
Diringkus: Polisi menggiring satu dari dua pelaku yang melakukan perampokan rumah di kawasan Pondok Indah, Jakarta, Sabtu (3/9). Polisi berhasil meringkus dua pelaku perampokan rumah di Jalan Bukit Hijau IX No. 17 Pondok Indah. FOTOFOTO :M IFT AHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA – Hanya perlu 10 menit, satuan Brimob Polda Metro Jaya berhasil meringkus dua orang perampok di rumah Asep Sulaiman. Asep yang baru saja pensiun sebagai Senior Vice President of ExxonMobil Affiliate itu sempat disandera oleh dua orang pelaku di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan selama sembilan jam. Aksi penangkapan kedua pelaku yang berinisial AJ dan S itu memang dramatis. Sejak pukul 11.00, polisi sudah memasang police line sejauh 50 meter dari rumah yang berada di Jalan Bumi Hijau IX tersebut. Satuan Brimob Polda Metro Jaya kemudian tiba dan sempat mengepung rumah bertingkat dua itu selama lebih dari dua jam.

Berbagai upaya persuasif terus dilakukan oleh polisi. Namun karena kedua pelaku tak kunjung menyerah, maka polisi kemudian mulai melakukan penangkapan. Layaknya film laga, Brimob dengan peralatan lengkap masuk ke dalam rumah. Terdengar suara pecahan kaca beberapa kali. Teriakan agar menyerah dan tangisan dari Euis, istri Asep, serta anak perempuannya membahana di wilayah yang biasanya senyap itu.

Setelah mengamankan dua orang, petugas akhirnya membawa keluar pelaku secara bergantian. Dengan tangan diborgol, kedua pelaku mengenakan kaos hitam dan sembari menunduk. Yang pertama pelaku bertubuh sedikit gemuk dan rambutnya dicat pirang. Sementara yang kedua, wajahnya terlihat ada memar. 

Ketua RW 013 Indra Roesman menyebut, sekitar pukul 08.00, Asep sempat memberikan kode dari kamarnya kepada polisi yang berjaga bahwa semua baik-baik saja. Namun menurut Indra saat itu, Asep juga seakan memberikan kode yakni matanya mengedip dan dia menyentuh dahinya dengan telunjuk seakan memberitahu bahwa ada senjata api. ’’Setelah pembantu keluar, baru polisi ramai datang,’’ ujarnya di tempat kejadian.

Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto yang datang ke rumah Asep menyebut bahwa kedua pelaku masuk ke rumah dengan mengancam pembantu. Pembantu tersebut diminta untuk mengetuk pintu Asep. ’’Asep kemudian curiga sebab pembantunya menggedor sambil menangis,’’ ujarnya.

Ternyata, salah seorang pelaku sempat mencoba untuk merusak jendela kamar Asep. Asep pun sempat membalas dengan memukul menggunakan tangga. Namun tak lama, karena ancaman dengan senjata api, Asep membuka pintu tersebut.

Pelaku kemudian meminta dompet, handphone, serta barang berharga milik istri Asep. Para pelaku kemudian kaget karena sejumlah polisi mulai datang. Dia kemudian menyuruh Asep untuk memberitahu polisi bahwa semua tidak apa-apa dan hanya cekcok rumah tangga biasa.

Namun entah tidak bisa keluar, para pelaku ternyata kelaparan. Mereka kemudian menyuruh Reni untuk membuat mi instan. Saat itulah dimanfaatkan oleh Reni untuk kabur dengan memanjat pagar setinggi dua meter tersebut. Kepada para petugas di luar, Reni akhirnya memberikan keterangan bahwa majikannya disandera oleh dua pelaku dengan senjata api. ’’Akhirnya anggota lebih banyak kami turunkan,’’ ujar mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Ketika para petugas Brimob sudah mengepung. Ternyata kedua pelaku sempat menangis ketakutan. Karena ketakutan itu, mereka kemudian mengancam Asep untuk menandatangani surat perjanjian. Surat itu berisi bahwa AJ dan S adalah dua orang keluarga mereka yang sedang berkunjung ke rumah Asep. ’’Karena di bawah tekanan senpi, korban terpaksa menandatangani surat tersebut,’’ terangnya.

Berdasar pemeriksaan sementara, kedua pelaku berasal dari Solo. Motifnya pun masih belum dipastikan. Sementara, lanjut dia, hanyalah pencurian dengan pemberatan semata. Namun dia menyebut masih akan diselidiki lebih lanjut. ’’Korban juga tidak mengenal pelaku,’’ ujarnya lagi.

Dari tangan tersangka berhasil diamankan senpi dengan jenis Walter PPK kaliber 32 mm. Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono menambahkan, selain senpi juga ditemukan tas ransel pelaku yang berisi tali tambang, pisau, jangkar, lakban, obeng, borgol dan jimat. Para pelaku sendiri mengenakan topi, sebo, jaket kulit, dan sarung tangan. 

Awi menambahkan, dari barang bukti terlihat bahwa para pelaku sudah merencanakan aksi tersebut.  sehingga membawa banyak cukup peralatan. Namun yang menarik, ada empat sebo yang ada di tangan pelaku. ’’Kami tidak tahu apakah memang ada kelompok lain sehingga sebo ada empat,’’ ujarnya tadi malam. 

Salah seorang pelaku juga ternyata sempat berencana untuk membuka pagar. Hal itu terlihat dari adanya komunikasi antara pelaku dengan pembantu yakni dengan menanyakan kunci pagar. ’’Ini nanti akan ditanyakan ke pelaku,’’ tambahnya.

Di dalam rumah, lanjut Awi, sempat ada perlawanan dari Asep. Perwira menengah dengan tiga melati di pundak itu menambahkan bahwa Asep sempat dipukul di bagian paha. Namun dari hasil olah TKP sementara, tidak ditemukan adanya bekas tembakan. Senjata pelaku juga masih utuh dengan tujuh peluru yang tersedia. ’’Memang belum ditembakkan,’’ ujar dia.

Awi juga membantah bahwa ada dugaan pelaku adalah mantan karyawan Asep. Sehingga pelaku kemudian merasa kesal dengan pelaku. Sebab tidak banyak yang tahu bahwa Asep baru saja pensiun sebagai salah satu petinggi di ExxonMobil. ’’Masih di dalami. Yang pasti Asep tidak mengenal pelaku,’’ terangnya.

Para pelaku dan korban sendiri saat ini masih berada di Mapolda Metro Jaya. Sementara hingga tadi malam, Asep masih berada di rumahnya ditemani Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto. (nug)

Berita Terkait