Pentingnya Menjaga Attitude

Pentingnya Menjaga Attitude

  Senin, 18 March 2019 09:13

Berita Terkait

Setiap karyawan tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, tetapi juga harus memiliki attitude yang baik. Attitude yang baik berperan penting dan berpengaruh pada tingkat keberhasilan seseorang. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Kesuksesan dapat diraih dengan mengasah tiga hal, yakni skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan), dan attitude (sikap). Skill dan knowledge merupakan komponen yang dapat dikembangkan dengan membaca, belajar, dan praktik. Tetapi, attitude adalah komponen penting dalam membentuk karakter diri. 

Attitude adalah sikap dan perilaku yang ditunjukan sehari-hari. Baik cara dari berbicara, bertindak, hingga memperlakukan orang lain. Attitude merupakan bawaan individu, yang terjadi akibat interaksi antara internal diri dan latar belakang lingkungan. 

Dengan attitude yang baik seorang cenderung lebih disukai oleh perusahaan. Hal ini sangat beralasan mengingat bahwa perusahaan menilai pembentukan dan penguasaan knowledge dan skill jauh lebih mudah dibandingkan dengan pembentukan karakter kepribadian atau attitude.

Attitude memiliki peran yang cukup besar dalam penilaian yang dilakukan oleh perusahaan. Tak dapat dipungkiri kemampuan teknis dalam pekerjaan penting, namun tanpa sikap yang baik tak ada alasan yang kuat bagi perusahaan untuk mempertahankan pekerjanya.

Psikolog Dewi Widiastuti Lubis mengatakan attitude sangat penting dimiliki karyawan, baik di instansi pemerintahan maupun swasta. Attitude tak hanya terlihat dari cara bersikap, tapi juga penampilan, sosialisasi, dan cara berbicara (komunikasi) dengan rekan dan pimpinan.

Attitude karyawan yang baik berpengaruh terhadap kesuksesan karyawan itu sendiri. Attitude yang tak baik bisa jadi konflik. Konflik yang ada tak hanya membuatnya kerap beradu argumen, tapi jadi tak disukai oleh pimpinan dan rekan kerja lainnya. 

"Promosi yang seharusnya ia terima berkat kerja kerasnya pun batal diberikan karena attitudenya yang kurang baik ini," ujarnya.

Kebanyakan attitude kurang baik ini dihadirkan oleh karyawan yang merasa dirinya pintar dan bisa diandalkan. Menurut Dewi, keberhasilan suatu perusahaan tak hanya didapatkan dari karyawan yang pintar. Tapi, juga karyawan yang memiliki attitude yang baik.

Biasanya karyawan dengan attitude yang kurang baik memiliki sedikit pengalaman atau beberapa diantaranya adalah para fresh graduate yang masih memiliki idealisme yang tinggi. Sehingga, ia merasa semua bisa dikerjakan secara sempurna. 

"Dan ingin menunjukan bahwa dirinya bisa mengerjakan apapun," tuturnya.

Attitude yang kurang baik juga terbentuk seiring dengan cepatnya ia mendapatkan posisi. Dimana pimpinan hanya melihat pintarnya saja, tapi tak melihat attitudenya. Karyawan yang terlalu cepat mendapatkan posisi kerap terkejut. Ia pun jadi tak perduli dengan orang di sekitarnya.

Ia menjadi sosok dominan dan ingin terlihat (menjadi center). Ia pun tak mau lagi bertanya pada rekan sekantornya, baik yang seumuran atau senior. Karyawan tersebut berubah menjadi pribadi yang lebih banyak mengambil keputusan sendiri. 

"Ia merasa dengan berlaku demikian, orang jadi beranggapan jika dirinya mampu," jelas Dewi.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan tak ada salahnya jika ia bertanya pada rekan. Mungkin saja ada yang tak sepintar dirinya, tapi justru memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dirinya. 

"Karena kesalahan yang dilakukan akan membuatnya justru terlihat bodoh," ucapnya. 

Dewi mengungkapkan attitude bisa saja diubah jika tipikal karyawan bisa dikritik dan dibarengi dengan motivasi dalam dirinya. Namun, attitude akan sulit diubah jika bawahan tipikal yang sulit dikritik. Ketika diberi saran, ia tak senang dan menganggap kritikan tersebut bentuk iri terhadap dirinya.

"Jika ia tak mengubah attitudenya ini, ia harus berbesar hati jika harus kehilangan pekerjaannya," pungkasnya.**

 

Berita Terkait