Pentingnya Edukasi Seks Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Seks Sejak Dini

  Rabu, 12 June 2019 10:56

Berita Terkait

Banyak orang tua merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks sejak dini. Padahal, penting dilakukan. Salah satunya untuk melindungi anak dari pelecehan seksual. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sangat penting bagi orang tua memberikan edukasi seksual pada buah hatinya. Ini bertujuan agar si kecil bisa mengenal dan menjaga tubuhnya sehingga terhindar dari kejahatan seksual. Menurut psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi, orang tua bisa memulainya dengan memberi anak pengetahuan mengenai tubuhnya sendiri. Nantinya anak tak hanya dapat menghargai tubuhnya sendiri, tapi juga menghargai tubuh orang lain. 

“Dengan demikain, orang tua bisa tenang melepas anak beraktivitas dan bersosialisasi di luar. Tentunya, tanpa pendampingan ketat lagi,” ujar Verty.

Edukasi seksual bisa dilakukan sejak anak baru lahir. Walaupun belum bisa berbicara, tetapi anak sudah paham tentang perlakuan orang lain terhadap tubuhnya. Bisa dimulai dari orang tua atau pengasuh dengan merawat dan menutupi organ intim anak dengan baik.

Jika anak tak mendapat edukasi seksual, rentan menjadi korban perundungan dan kejahatan seksual. Bahkan, jika terus menerus, anak bisa turut menjadi pelaku. Ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupannya. 

Menilik maraknya kejahatan seksual saat ini, Verty mengingatkan orang tua untuk memberikan edukasi seksual pada anak. 

“Jika tak dimulai dari keluarga, dikhawatirkan anak belajar dari orang lain yang malah rawan menimbulkan kejahatan,” katanya.

Saat ini gerakan edukasi seksual dilakukan secara masif termasuk dari media sosial maupun pihak sekolah. Namun, orang tua tak boleh lepas karena pelaku kejahatan lebih banyak terjadi di lingkungan rumah.

Pemilik Biro Psikologi Gaverta ini menyatakan bahwa memberikan pendidikan seks sejak dini tak tabu dilakukan. 

“Dimulai dari penyebutan alat kelamin secara tepat juga. Jangan sampai terlambat ketika terjadi kejahatan seksual baru menyesal,” terang Verty.

Orang tua bisa menggunakan bahasa biologis saat mengedukasi anak. Namun, disesuaikan dengan bahasa umum atau bahasa ibu di lingkungannya. Sebab, biasanya pelaku kejahatan seksual menggunakan istilah yang dijadikan permainan atau rahasia antara pelaku dan korban.

“Jangan sampai sudah kejadian. Jika sudah kejadian bisa menyebabkan trauma pada anak sepanjang hidupnya dan bisa berdampak terhadap orientasi seksual berikutnya,” pungkasnya. **

Berita Terkait