Penyebab Karir Mandek

Penyebab Karir Mandek

  Senin, 21 March 2016 10:01

Berita Terkait

Karir yang tak kunjung berkembang tentu menjadi problema tersendiri bagi seseorang. Lebih lagi ketika melihat rekan kerja terus mendapat promosi, hingga karirnya kian melesat. Tak jarang, banyak orang memilih berhenti kerja dan mengubah jalur karier yang dirintisnya. Namun, ini belum tentu menjamin karir yang baru ini akan jauh lebih baik. Tak ada salahnya introspeksi diri, dan berusaha memperbaikinya. 
Oleh : Marsita Riandini

Menekuni sebuah pekerjaan, tentu saja tak sekadar menyelesaikan tanggung jawab saja, setelah itu pulang. Ada banyak orang yang bekerja sungguh-sungguh demi pencapaian jenjang karir yang diinginkan. Lalu bagaiman jika ternyata karir mandek dan Anda tak juga naik jabatannya?

Menjawab For Her, Rika Indarti Yusni, M. Psi, Psikolog mengatakan bahwa dalam dunia kerja ada yang namanya pengembangan karir, tetapi ada pula karir yang mandek. “Pengembangan karir itu artinya ada peningkatan karir selama dia bekerja. Sebaliknya karir yang mandek itu tidak terjadi peningkatan hanya stagnan di situ-situ saja,” ucap Psikolog di Biro Konsultasi Persona ini. 

Ada berbagai alasan seseorang mengalami karir yang mandek. Bisa itu terjadi karena faktor internal individu itu sendiri, bisa pula adanya faktor eksternal. “Faktor internalnya, bisa karena seseorang tidak memiliki kualifikasi yang bisa memenuhi persyaratan untuk naik ke jenjang karir berikutnya.  Contohnya salah satu persyaratan harus lulus S2, sementara dia baru S1,” ujar dia. 

Sedangkan faktor eksternalnya, lanjut dia karena adanya pengelolaan sumber daya manusia dilingkungan kerjanya yang tidak transparan. “Istilahnya ada faktor x. Ini biasanya berkaitan dengan suka atau tidak suka,  atau faktor lainnya yang membuat dia tidak dipromosikan naik jabatan,” ungkapnya. 

Walaupun tidak dipromosikan, tetapi pindah lokasi kerja berkali-kali, masih lebih baik jika hanya menetap pada posisi yang sama bertahun-tahun. Rika menjelaskan, secara psikologi seseorang sebaiknya tidak menduduki jabatan yang sama dalam waktu tiga tahun. Walau bagaimana pun lanjutnya, akan ada titik jenuh yang dirasakan seseorang dalam pekerjaan yang digelutinya. “Akan stress, pekerjaan dirasa menjadi beban. Kalau sudah jenuh timbul fatique nantinya akan berpengaruh dalam kualitas pekerjaan,”papar dia. 

Karir yang mandek bisa pula terjadi karena tidak ada lagi jabatan yang bisa ia tempati. “Seseorang bisa saja naik pangkat, tetapi belum tentu naik jabatannya. Jadi tidak selamanya linear. Meskipun lumrahnya, kalau naik pangkat naik pula jabatannya. Sebab mungkin saja jabatan tersebut masih diduduki oleh orang lain. Atau memang persaingan menduduki jabatan tersebut banyak,” ulasnya. 

Akibat karir yang mandek bisa membuat seseorang mengalami demotivasi. Kinerjanya tidak lagi berkualitas, karena dia tidak bersemangat. “Kerjanya biasa-biasa atau standart-standart  saja, tidak ada prestasi yang ingin dikejar. Jenjang karir yang menjadi reward baginya untuk menunjukkan prestasi tidak bisa diraih,” kata Rika.  

Muncul kecemburuan sosial dalam dunia kerja karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki jabatan yang diinginkan. “Karena jenjang karirnya mandek, akhirnya dia hanya disitu-situ saja. Sementara teman lainnya jenjang karirnya terus meningkat. Akan menimbulkan kecemburuan sosial. Dia merasa diperlakukan tidak adil dan sebagainya,” ucapnya. 

Seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, maka dia akan menjadi trouble maker bagi perusahaan atau instansi tersebut. “Bisa saja apa yang dia rasakan, ia ceritakan kepada yang lainnya. Dia menjadikan dirinya sebagai contoh, meskipun sudah lama bekerja, tetap saja tidak mendapatkan kesempatan promosi, dan sebagainya yang mungkin saja bisa mempengaruhi rekan kerja yang lainnya,”pungkasnya. 

 

Berita Terkait