Pentingnya Mengetahui DAGUSIBU

Pentingnya Mengetahui DAGUSIBU

  Jumat, 1 February 2019 09:20

Berita Terkait

Seringkali masyarakat mendapatkan dan menggunakan obat tanpa resep dari dokter. Terkadang obat yang dibeli pun disimpan secara sembarangan, tanpa mempertimbangkan tempat dan suhu yang baik. Ketika obat kedaluwarsa, obat dibuang begitu saja ke dalam tong sampah tanpa mengetahui prosedur yang tepat. Padahal, masyarakat perlu mengetahui Dagusibu yang berkenaan dengan obat-obatan tersebut. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Obat adalah suatu bahan atau campuran bahan yang dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, serta menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. Obat akan diberikan dokter kepada pasien sesuai dengan diagnosa penyakit. Namun, obat yang bisa dibeli secara langsung tanpa menggunakan resep karena sudah biasa dengan salah satu obat. Atau, obat memang dapat dibeli secara bebas di apotek dan swalayan.

Ketika sudah merasa sembuh dari sakitnya dan masih ada obat yang tersisa, obat-obatan ini disimpan begitu saja selama beberapa bulan hingga tahunan. Hingga tiba waktu membersihkan rumah dan membuang obat begitu saja karena dianggap sudah eadaluwarsa. Membuang obat yang tak terpakai atau kedaluwarsa boleh-boleh saja. Namun, harus dilakukan dengan cara yang benar dan tak boleh hanya dibuang begitu saja di tempat sampah. 

Ketua Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG) Kalbar, Bary Azhari, S.Farm, Apt mengatakan penting bagi masyarakat untuk mengetahui mengenai Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang (DAGUSIBU). Slogan yang diperkenalkan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) ini bertujuan memberikan informasi ke masyarakat tentang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan cara yang benar. Apa dan bagaimana DAGUSIBU itu?

DAGUSIBU dimulai dengan dapatkan ‘DA’. Dapatkan memiliki arti dimana obat bisa diperoleh secara resmi dan legal. Salah satu tempat memperoleh obat-obatan adalah Apotek yang memiliki izin resmi. Apotek wajib menampilkan indentitas berupa apoteker pengelola apotek (APA) beserta nomor surat izin praktek apoteker (SIPA). Saat membeli obat masyarakat wajib memperhatikan penggolongan obat dan informasi yang tertera pada brosur serta perhatikan tanggal kedaluwarsa obat.

“Jika masyarakat kurang mengerti yang tertulis pada informasi obat, anda bisa menanyakan langsung dengan apoteker yang ada di apotek,” ujarnya.

Setelah itu gunakan ‘GU’. Artinya, gunakan obat sesuai dengan petunjuk aturan yang terdapat dalam kemasan obat. Masyarakat harus memperhatikan tentang cara pemakaian, waktu pemakaian, dan lama pemakaian. Untuk cara pemakaian, masyarakat bisa menanyakan apakah obat dikonsumsi sebelum makan, sesudah makan, bersamaan makan, atau saat perut kosong. Kemudian apakah obat tersebut dikonsumsi dengan cara ditelan, dikunyah, dihisap, atau diletakkan di bawah lidah.

“Atau, apakah obat tersebut boleh atau tak boleh dioles pada luka terbuka, diteteskan (misal obat tetes mata seharusnya diteteskan ke bagian bawah lipatan mata, bukan permukaan mata), atau harus dimasukkan lewat dubur,” tutur Bary.

Waktu pemakaian berkaitan dengan jadwal mengonsumsi obat. Masyarakat harus tahu apakah obat dikonsumsi pada pagi, siang, atau malam hari. Apoteker Pendamping di Klinik Kimia Farma Rosmalina menuturkan beberapa obat ada yang memberi efek mengantuk. Jika obat memiliki efek mengantuk, sebaiknya obat dikonsumsi malam hari dan pasien yang meminum tak sedang mengoperasikan mesin. Beberapa obat juga ada yang memberi efek diuretik (sering buang air kecil).

“Apabila obat mengandung atau memberi efek diuretik (sering buang air kecil), sebaiknya tak dikonsumsi pada malam hari,” sarannya.

Masyarakat wajib mengetahui lama pemakaian obat. Ada obat yang harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik atau antivirus. Obat yang hanya dikonsumsi saat keluhan muncul. Ada juga obat yang tak boleh dikonsumsi jangka panjang karena dapat menyebabkan efek pembengkakan, khususnya pada wajah. Serta, ada juga obat yang harus dikonsumsi seumur hidup, misalnya obat khusus penderita diabetes. 

Setelah itu berlanjut pada simpan ‘SI’. Masyarakat wajib menyimpan obat dengan benar. Masyarakat harus mengetahui dan membaca aturan penyimpanan obat pada kemasana. Apakah obat harus disimpan pada suhu kamar, disimpan di suhu dingin, atau ada aturan penyimpanan lain. Dengan begitu, masyarakat tak salah mengartikan penyimpanan obat. Karena salah dalam proses penyimpanan akan berdampak pada kualitas obat.

Dan, yang terakhir adalah buang ‘BU’. Masyarakat wajib membuang obat dengan benar. Masyarakat juga harus mengetahui ciri-ciri obat jika sudah kedaluwarsa. Bary menjelaskan obat kedaluwarsa bisa dilihat dari tanggal yang tertera di bungkus obat. Atau, bisa juga obat telah berubah warna, rasa, dan bau. Proses membuang obat juga harus didasarkan pada jenisnya. Jika dalam bentuk cair dan di dalam botol, masyarakat bisa membuang isian di dalamnya dan melepas label kemasan. 

“Untuk sediaan tablet atau kapsul, tablet dan kapsul tersebut dihancurkan terlebih dahulu, campur dengan tanah dan dibuang,” tutupnya. **

Berita Terkait